SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Wakil Menteri Kesehatan RI (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono menyebut kasus pelecehan seksual yang dilakukan dokter kepada pasien telah menyalahi kode etik dan etika profesi.
Buntut kasus tersebut, Kementerian Kesehatan RI akan menerapkan tes kepribadian menggunakan metode Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI).
Baca juga: Atlet Berprestasi, Bonus dan Jaminan Hari Tuanya
Menurut Wamenkes, Kemenkes bisa menolak calon dokter yang gagal melewati tes tersebut. Hal ini bertujuan untuk menyaring potensi gangguan psikologis yang tidak sesuai dengan karakter profesi medis.
"Kalau hasilnya menunjukkan ada kelainan psikologis dan tidak cocok untuk profesi dokter, maka akan kami tolak, walaupun nilai akademiknya bagus," tegas Wamenkes, dikutip dari laman Kemenkes RI, Sabtu (19/4/2025).
Selain itu, ia mengatakan sistem pendidikan dokter harus diperkuat dengan memperdalam materi soal etika yang lebih baik.
Menurutnya, berkaca dari sejumlah peristiwa dugaan pelecehan seksual yang dilakukan dokter terhadap pasien, Kemenkes akan mengawasi dan membina para dokter bersama Konsil Kesehatan Indonesia (KKI), organisasi profesi, serta institusi pendidikan kedokteran, khususnya dalam penguatan pendidikan etika medis. Double pembinaan. Ada kepribadian dan etika medis.
***
UU nomor 20 tahun 2013 yang mengatur tentang Pendidikan Kedokteran bertujuan menghasilkan dokter berbudi luhur, bermartabat, bermutu, dan berkompeten.
Maklum, seorang dokter mempunyai peran sentral dalam memberikan pelayanan kesehatan. Maka dalam melaksanakan tugas keprofesiannya, seorang dokter harus mempunyai karakter 3 K, yakni Kesantunan, Kesejawatan, dan Kebersamaan
demi menjunjung profesi kedokteran.
Ini peringatan Menteri Kesehatan RI Nila Moeloek, pada Musyawarah Nasional II Forum Ikatan Alumni Kedokteran Seluruh Indonesia (FIAKSI) di Jakarta, Sabtu (15/12/2013). Kini tahun 2025, ada sedikitnya lima dokter terjerat kasus pidana pelecehan seksual.
Dua tahun ini, kasus pelecehan seksual sepertinya tidak pernah ada hentinya diberitakan di media. Mulai dari kasus di Bandung, Jakarta hingga Malang. Akibat pelecehan seksual dokter, tidak sedikit korban mengalami gangguan mental. Salah satu gangguan tersebut adalah gangguan kepribadian ambang atau yang dikenal dengan borderline personality disorder (BPD).
Kepribadian ambang merupakan gangguan mental yang ditandai dengan suasana hati serta citra diri yang senantiasa berubah-ubah, dan kadang disertai dengan perilaku yang impulsif. Dalam dunia medik, seseorang yang mengalami BPD memiliki cara pikir, cara pandang, serta perasaan yang berbeda dibanding orang lain.
Fenomena apa dokter lecehkan pasien?
Menkes dr. Nila pernah menjelaskan karakter Kesantunan dokter yaitu memiliki kemampuan komunikasi yang baik terhadap pasien, sejawat, dan tenaga kesehatan lainnya yang menjadi mitra kerja.
Pada karakter ini dokter juga harus bertutur kata baik, sikap, dan bahasa tubuh yang baik. Nah, halo calon dokter dan dokter yang sedang mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS)
Mengutip dari laman careerexplorer.com, ada ciri-ciri kepribadian dokter yang mendapat skor tinggi yaitu ketelitian, dapat diandalkan, dan punya perencanakan segala sesuatunya terlebih dahulu .
Mereka juga cenderung memiliki skor tinggi dalam hal tanggung jawab sosial. Hal ini menunjukkan bahwa mereka menginginkan hasil yang adil dan memiliki perhatian umum terhadap orang lain.
Baca juga: MBG, Siapa yang Berani Kritik
Maka itu profesi kedokteran sering dipandu MBTI, singkatan dari Myers--Briggs Type Indicator.
MBTI adalah kuesioner yang diisi sendiri untuk mengetahui preferensi kita dalam melihat dunia dan mengambil keputusan.
Beberapa tahun terakhir, MBTI itu sering disebut dimana-dimana. Walaupun penggunaan MBTI itu masih menjadi perbincangan kontroversial terutama di kalangan psikologis dan para ahli lain.
MBTI, bagi orang awam tidak diambil terlalu serius.
Sebagai jurnalis, tidak ada salahnya saya melihat MBTI sebagai salah satu referensi untuk melakukan penulisan. Termasuk untuk melihat apa saya cocok menjadi dokter atau tidak.
Dalam dunia kedokteran teman lulusan FK Unair bilang ada tes ESFJ tipe MBTI yang paling sesuai untuk menjadi dokter.
ESF singkatan dari Extraversion (E), Sensing (S), Feeling (F), dan Judging (J) .
ESFJ dikenal sebagai sosok yang berhati lembut, ramah, dan suka membantu orang lain, sering dijuluki "The Caregiver". Wah gak mudah ya. Makanya orang tua saya tidak menyekolahkan di fakultas Kedokteran.
Maklum, konon dokter cenderung fokus pada detail nyata. Selain, membuat keputusan berdasarkan perasaan, dan menyukai struktur serta keteraturan.
ESFJ juga menyukai interaksi sosial dan mudah bergaul dengan orang lain.
Baca juga: Menukil Gaya Kepemimpinan Otoriter Soeharto
ESFJ menggambarkan karakteristik umum dari tipe kepribadian dokter.
Setelah mempelajari mengenai berbagi jenis MBTI, saya secara pribadi melihat tipe ESFJ sebagai tipe MBTI yang paling sesuai untuk seorang dokter. Saya tak termasuk. Tapi saya tak pernah terlibat pelecehan seksual kayak kecenderungan beberapa dokter sekarang.
Walaupun seorang dokter juga perlu sifat intuition dalam menjalankan tugas terutama untuk melihat berbagai kemungkinan yang ada, data akhir yang perlu diambil sebagai pertimbangan haruslah informasi dan data yang nyata, bukan hanya sebatas asumsi.
Ketika berbicara tentang profesi kedokteran, saya tanya ke seorang Guru Besar Kedokteran Unair. Katanya, bukan hanya keterampilan medis yang penting, tetapi juga karakter dan etika yang kuat dari calon dokter. Ini adalah hal yang paling mendasar yang perlu dimiliki oleh setiap calon dokter.
Bagi orang tua yang mendambakan anaknya masuk ke fakultas kedokteran, memahami pentingnya etika dalam membangun karakter adalah langkah awal yang penting, kata Guru Besar itu.
Salah satu alasan utama mengapa etika begitu penting adalah karena hal ini menciptakan kepercayaan dari pasien. Ketika seorang dokter bertindak dengan integritas dan kepedulian, pasien merasa lebih nyaman dan yakin dalam perawatan mereka.
Sejumlah dokter yang pegang pasien langsung misalnya dokter umum, dokter spesialis anak, dokter spesialis kandungan, dokter gigi, dokter spesialis penyakit dalam, dan lain-lainnya, menurut saya, dipercaya pasien karena kemampuan berkomunikasinya.
Jadi menurut saya, bukan permasalahan kepribadian semata. Ada kompetensi non teknis yang perlu dimiliki untuk menjadi seorang dokter. Kalau ini pertanyaannya menurut saya semua dokter harus memiliki kompetensi non teknis customer service orientation yakni kemampuan untuk fokus memberikan pelayanan kepada pasien dengan baik.
Dalam pandangan saya, tidak ada kepribadian yang khusus saya memilih seorang dokter. Umumnya, orang tuanya ada biaya untuk menyekolahkan anaknya di Fakultas Kedokteran (FK) dan kebetulan anaknya cocok sekolah di FK sampai lulus. Maka jadilah dia seorang dokter.
Seperti saya, tidak bisa menjadi dokter bukan karena faktor kepribadian tapi faktor lain yaitu saya bukan dari jurusan IPA. Saya juga orang yang tidak bisa melihat darah. (radityakhadaffi@gmail.com)
Editor : Moch Ilham