Batik Tak Lagi Sekadar Dipajang, HBN 2026 Bawa Wastra Jawa Timur Berlayar di Kalimas

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news

SurabayaPagi, Surabaya – Peringatan Hari Batik Nasional (HBN) 2026 di Surabaya tidak hanya menghadirkan batik di ruang pamer. Yayasan Batik Indonesia (YBI) bersama Kementerian Perindustrian Republik Indonesia menyiapkan konsep yang membawa batik ke ruang publik melalui sejumlah agenda, termasuk Batik Berlayar di Sungai Kalimas.

HBN 2026 dijadwalkan berlangsung pada 30 September hingga 4 Oktober 2026. Rangkaian kegiatan meliputi pameran wastra Nusantara yang melibatkan pengrajin dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur, pameran koleksi batik, fashion show, workshop, talkshow, serta pertunjukan seni dan musik.

Batik Berlayar menjadi salah satu agenda yang disiapkan pada 2 Oktober 2026. Para tamu dan model yang mengenakan batik akan menaiki perahu yang dihiasi ornamen batik Jawa Timur, kemudian menyusuri Sungai Kalimas dari kawasan Taman Prestasi menuju Monumen Kapal Selam (Monkasel) Surabaya.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian, Reni Yanita, mengatakan pelestarian batik membutuhkan konsistensi sekaligus inovasi agar warisan budaya tersebut tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Kementerian Perindustrian, kata dia, kembali menggandeng YBI dalam upaya menjaga dan mengembangkan batik Indonesia. Salah satu bentuk kerja sama tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan HBN 2026 di Surabaya.

Tahun ini, Batik Tulungagung mendapat perhatian khusus dalam penyelenggaraan HBN. Selain meningkatkan apresiasi terhadap batik sebagai identitas budaya Indonesia, kegiatan tersebut diarahkan untuk menjadikan batik sebagai bagian dari destinasi wisata budaya yang menarik dan berkelanjutan.

Kegiatan juga diarahkan untuk meningkatkan keterlibatan generasi muda melalui pendekatan yang lebih relevan dan berbasis pengalaman. Di sisi lain, para perajin didorong memperoleh dukungan untuk mengembangkan karya sekaligus memperluas akses pasar.

Menurut Reni, pemilihan Surabaya sebagai lokasi HBN 2026 memiliki keterkaitan dengan identitas kota tersebut sebagai Kota Pahlawan.

“Penyelenggaraan HBN tahun ini berlokasi di Kota Surabaya. Kalau kita mengambil sejarah Kota Surabaya, Kota Pahlawan. Harapannya kita bisa bangkit kembali untuk menjadi pahlawan-pahlawan minimal bagi pengrajin batik,” ucapnya saat press conference di Surabaya, Rabu (16/9/2026).

Surabaya juga dipilih karena merupakan ibu kota Jawa Timur. Provinsi tersebut memiliki kekayaan motif batik dari berbagai kabupaten dan kota yang telah dikenal secara nasional.

“Harapannya, dengan penyelenggaraan di Surabaya ini lebih mengangkat lagi dan juga memotivasi para pengrajin batik yang ada di Jawa Timur,” lanjutnya.

Kementerian Perindustrian mencatat hampir 23 provinsi di Indonesia memiliki industri kecil dan menengah (IKM) batik.

Keberadaan industri tersebut tidak hanya berkaitan dengan produksi kain batik, tetapi juga menciptakan efek berganda melalui penyerapan tenaga kerja serta pertumbuhan industri kain dan malam yang mendukung ekosistem batik.

Di tengah tuntutan pasar global, perajin juga didorong melakukan inovasi, termasuk melalui pemanfaatan pewarna alam. Di sisi lain, pasar domestik masih menjadi salah satu tumpuan industri manufaktur Indonesia.

Reni menyebut sekitar 80 persen produk industri manufaktur Indonesia dipasarkan di dalam negeri. Kondisi tersebut sekaligus menjadi peluang dan tantangan bagi industri batik.

“Ketika pangsa pasarnya di dalam negeri, tetapi konsumen dalam negeri tidak peduli, nah, ini ancaman buat industri batik itu sendiri dan kita tidak ingin pengrajin batik ataupun kota batik itu hanya tinggal sejarah,” tegasnya.

Karena itu, Kementerian Perindustrian masih memiliki pekerjaan rumah untuk memastikan industri batik dapat memberikan penghidupan yang layak bagi perajin sekaligus menjaga keberlanjutan regenerasi.

Upaya menjangkau konsumen muda juga dilakukan. YBI melihat generasi muda sebagai salah satu target pasar penting sehingga para perajin mulai menyesuaikan motif dan warna dengan selera generasi tersebut.

Reni berharap dukungan yang disiapkan dapat mendorong masyarakat ikut melestarikan batik sekaligus meningkatkan kesejahteraan perajin.

