Fertilitas Jatim di Bawah Ambang Ideal, BPS Soroti Ancaman Krisis Tenaga Produktif

surabayapagi.com

SurabayaPagi, Surabaya – Tren penurunan angka kelahiran di Jawa Timur kian terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Data terbaru Badan Pusat Statistik menunjukkan provinsi ini mulai memasuki fase baru demografi, di mana jumlah kelahiran tidak lagi cukup untuk menggantikan generasi sebelumnya.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BPS Jawa Timur, Herum Fajarwati, mengungkapkan bahwa Total Fertility Rate (TFR) Jawa Timur pada 2025 tercatat sebesar 1,95. Angka tersebut berada di bawah ambang batas replacement level sebesar 2,10.

Baca juga: Pj Ali Kuncoro Lega, IPH Kota Mojokerto Berfluktuasi Rendah pada Angka Minus 3,858 %

“Ini menegaskan bahwa fertilitas di Jawa Timur terus mengalami penurunan,” ujarnya, Rabu (6/5/2026).

Penurunan ini merupakan kelanjutan tren sejak 2010, meskipun laju penurunannya relatif melambat dalam beberapa tahun terakhir.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak terjadi secara merata di seluruh wilayah. Kota Surabaya mencatat angka TFR terendah sebesar 1,70, yang mencerminkan perubahan gaya hidup masyarakat urban yang cenderung menunda atau membatasi jumlah anak.

Sebaliknya, Kabupaten Sampang mencatat angka TFR tertinggi sebesar 2,25. Perbedaan ini menunjukkan adanya disparitas antarwilayah yang dipengaruhi oleh faktor pendidikan, kondisi ekonomi, serta akses terhadap layanan kesehatan reproduksi.

Baca juga: Kinerja Ekspor Jatim Juli 2023 Meningkat 2,42 Persen

“Disparitas ini memperlihatkan adanya kesenjangan antarwilayah, baik dari sisi akses pendidikan, ekonomi, hingga layanan kesehatan reproduksi,” jelas Herum.

Selain itu, pola usia melahirkan juga mengalami perubahan signifikan. Angka kelahiran pada remaja usia 15–19 tahun menurun drastis, dari 41,40 menjadi 15,98 per 1.000 perempuan dalam kurun waktu 15 tahun terakhir.

Sebaliknya, puncak kelahiran kini bergeser ke kelompok usia 25–29 tahun, yang mengindikasikan adanya kecenderungan menunda pernikahan dan kehamilan.

Baca juga: Triwulan II 2023, Pertumbuhan Ekonomi Jatim Capai 5,24 Persen

Menurut Herum, kondisi ini dapat dipandang sebagai keberhasilan dalam pengendalian penduduk. Namun, di sisi lain juga menjadi sinyal peringatan bagi pemerintah daerah.

“Jika tren ini terus berlanjut tanpa strategi adaptasi, Jawa Timur berpotensi menghadapi penuaan penduduk lebih cepat,” tegasnya.

Ia menambahkan, tantangan ke depan bukan lagi sekadar menekan angka kelahiran, melainkan menjaga keseimbangan antara bonus demografi yang mulai menipis dan potensi berkurangnya tenaga kerja produktif di masa mendatang.

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru