Menjelajah Energi Masa Depan Jawa Timur, Cahaya yang Tak Boleh Padam

Reporter : Arlana Chandra Wijaya

SurabayaPagi, Surabaya – Senja mulai merunduk di ufuk barat Kota Pahlawan. Di jalanan Surabaya, lampu-lampu kota satu per satu menyala, menandai tidak hanya berakhirnya hari, tetapi juga perjalanan panjang yang tak terlihat: aliran energi yang menghidupkan jutaan aktivitas. 

Di balik terang itu, sistem kelistrikan Jawa Timur kini tak lagi bekerja dengan cara lama. Energi masa depan perlahan digerakkan oleh cahaya matahari, aliran air, panas bumi serta teknologi digital yang bekerja tanpa henti.

Baca juga: PLN UID Jatim Raih Penghargaan SMK3 dan Zero Accident di Apel Bulan K3 Nasional 2026

Sebagai salah satu provinsi dengan aktivitas ekonomi terbesar di Indonesia, Jawa Timur memiliki kebutuhan energi yang terus meningkat. Industri, pelabuhan, transportasi, hingga jutaan rumah tangga menjadikan listrik sebagai urat nadi pembangunan. 

Tantangannya bukan hanya memastikan pasokan tersedia, tetapi juga menjaganya tetap andal, efisien, dan berkelanjutan di tengah tekanan perubahan iklim dan dinamika global.

Memasuki tahun 2025, PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Timur mencatat konsumsi listrik telah berada di kisaran 44,3 terawatt hour (TWh), meningkat sekitar 6 persen dibanding periode sebelumnya. Lebih dari 14,2 juta pelanggan kini dilayani di seluruh wilayah Jawa Timur. 

Angka tersebut mencerminkan besarnya tanggung jawab PLN dalam menjaga keandalan sistem kelistrikan di provinsi dengan beban strategis ini.

Namun, di balik angka konsumsi dan pertumbuhan pelanggan, PLN UID Jawa Timur tengah menapaki transformasi yang lebih luas. 

Transisi energi tidak hanya dimaknai sebagai peralihan dari energi fosil ke energi baru terbarukan (EBT), tetapi juga sebagai perubahan cara mengelola sistem kelistrikan secara menyeluruh lebih adaptif, terukur, dan berbasis teknologi.

General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Timur, Ahmad Mustaqir, menyampaikan bahwa pemanfaatan teknologi digital telah menjadi bagian tak terpisahkan dari operasional PLN, termasuk dalam pengelolaan pembangkit energi terbarukan di wilayah ini.

Menurutnya, sistem berbasis digital memungkinkan proses pengawasan dan pengendalian pembangkit dilakukan secara cepat dan terpadu, sehingga operasional menjadi lebih efisien sekaligus memperkuat ketahanan jaringan listrik.

“Penguatan sistem digital juga menjadi langkah penting untuk mengantisipasi berbagai tantangan non-teknis yang kini berkembang secara global, termasuk potensi ancaman terhadap keamanan infrastruktur kelistrikan,” ujar Ahmad Mustaqir.

Ia menambahkan, transformasi tersebut berjalan seiring dengan upaya PLN membangun kolaborasi lintas sektor.

"Sejalan dengan itu, PLN dengan pemerintah daerah akan terus memperkuat langkahnya dalam mengembangkan pembangkit energi baru terbarukan yang terhubung langsung dengan sistem kelistrikan,” imbuhnya.

Digitalisasi membuat pembangkit EBT mulai dari pembangkit listrik tenaga surya, panas bumi, hingga mikrohidro dapat dipantau secara terpusat. Setiap fluktuasi daya, potensi gangguan, hingga efisiensi produksi bisa terdeteksi lebih dini. 

Baca juga: PLN Catat Transaksi SPKLU Lebih dari 13 Ribu Kali Sepanjang Liburan Nataru

Bagi Jawa Timur yang memiliki karakter geografis beragam dan beban kelistrikan tinggi, sistem ini menjadi fondasi penting keandalan pasokan.

Potensi energi terbarukan Jawa Timur sendiri terbilang besar. Panas bumi di kawasan Ijen, tenaga surya di wilayah pesisir dan perkotaan, serta pembangkit berbasis air di daerah pegunungan terus dikembangkan dan diintegrasikan ke dalam sistem Jawa Madura Bali (Jamali). 

Proses integrasi ini menuntut pengelolaan yang presisi peran yang kini dijalankan oleh sistem digital kelistrikan.

Di tingkat tapak, dampak transisi energi mulai dirasakan masyarakat. Program Listrik Desa berbasis EBT menghadirkan pasokan listrik yang lebih stabil di sejumlah wilayah pesisir dan daerah tertinggal. 

Lampu yang dulu kerap padam kini menyala lebih lama, membuka ruang belajar bagi anak-anak serta memperpanjang jam produktif warga.

Meski demikian, perjalanan menuju energi masa depan bukan tanpa tantangan. Kebutuhan investasi, kesiapan infrastruktur, serta penguatan sumber daya manusia menjadi pekerjaan rumah bersama. 

Digitalisasi menuntut kompetensi baru, mulai dari teknisi lapangan hingga operator sistem, agar transformasi energi berjalan berkelanjutan.

Baca juga: PLN Bangun Kedekatan dengan Masyarakat melalui Program Kampung PLN Mobile

Bagi generasi muda Jawa Timur, energi masa depan bukan sekadar isu teknis. Ia menjadi ruang kontribusi dan inovasi. 

Kampus, komunitas, dan pelaku usaha rintisan mulai terlibat dalam riset energi bersih, pengembangan sistem penyimpanan energi, hingga solusi digital untuk efisiensi kelistrikan. 

Energi tidak lagi dipandang semata sebagai komoditas, tetapi sebagai ekosistem yang menopang masa depan.

Menjelajah energi masa depan di Jawa Timur berarti membaca perubahan secara utuh: cahaya matahari yang diubah menjadi listrik, aliran data yang menjaga sistem tetap stabil, serta kolaborasi yang menjembatani kepentingan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan. 

Di tengah kota yang terus tumbuh dan desa yang perlahan berbenah, energi menjadi penentu arah pembangunan.

Saat malam kian larut dan Surabaya bermandikan cahaya, sistem digital bekerja tanpa jeda. Di balik layar, data bergerak, pembangkit dipantau, dan jaringan dijaga. Energi masa depan tidak datang tiba-tiba. 

Ia dibangun hari ini dengan cahaya, teknologi, dan visi jangka panjang untuk generasi mendatang. Byb

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru