Per Februari 2026, Penjualan Mobil Listrik Global Alami Penurunan 11 Persen

surabayapagi.com
Mobil listrik Geely EX5. SP/ JKT

SURABAYAPAGI.com, Jakarta - Kabar kurang menyenangkan datang dari segmen mobil listrik yang saat ini mengalami penurunan penjualan secara global yang dipicu oleh turunnya permintaan di sejumlah pasar utama, dengan China menjadi kontributor terbesar terhadap penurunan tersebut. Bahkan, Lembaga konsultan Benchmark Mineral Intelligence (BMI) melaporkan penjualan kendaraan listrik dunia tersebut turun hingga 11 persen secara tahunan pada Februari.

Diketahui, penurunan tersebut sebagian besar disebabkan oleh merosotnya penjualan di China. Sebagai pasar kendaraan listrik terbesar di dunia, negara itu mencatat penurunan paling signifikan sejak awal pandemi COVID-19 pada 2020. Namun, secara keseluruhan, penjualan kendaraan listrik global dalam dua bulan terakhir hingga Februari tercatat sedikit di atas satu juta unit. Angka tersebut menjadi level terendah sejak periode yang sama pada 2024.

Baca juga: Eksklusif! Tesla Kenalkan Teknologi Pengereman Mulus di Model Y Terbaru

Dirinci berdasarkan BMI, bahwa penjualan mobil listrik berbasis baterai dan plug-in hybrid di China pada Februari turun 32 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan total penjualan berada di bawah 500.000 unit. Angka ini juga sejalan dengan laporan China Association of Automobile Manufacturers yang menunjukkan bahwa penjualan mobil secara keseluruhan di negara tersebut merosot 34 persen pada bulan yang sama. 

Baca juga: Siap Tantang BYD Atto 3, MG 4X Mulai Bersaing di Segmen SUV Listrik Kompak

Selain itu, berdasarkan data Manager BMI Charles Lester mengatakan konsumen saat ini semakin sensitif terhadap harga kendaraan listrik. Di Amerika Utara, pasar kendaraan listrik juga mengalami kontraksi. Penjualan di wilayah tersebut turun 35 persen menjadi kurang dari 90.000 unit pada Februari, Senin (16/03/2026).

Baca juga: Jetour Hadirkan Program Free Check-Up di 12 Showroom dan Siaga Bengkel di Momen Lebaran

Penurunan ini menjadi yang kelima secara berturut-turut setelah berakhirnya program insentif pajak kendaraan listrik di Amerika Serikat pada September tahun lalu. Selain itu, kebijakan pemerintah Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump yang mengusulkan pelonggaran standar emisi karbon juga mempengaruhi permintaan kendaraan listrik di kawasan tersebut. Kombinasi kebijakan tersebut serta melemahnya permintaan global membuat sejumlah produsen otomotif yang memiliki eksposur besar di pasar Amerika Serikat mencatat penurunan nilai aset hingga lebih dari 70 miliar dolar AS. jk-02/dsy

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru