PBB, China dan Rusia Kecam dan Kutuk Keras

surabayapagi.com
Presiden Rusia, Vladimir Putin mengutuk keras serangan Israel dan AS ke Iran, yang dianggap melanggar Prinsip Hukum Internasional.

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggelar rapat darurat menyusul serangan yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran. Data PBB menyebut 20 kota di Iran telah terdampak serangan Israel dan AS.

"Aksi militer membawa risiko memicu serangkaian peristiwa yang tidak dapat dikendalikan siapa pun di kawasan paling bergejolak di dunia," kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, dilansir Al Jazeera, Minggu (1/3/2026).

Baca juga: Israel dan AS Ingin Perubahan Pemerintahan di Tehran

Dalam pertemuan darurat DK PBB, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengecam keras serangan tersebut, sebagaimana dilansir Reuters.

Ia mencatat laporan tentang para pemimpin Iran yang tewas, tetapi mengatakan ia tidak dapat mengkonfirmasi secara independen.

"Saya menyerukan de-eskalasi dan penghentian permusuhan segera. Alternatifnya adalah potensi konflik yang lebih luas dengan konsekuensi serius bagi warga sipil dan stabilitas regional. Saya sangat mendesak semua pihak untuk segera kembali ke meja perundingan," katanya.

AS dan Israel menyerang Iran pada Sabtu (28/2) pagi waktu Iran. Iran merespons serangan itu dengan menyerang sejumlah pangkalan militer AS yang berada di Timur Tengah (Timteng).

 

China Sangat Prihatin

China prihatin dengan serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran. China menegaskan bahwa kedaulatan Iran harus dihormati.

Pernyataan ini disampaikan kantor juru bicara Kementerian Luar Negeri China pada Sabtu (28/2/2026) lalu melalui akun X. China mengingatkan soal wilayah Iran yang harus dihormati.

"China sangat prihatin atas serangan militer terhadap Iran yang dilancarkan oleh AS dan Israel. Kedaulatan, keamanan, dan integritas wilayah Iran harus dihormati," ujarnya.

China meminta agar serangan militer ini dihentikan. China menyarankan agar dialog dan negosiasi dipakai untuk menjaga stabilitas Timur Tengah.

"China menyerukan penghentian segera aksi militer, tidak ada lagi peningkatan ketegangan, dimulainya kembali dialog dan negosiasi, serta upaya untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah," lanjutnya.

Rusia Kecam Serangan AS-Israel ke Iran.

Baca juga: Kediaman Khamenei, Dijatuhi 30 Bom dari 200 Jet Tempur

 

Rusia Kutuk Keras

Sementara itu, Utusan Rusia untuk PBB juga telah mengutuk keras serangan militer AS dan Israel ke Iran. Rusia menilai serangan itu tanpa provokasi dan melanggar prinsip hukum internasional.

"Tindakan Washington dan Yerusalem Barat tidak lain adalah tindakan agresi bersenjata tanpa provokasi lainnya terhadap negara anggota PBB yang berdaulat dan independen, yang melanggar piagam organisasi dan prinsip-prinsip dasar hukum internasional," kata utusan Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia selama sesi darurat di Dewan Keamanan PBB dilansir Anadolu, Minggu (1/3/2026).

Dia menegaskan bahwa serangan itu "mencampuri urusan internal Iran dan menghancurkan negara yang tidak disukai Barat,". AS dan Israel dinilai telah melakukan langkah gegabah.

Salah satu serangan terbaru Iran terjadi di Doha, Qatar, pada Sabtu (28/2) malam waktu Doha. Serangan rudal Iran disebut berhasil merusak sistem radar di pangkalan militer Al Udeid, dekat Doha.

"Qatar menjadi sasaran 44 rudal dan delapan drone... dengan delapan orang terluka termasuk satu orang dalam kondisi kritis," kata seorang diplomat kepada AFP, dilansir AFP.

Baca juga: Reza Pahlavi, Janji Siap Pimpin Transisi Iran Baru

 

China dan Rusia Bantu Iran

Pengamat Sosial Ekonomi dan Keagamaan Anwar Abbas menyoroti serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran. Anwar berharap China dan Rusia ikut membantu Iran demi menekan serangan brutal yang dilakukan AS dan Israel terhadap negara yang tak sejalan dengan mereka.

"Jika Israel dibantu Amerika Serikat untuk menyerang Iran maka semestinya China dan Rusia juga ikut membantu Iran menghadapi Israel dan Amerika Serikat. Sudah saatnya China dan Rusia menampakkan dirinya dengan terang-terangan dalam membela negara-negara yang ditindas oleh Amerika Serikat, sebab kalau hal itu tidak dilakukan oleh kedua negara tersebut maka AS tentu akan semakin bebas menzalimi negara-negara yang tidak mau ikut perintahnya," kata Anwar Abbas kepada wartawan, Minggu (1/3/2026).

Anwar Abbas mengatakan sudah saatnya China dan Rusia unjuk gigi menggerakan armada menghadapi dua negara tersebut. Dengan demikian, katanya, AS akan berpikir 10 kali untuk melancarkan serangan.

"Untuk itu China dan Rusia sudah saatnya untuk unjuk kekuatan dengan menggerakkan armadanya mendekati kawasan teluk supaya Amerika Serikat akan berpikir 10 kali untuk menyerang Iran apalagi Amerika Serikat tahu betul bila negaranya terseret terlalu jauh ke dalam peperangan langsung maka negaranya dalam jangka menengah atau panjang tidak akan pernah bisa untuk menang," ungkapnya.

Waketum MUI ini menyinggung sejarah kala Amerika Serikat mundur dari perang Vietnam menyusul penandatangan perjanjian perdamaian Paris 23 Januari 1973. Anwar Abbas juga mengungkit kala AS menarik pasukannya dari Afghanistan pada 2021.n bbc, jk, afp, az, rtr, rmc

Editor : Moch Ilham

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Senin, 23 Feb 2026 20:11 WIB
Selasa, 24 Feb 2026 19:38 WIB
Rabu, 25 Feb 2026 19:40 WIB
Kamis, 26 Feb 2026 20:57 WIB
Berita Terbaru