SURABAYAPAGI.com, Jakarta - Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono menduga adanya peran negara asing dalam polemik Pondok Pesantren Al-Zaytun. Hendropriyono mengatakan polemik Al Zaytun dibangun untuk membuat situasi tidak stabil di Indonesia.
"Ada (indikasi peran negara asing di polemik Al Zaytun). Kita ini lagi menghadapi isu Laut China Selatan. Karena merupakan suatu geostrategi dari negara adi kuasa yang sekarang lagi kedodoran dalam perang Eropa, antara Rusia dan Ukraina," kata Hendropriyono kepada detikcom di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Senin malam (10/7/2023).
Baca juga: Letkol Tituler Corbuizer Dampingi Menhan Sjafrie, Temui Hendropriyono
Masih Pendalaman BNPT
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengakui Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Zaytun yang dipimpin Panji Gumilang secara historis memiliki afiliasi dan keterkaitan dengan gerakan Negara Islam Indonesia (NII). Namun BNPT menjelaskan Ponpes Al-Zaytun ataupun NII tak dapat serta-merta dijerat pasal terorisme karena tak termasuk daftar terduga terorisme dan organisasi terorisme (DTTOT).
"Persoalannya adalah apakah sampai saat ini masih ada? Tentu ini masih dalam proses kajian dan pendalaman BNPT bersama dengan stakeholders terkait lainnya," kata Direktur Deradikalsisasi BNPT Ahmad Nurwakhid dalam keterangan tertulis, Sabtu (8/7/2023).
Diresmikan Presiden BJ Habibie
Menurut Hendropriyono, presiden BJ Habibie datang ke Al-Zaytun untuk meresmikan ponpes tersebut. Setelahnya, Hendropriyono mengaku tidak pernah mengetahui lagi bagaimana kelanjutan Al-Zaytun.
Hendropriyono menilai saat itu, BJ Habibie tidak mungkin sembarang meresmikan ponpes. Dia pun lantas mengimbau masyarakat untuk berhati-hati dalam menyikapi polemik Al Zaytun.
Sampai kemudian, pada masa pemerintahan Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri, Hendropriyono diminta untuk menggantikan Ketum PDIP itu menghadiri peletakkan batu pertama untuk gedung pembelajaran. Saat itu Hendropriyono menjabat sebagai Kepala BIN.
"Saya pun pergi ke sana lewat darat, untuk meletakkan batu pertama gedung pembelajaran yang namanya gedung Doktor Ir Soekarno, saat itu pertama kali saya kenalan dengan Panji Gumilang," ucapnya.
Ponpes Cukup Modern
Dia melihat ponpes Al-Zaytun saat itu merupakan ponpes yang cukup modern. Menurutnya, secara ideologi politik, tidak ada masalah dengan ponpes Al-Zaytun.
"Secara politik saya kira tidak ada masalah waktu itu, karena Presiden RI yang meresmikan, artinya kalau dalam perkembangannya itu berbeda, tentu saja pengetahuan saya ini pengetahuan zaman saya, tahun 1999 pertama kali saya dengar nama Al-Zaytun. Dan 2001 apa 2002 saya lupa itu kedua kalinya saya tau Al-Zaytun," jelasnya.
Tak Miliki Kekuatan
Hendropriyono, merasa aneh jika dikaitkan dengan polemik Al Zaytun saat ini. Sebab, dia merasa tidak memiliki kekuatan membekingi Panji Gumilang.
Baca juga: Gandeng BNPT dan Kontras, Kampus UBS PPNI Mojokerto Gelar Kuliah Pakar Tolak Premanisme
"Emang kekuatan saya apa ya? Kalau saya masih aktif punya kekuatan, ditakutin. Saya rasa ini karena waktu itu saya Kepala BIN, buat seorang intelijen musuhnya musuh adalah kawan saya dan terus terang musuh Republik Indonesia, NII (Negara Islam Indonesia)" jelasnya.
"Kalau masih ada orang ingin kembalinya NII, ya mimpi. Untuk menyadarkan orang bermimpi kan kita harus menggunakan juga bantuan yang sudah sadar. Yang masih tidur, yang sudah sadar waktu itu Panji Gumilang, dari sisi ideologi dan politik sudah dinyatakan clear oleh Presiden Indonesia BJ Habibie dengan meresmikan ke sana," tambahnya.
Analisis Hendropriyono
Menurutnya, negara adikuasa ingin menggeser perang Eropa ke Asia. Namun, kata dia, perang yang dimaksud menggunakan artificial intelligence atau kecerdasan buatan.
"Jadi analisa politik hampir semua ahli-ahli dunia bilang bahwa seluruh negara barat kepengen geopolitik Eropa digeser ke Asia. Isunya digeser ke Asia kemana? Secara geografi adalah Asia Tenggara. Makanya namanya geostarategi dari para belligerent, dari para negara adikuasa adalah menyalanya bara di Laut China Selatan," jelas dia.
Hendropriyono menuturkan negara lain saat ini sudah bersiap-siap menghadapi perang. Salah satunya Singapura dengan memiliki 4 angkatan.
"Dan di situ mereka siap-siap semua. Seperti saya sampaikan tadi, 4 angkatan sekarang sudah (ada), angkatan laut, udara darat, siber, dan siber itu nanti yang akan merupakan battle field, medan tempur, perang psikologi itu tinggal masuk," ungkapnya.
Baca juga: Ponpes Al Zaytun, Kian Ruwet
Indonesia Diadu Domba
"Jadi yang Al Zaytun pro, Al Zaytun kontra, makin luas. NII (Negara Islam Indonesia) pro, NII anti, PKI pro, terus berkembang barang yang tidak ada. Itu diadu," sambungnya.
Menurutnya, bahkan bangsa ini, kini telah diadu domba. Dia menyebut negara Indonesia merupakan negara yang dituduh mendukung China oleh negara adikuasa.
"Jadi kemungkinan ini bisa dimanfaatkan karena perang. Kita negeri yang dituduh oleh negara adikuasa bahwa pro China, padahal musuh dia China, jadi sasaran nggak kita? Itu aja, jadi sasaran juga," tambahnya.
Hendropriyono mengatakan perang menggunakan artificial intelligence ini akan membuat masyarakat sulit membedakan hoax. Dia pun lantas mengajak masyarakat berhati-hati dan menyiapkan diri untuk perang tersebut.
"Tentara siber akan melepas melalui hoax simulatra yang dilepas oleh kecerdasan buatan, caranya lebih cerdas puluhan kali dari otak manusia. Dan kita akan kebingungan, sekarang aja kita udah bingung, ada hoax kita cek, ini hoax bukan, lama-lama nggak bisa cek lagi. Karena yang lain udah artificiali intelligence," ungkap dia.
"Kita kalau sekarang bisa cek kan ya, eh ini hoax, kita cek ke sini, ini hoax. Nantinya AI ini, kamu cek di situ betul, berarti ini berita betul, padahal nggak betul. Ini kita mestinya kita harus siap-siap ke situ, bukan ribut soal beginian," imbuhnya. n de/jk/erc/rmc
Editor : Desy Ayu