SurabayaPagi, Surabaya – Kolaborasi antara The People’s Cafe dan Bu Rudy menghadirkan sejumlah menu berbasis kuliner lokal yang kini tersedia di berbagai gerai The People’s Cafe di Indonesia sejak awal Mei 2026.
Kerja sama ini menggabungkan pendekatan dua pelaku usaha kuliner dengan latar belakang berbeda.
Baca juga: Perluas Pasar F&B, Bu Rudy Luncurkan Tiga Aplikasi Digital
The People’s Cafe dikenal menyajikan makanan sehari-hari dengan konsep kasual, sementara Bu Rudy merupakan usaha kuliner asal Surabaya yang telah lama dikenal melalui produk sambal dan hidangan khasnya.
Dalam kolaborasi tersebut, diperkenalkan tiga menu utama, yakni nasi lidah, nasi cumi hitam, dan nasi sate kelapa. Ketiga menu ini dikembangkan dengan mempertimbangkan keseimbangan rasa serta penyesuaian dengan selera konsumen saat ini.
Menu nasi lidah disajikan dengan tambahan pelengkap seperti serundeng, oseng soun, serta sambal. Sementara nasi cumi hitam menghadirkan olahan cumi berbumbu pekat yang umum dijumpai dalam kuliner Jawa Timur.
Adapun nasi sate kelapa memadukan sate ayam berbumbu dengan kelapa parut dan bumbu kacang.
Baca juga: Eksis Berbisnis Sambel Bu Rudy Beromzet 1 M Hingga Mancanegara
President Director ISMAYA Group, Cendyarani, menyebut kolaborasi ini merupakan bagian dari upaya menghadirkan menu lokal dengan pendekatan yang menyesuaikan perkembangan selera masyarakat.
Menurutnya, konsumen saat ini tidak hanya mempertimbangkan rasa, tetapi juga pengalaman dan kemudahan dalam menikmati makanan.
Di sisi lain, pemilik Bu Rudy, Lanny Siswadi, menyatakan kerja sama ini menjadi salah satu cara memperluas jangkauan produknya ke pasar yang lebih luas, dengan tetap mempertahankan karakter rasa yang sudah dikenal.
Menu hasil kolaborasi tersebut kini tersedia di puluhan gerai The People’s Cafe di berbagai kota.
Kolaborasi ini mencerminkan tren di industri makanan dan minuman, di mana pelaku usaha mulai menggabungkan konsep kuliner tradisional dengan pendekatan yang lebih modern.
Di tengah perkembangan tersebut, aspek konsistensi rasa dan identitas kuliner tetap menjadi perhatian utama.
Editor : Redaksi