SURABAYAPAGI.com, Madiun - Menindaklanjuti musim kemarau panjang yang waktu-waktu terjadi puncak kekeringan 2026, Pemerintah Kota (Pemkot) Madiun melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat telah menyiagakan dua armada truk tangki untuk sarana penyaluran bantuan air bersih
Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Madiun Bambang Agung Hariadi, mengatakan, saat ini pihaknya telah mengerahkan sebanyak dua tangki masing-masing memiliki kapasitas 5 ribu liter, sehingga total air yang dapat disalurkan mencapai 10 ribu liter saat dibutuhkan.
Baca juga: Pemkab Madiun Bangun Sumur Bor di 30 Titik Puluhan Desa Terancam Kekeringan
Menurutnya, penyiapan armada tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap dampak kemarau panjang serta potensi pengaruh fenomena El Nino. "BPBD Kota Madiun menyiapkan dua armada tangki air bersih untuk mengantisipasi kemungkinan berkurangnya ketersediaan air di sejumlah wilayah," ujarnya, Selasa (11/08/2026).
Dan sejauh ini kondisi ketersediaan air bersih di wilayah Kota Madiun hingga kini masih relatif aman. BPBD juga belum menerima permintaan penyaluran atau dropping air bersih dari masyarakat. Meski belum ditemukan wilayah yang mengalami krisis air, BPBD tetap melakukan pemantauan secara berkala. Upaya tersebut dilakukan untuk mengantisipasi adanya titik-titik wilayah yang berpotensi mengalami kekurangan air bersih selama musim kemarau.
Baca juga: Terkendala Lahan, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Madiun Baru Ada 4 Gerai
"Alhamdulillah, sampai saat ini belum ada daerah di Kota Madiun yang membutuhkan distribusi air bersih," katanya.
BPBD juga mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan apabila menemukan tanda-tanda kekeringan atau mulai berkurangnya sumber air di lingkungan masing-masing. Sesuai pemetaan BPBD setempat, terdapat dua kelurahan di Kota Madiun yang rawan mengalami kesulitan air bersih karena sumber air warga yang mengering.
Baca juga: Pengacara Penggugat Tolak Saksi PT JPC, Sebut Sarat Akan Konflik Kepentingan
Dan diketahui, untuk dua lokasi itu yakni Kelurahan Tawangrejo dan Kelun. Hal itu karena sumber air tanah yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan warga, yakni sumur, mengalami kekeringan saat puncak kemarau. md-02/dsy
Editor : Redaksi