Proses Jemur Brem di Madiun Terhambat, Produksi Banyak Andalkan Oven

surabayapagi.com
Produsen Kue Brem di Desa Kaliabu, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun, sedang menjemur sejumlah adonan di bawah terik sinar matahari. SP/ MDN

SURABAYAPAGI.com, Madiun - Akibat curah hujan yang masih tinggi ditambah cuaca ekstrem yang tidak menentu mengakibatkan proses produksi brem di Desa Kaliabu, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun ikut terhambat. Pasalnya, selama ini untuk proses pengeringan warga selalu mengandalkan sinar matahari.

Salah Satu Produsen Kue Brem Budi Widodo, mengaku jika penjemuran memakan waktu lebih panjang, jika dibandingkan dengan musim kemarau yang pada kondisi cuaca cerah proses penjemuran brem hanya membutuhkan waktu sekitar empat jam. 

Baca juga: Warga Probolinggo Pilih Ngungsi, 4 Desa di Lereng Bromo Terendam Banjir

“Alur produksi sampai pengemasan ikut mengalami keterlambatan dibanding saat musim kemarau. Musim hujan seperti sekarang, penjemuran brem memang jadi kendala utama,” kata Budi Widodo, Selasa (10/02/2026).

Baca juga: Terdampak Tanah Longsor, BPBD Situbondo Catat Dua Rumah Warga Rusak Parah

Namun saat musim hujan seperti saat ini, membutuhkan setidaknya dua sampai tiga hari. Tujuannya supaya tekstur benar-benar kering sempurna. Guna mengatasi kendala tersebut, beberapa penghasil memilih menggunakan alat pengering atau oven agar proses pengeringan bisa lebih cepat. Pasalnya, produsen harus menyesuaikan jadwal produksi agar kualitas brem tetap terjaga dan tidak mudah rusak saat dikemas.

“Pengemasan dan pengiriman pesanan tidak terlalu molor, brem bisa cepat dikeringkan dan dikemas, meski hujan masih sering turun di wilayah Kabupaten Madiun dan sekitarnya,” kata Rohmat.

Baca juga: Petani Lesu, Harga Daun Bawang di Magetan Terjun Bebas Dipicu Panen Raya Massal

Hanya saja, bagi yang belum memiliki oven, mereka terpaksa harus menunggu hingga tiga hari agar brem benar-benar kering secara alami. Diketahui, untuk brem asal Kaliabu sendiri biasanya dikirim ke berbagai daerah seperti Probolinggo, Solo, hingga Surabaya. “Jumlah produksi tetap sama, hanya waktunya saja yang lebih lama sehingga untuk pasokan ke konsumen lebih lambat dibanding saat musim kemarau,” ujarnya. md-02/dsy

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru