Kementan Pastikan Produksi Beras Surplus di Atas Kebutuhan Konsumsi

surabayapagi.com

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) Suwandi mengatakan produksi beras tahun 2024 dipastikan surplus di atas kebutuhan konsumsi 30,90 juta ton, karena dilakukan gerakan percepatan tanam.

"Kita menargetkan produksi pangan lebih dekat dengan waktu tiga bulan bisa dipanen," katanya saat meninjau pompanisasi Kelompok Tani Sukabungah Kabupaten Lebak, Senin (20/5).

Baca juga: Perkuat Cadangan Pangan, Bulog Madura Ajukan Tambahan Stok 300 Ton

Kebutuhan konsumsi masyarakat Indonesia 30.90 juta ton dan dipastikan tahun 2024 bisa melebihi di atas kebutuhan konsumsi itu.

Untuk mencapai surplus pangan itu ditargetkan selama tiga bulan panen, karena kebijakan Menteri Pertanian Amran untuk memenuhi ketersediaan beras nasional.

Karena itu, mereka petani dengan jangka pendek jarak 14 hari dari panen ke tanam bisa dilakukan di sentra - sentra produksi pangan, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah,Jawa Barat, termasuk Banten.

Bahkan, daerah itu masuk kategori peringkat produsen padi terbesar di Indonesia.

Baca juga: Berkontribusi Paling Besar, Stok Beras di Ponorogo Aman hingga April 2026

Selama ini, tren gerakan percepatan tanam tahun ke tahun meningkat dan pada Mei 2024 bisa tercapai target tanam 1,2 juta sampai 1,4 juta dan panen pada bulan Agustus mendatang.

Kementan menargetkan tiga bulan panen dan 14 hari melakukan percepatan tanam dan terbukti kelompok tani Sukabungah seluas 150 hektare dengan IP 100 yang mengandalkan musim hujan, namun melalui pompanisasi diharapkan bisa tiga kali tanam.

Menurut dia, mereka petani bisa menggunakan benih varietas unggul dengan usia 80-90 hari setelah tanam bisa dipanen di antaranya benih Buana, Pajajaran, Infari 13 dan Infari 19 juga banyak lagi.

Baca juga: Tak Langka, Harga Beras Premium di Jombang Naik Rp1.000 per Kilo

Panen tiga bulan itu,kata dia, mereka petani kembali melaksanakan gerakan tanam dengan didukung pompanisasi untuk memenuhi ketersediaan air.

"Kami bangga petani Sukabungah ini secara mandiri dengan biaya pompa Rp35 juta dengan kedalaman 60 meter bisa mengaliri lima hektare," katanya menjelaskan. 

Editor : Moch Ilham

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru