MAULID Nabi adalah hari untuk mengingat kelahiran dan akhlak mulia Nabi Muhammad SAW. Di Indonesia, tradisi maulid sering diadakan pada bulan Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriah. Tanggal 12 Rabiul Awal, yang diyakini sebagai hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Contoh Tradisi adalah Grebeg Maulud di Solo sebagai bentuk syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. Puncak kemeriahan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kota Solo ditandai dengan tradisi Grebeg Maulud dan rangkaian panjang Sekaten yang dipusatkan di Keraton Kasunanan Surakarta dan Masjid Agung Solo.
Baca juga: Ancak Agung Perkuat Tradisi dan Gotong Royong Warga Jember Bersatu
Kirab Gunungan: Para abdi dalem mengarak sepasang gunungan (gunungan jaler/laki-laki dan gunungan estri/perempuan) yang berisi hasil bumi, makanan, dan jajanan tradisional dari area Keraton Solo menuju Masjid Agung Solo.
Warga yang hadir berbondong-bondong melakukan tradisi berebut gunungan (ngalap berkah) sesudah doa dipanjatkan di halaman masjid.
Dua kubu Ketaton Solo, yakni Paku Buwono (PB) XIV Hangabehi dan PB XIV Purboyo menggelar Grebeg Maulud 1960 BE/ 2026 hari ini, Rabu (26/8/2026). Total ada empat pasang gunungan yang dikirab menuju Masjid Agung.
Pantauan saya di lokasi, kubu PB XIV Hangabehi mengawali prosesi terlebih dahulu.
Rombongan abdi dalem mengirab dua pasang gunungan. Terdiri dari dua gunungan jaler (laki-laki) dan dua estri (perempuan. Gunugan itu dikirab dari kawasan keraton menuju halaman Masjid Agung Solo pada pukul 09.30 WIB.
Gunungan jaler berisi hasil bumi seperti kacang panjang, terong, cabai merah, wortel, timun, tebu, hingga telur asin. Sedangkan gunungan estri berisi makanan siap saji berupa rengginang. Suasana riuh terjadi di halaman Masjid Agung.
Baca juga: Harga Pisang Raja di Magetan Naik Imbas Permintaan Tinggi saat Peringatan Maulid Nabi
Sebelum doa keselamatan dipanjatkan ulama keraton, warga yang memadati lokasi langsung merangsek dan memperebutkan seluruh isi gunungan hingga ludes dalam hitungan menit. Tak berselang lama, tepat pukul 11.30 WIB, giliran kubu PB XIV Purboyo yang mengirab dua pasang gunungan serupa.
Rombongan bergerak dari Kori Kamandungan Keraton Solo menuju titik akhir di Masjid Agung. Setibanya di halaman masjid, doa mulai dipanjatkan. Belum rampung doa dibacakan, warga kembali bergerak cepat memperebutkan gunungan jaler hingga tak tersisa.
Berbeda dengan prosesi sebelumnya, gunungan estri dari kubu PB XIV Purboyo berhasil dibawa oleh para abdi dalem kembali masuk ke dalam area keraton. Gunungan estri tersebut kemudian diperebutkan di halaman Keraton Solo.
Wujud Syukur Memeringati Hari Kelahiran Nabi Muhammad Penghulu Tafsir Anom di Keraton Kasunanan Surakarta, Kanjeng Raden Tumenggung KH Muhammad Muhtarom mengatakan, Grebeg Maulud merupakan wujud syukur Keraton Solo, masyarakat, dan abdi dalem dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Dalam peringatan ini, umat Islam melantunkan selawat, membacakan sirah Nabi, serta melakukan berbagai amal kebajikan. Peringatan ini bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga sarana untuk merenungkan keutamaan Maulid Nabi.
Sejarah mencatat bagaimana para sahabat Rasulullah saw memandang pentingnya memperingati kelahiran Nabi Muhammad dan bagaimana tradisi ini kemudian berkembang dalam komunitas Muslim. (dnaputri)
Editor : Redaksi