SURABAYAPAGI.com, Madiun - Demi menjaga suplai dan stok komoditas cabai di pasaran wilayah Madiun, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Madiun mulai berkomitmen memperkuat skema Kerja Sama Antar-Daerah (KAD), dengan harapan pasokan komoditas lancar dan kenaikan harga dapat ditekan, yang muaranya adalah laju inflasi terkendali.
Kepala Bagian Perekonomian dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kota Madiun Danang Novianto mengungkap jika kerja sama antar-pemerintah daerah selama ini telah dilakukan sejak beberapa tahun terakhir, di antaranya dengan Kabupaten Blitar yang merupakan daerah produsen cabai di Jawa Timur.
Baca juga: DPRD Minta Pemkot Madiun Kejar Lagi Opini WTP Usai BPK Beri WDP
"Kota Madiun terus menjalin kerjasama Government to Government (G-to-G) dengan daerah penghasil. Namun, dalam eksekusi lapangan, skema yang paling efektif adalah mendorong kerja sama langsung antar pedagang atau Business to Business (B-to-B) agar distribusi komoditas bisa berjalan lebih cepat, taktis, dan fleksibel saat terjadi gejolak harga," ujarnya, Minggu (07/06/2026).
Diketahui berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Madiun, inflasi Mei 2026 secara bulanan (month to month/m-to-m) mencapai 0,35 persen. Sementara inflasi tahunan (year on year/y-on-y) tercatat 3,22 persen, menjadi yang tertinggi dibandingkan periode yang sama dalam tiga tahun terakhir.
Baca juga: Fokuskan Pendidikan Karakter Siswa, Pemkot: MPLS Bentuk Sikap Masa Depan Generasi Muda
Komoditas yang paling besar menyumbang inflasi adalah cabai merah dengan kenaikan harga 30,76 persen, disusul cabai rawit 22,31 persen. Selain memastikan pasokan tetap tersedia, lanjut Danang, TPID juga berupaya menjaga efisiensi distribusi barang dari daerah penghasil menuju Kota Madiun. Dengan demikian, rantai distribusi panjang yang menyebabkan harga naik, dapat dipangkas.
Selain cabai rawit, komoditas lain yang memicu inflasi Kota Madiun pada Mei 2026, antara lain minyak goreng, bawang merah, cabai merah, jeruk, tarif rumah sakit, kasur, dan sampo.
Baca juga: BLTD Tahap II 2026, Pemkot Madiun Salurkan ke 2.104 Keluarga Penerima Manfaat
Dari 11 kabupaten/kota di Jawa Timur keseluruhannya mengalami inflasi dengan tertinggi di alami Surabaya sebesar 0,37 persen dan terendah dialami Kota Probolinggo sebesar 0,03 persen sedangkan daerah lain seperti Madiun inflasi 0,35 persen, Kediri 0,35 persen, dan Bojonegoro 0,29 persen. Kemudian Jember 0,19 persen, Tulungagung 0,19 persen, Malang 0,18 persen, Banyuwangi 0,18 persen, Gresik 0,17 persen, dan Sumenep 0,16 persen. md-01/dsy
Editor : Redaksi