Rupiah Masih Bertengger Rp 18 Ribu, BI Tuding The Fed

surabayapagi.com

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Gejolak mata uang Garuda saat ini tak lepas dari kebijakan Bank Sentral AS, The Fed. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Ramdan Denny Prakoso mengatakan Federal Open Market Committee (FOMC) memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga federal funds di 3,5% hingga 3,75% pada 17 Juni lalu. Namun, pelaku pasar melihat adanya pejabat The Fed mengirimkan sinyal kuat bahwa suku bunga acuan masih terus naik ke depan.

"Jadi, sinyal hawkish itu mengindikasikan bagaimana suku bunga Fed Fund Rate di masa-masa yang akan datang, terutama tahun ini, yang memang probability-nya adalah tidak lagi turun tetapi akan naik," ujar Ramdan saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta Pusat, Selasa (7/7/2026).

Baca juga: Rupiah Bergerak di Kisaran Rp 18.050 per dolar AS

Ramdan menjelaskan perkembangan ini yang membuat indeks dolar AS (DXY) terus bergejolak bahkan menembus level tertinggi dalam satu tahun. Pada Januari 2026, indeks dolar AS berada di level 95.

Baca juga: Rupiah Terjun ke Level Rp18 Ribu, Pedagang di Pasar Surabaya Ngeluh Merugi

Namun, pada akhir Juni, DXY telah naik hingga 101. Menurutnya, hal ini yang membuat mata uang di sejumlah negara terus melemah, termasuk Indonesia.

Baca juga: Pernyataan Prabowo yang 'Nyeleneh' Turut Perdalam Pelemahan Rupiah

Makanya, Bank Indonesia (BI) angkat bicara soal nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sempat menyentuh level Rp 18.000/dolar AS. Pada perdagangan pagi ini, Selasa (7/7/2026) nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 17.992 atau turun sebesar 3 poin (0,02%). n ec, hu

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Senin, 06 Jul 2026 23:41 WIB
Senin, 06 Jul 2026 23:43 WIB
Senin, 06 Jul 2026 23:47 WIB
Berita Terbaru