SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Kawasan savana atau padang rumput di kawasan Gunung Bromo di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur yang sempat terbakar beberapa waktu lalu akibat suar/flare yang dipakai dalam suatu acara pemotretan, kini mulai menghijau dan ditumbuhi vegetasi melalui proses suksesi alam.
“Sebagian besar sudah ditumbuhi dengan vegetasi rumput dan pakis yang dominan,” kata Hendra Ketua Tim Data Evaluasi Kehumasan Balai Besar TNBTS, Senin (16/10/2023).
Baca juga: Heboh! Warga Temukan Ular Sanca 3 Meter Berkeliaran di Makam Kota Pasuruan
Meskipun mayoritas kawasan yang terdampak kebakaran sudah ditumbuhi vegetasi, masih ada beberapa titik yang memiliki vegetasi campuran terlihat hitam bekas sisa kebakaran hutan dan lahan.
"Sebagian besar sudah ditumbuhi dengan vegetasi rumput dan pakis yang dominan," katanya,
Menurutnya, langkah penanaman pohon di kawasan tersebut, akan dilakukan dalam waktu dekat. Pihak Balai Besar TNBTS masih menyiapkan sejumlah kelengkapan seperti bibit pohon yang menjadi vegetasi endemik di kawasan itu.
“Hanya pada lokasi tertentu yang memiliki vegetasi campuran seperti pohon cemara dan akasia, masih terlihat sisa kayu hitam bekas kebakaran, seperti di Blok Bantengan. Untuk penanaman kembali, akan dilakukan dalam waktu dekat,” katanya.
Baca juga: Pasar Burung Srijaya di Kota Madiun Terbakar: 4 Kios dan Puluhan Burung Ludes Tak Tersisa
Sebagai informasi, kawasan taman nasional tersebut ditutup pada 6-18 September 2023 akibat peristiwa kebakaran hutan dan lahan itu. Proses pemadaman sendiri dilakukan pada 6-14 September 2023, dengan mengerahkan ratusan personel gabungan.
Sementara itu, kawasan TNBTS saat kembali dibuka usai terjadi peristiwa kebakaran hutan, kini kunjungan wisatawan sudah mulai mengalami peningkatan.
“Terkait kunjungan ke kawasan Bromo, sudah mulai banyak. Kurang lebih 80-90 persen dari total kuota (2.700 pengunjung) yang ditetapkan per hari,” katanya.
Baca juga: Dalam Waktu Singkat, Pelaku Pelemparan Batu KA Jayakarta Berhasil Dibekuk Petugas
Tak hanya itu, kerugian akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dipicu penggunaan suar atau flare di Balai Besar TNBTS mencapai Rp8,3 miliar dengan total area terdampak seluas 989 hektare. Akibat kebakaran itu, kawasan tersebut ditutup pada 6-18 September 2023.
Nilai kerugian tersebut mencakup biaya pemadaman darat kurang lebih Rp216 juta dan kerugian akibat hilangnya habitat dengan pendekatan biaya pemulihan ekosistem sebesar Rp3,26 miliar dan kerugian akibat hilangnya jasa rekreasi hingga 14 September 2023, Rp4,87 miliar. sb-01/dsy
Editor : Desy Ayu