“Karena apalah artinya kehadiran kami kalau memang tidak memberikan penghidupan yang layak untuk perajin ataupun industrinya. Begitu juga dengan Yayasan Batik Indonesia,” ujarnya.

Menurut Reni, pelestarian batik membutuhkan ekosistem yang melibatkan berbagai pihak. YBI berperan sebagai komunitas dan pemerhati, sedangkan Kementerian Perindustrian menjalankan fungsi regulator sekaligus memberikan pendampingan. Perguruan tinggi dan masyarakat juga memiliki peran dalam menjaga keberlanjutan batik.

Penggunaan batik pun kini semakin berkembang dan tidak terbatas pada busana formal. Pengembangan material selain katun juga dilakukan agar batik dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan.

Pemerintah, menurut Reni, akan terus memberikan pendampingan dan fasilitasi kepada perajin, termasuk melalui restrukturisasi mesin dan peralatan. Dukungan tersebut mencakup kebutuhan pengelolaan lingkungan seperti instalasi pengolahan air limbah (IPAL), serta pemanfaatan mesin untuk membantu mempercepat proses produksi.

Ketua Umum Yayasan Batik Indonesia, Gita Pratama Kartasasmita, mengatakan HBN 2026 membawa gagasan agar masyarakat tidak hanya melihat batik, tetapi juga mengalami dan berinteraksi langsung dengan warisan budaya tersebut.

Gagasan itu diwujudkan dengan membawa batik keluar dari ruang pamer menuju ruang publik. Batik tidak hanya dipajang atau dikenakan, tetapi dihadirkan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.

“Kami ingin perayaannya terasa lebih dekat, lebih hidup, dan tentu saja lebih menyenangkan, terutama bagi generasi muda. Kami ingin mereka mencintai batik bukan karena mereka harus, tetapi karena menemukan alasan sendiri untuk mencintainya,” kata Gita.

HBN 2026 juga memberikan perhatian khusus terhadap Batik Tulungagung. Sejumlah motif yang disorot antara lain Lurik Ruyung, Robo, Gajah Mindo, Bawang, Majanan, dan Karangbret.

Melalui perhelatan tersebut, YBI ingin memperkenalkan kekayaan batik Jawa Timur agar semakin dikenal, diapresiasi, dan dikembangkan.

“Karena bagi kami, melestarikan bukan berarti membuat batik berhenti di masa lalu. Melestarikan berarti memastikan batiknya punya masa depan,” ujar Gita.

Menurutnya, batik perlu terus berinteraksi dengan perkembangan zaman, termasuk teknologi, kreativitas, fashion, industri kreatif, dunia digital, dan generasi muda.

Rangkaian HBN 2026 akan dibuka melalui pameran di Grand Atrium dan Koridor Tunjungan Plaza 3 Surabaya. Karya para perajin, khususnya dari Jawa Timur, akan dipadukan dengan sejumlah pengalaman interaktif.

Pengunjung dapat menikmati teknologi augmented reality (AR), fashion show, reels competition, workshop digital bagi UKM berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI), serta pertunjukan seni dan musik.

Ruang diskusi juga disiapkan melalui sejumlah talkshow yang membahas masa depan batik, teknologi, sustainability, identitas, industri, hingga peran generasi muda.

“Kami tidak ingin pameran ini hanya menjadi tempat untuk melihat batik. Kami ingin menjadikannya ruang pengalaman. Dan pengalaman itu akan membawa lebih jauh melalui batik berlayar,” jelas Gita.

Konsep Batik Berlayar dijadwalkan berlangsung pada 2 Oktober 2026. Batik akan dibawa menyusuri Sungai Kalimas menggunakan perahu yang dihiasi ornamen batik Jawa Timur.

Perjalanan dimulai dari kawasan Taman Prestasi menuju Monumen Kapal Selam. Sepanjang perjalanan, Sungai Kalimas akan menjadi ruang pertunjukan yang menghadirkan tari, musik, perkusi, seni, dan permainan cahaya.

Dengan konsep tersebut, batik dihadirkan langsung di tengah ruang publik Surabaya, bukan hanya di dalam gedung pameran.

Bagi Gita, konsep tersebut menjadi salah satu gagasan yang membedakan HBN 2026 karena selama ini batik lebih sering diperkenalkan melalui ruang-ruang gedung atau pameran.

“Kalau biasanya kita membawa batik ke gedung-gedung, kali ini kita bawa batik berlayar,” ucapnya.

Peringatan HBN juga berkaitan dengan perjalanan batik Indonesia di tingkat dunia. Sekitar 17 tahun lalu, Batik Indonesia masuk dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity UNESCO. Pemerintah Indonesia kemudian menetapkan 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional.

Bagi YBI, pengakuan tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan, tetapi juga tanggung jawab untuk memastikan batik tetap hidup, berkembang, dan diteruskan kepada generasi berikutnya.

Yayasan Batik Indonesia berdiri sejak 28 Oktober 1994 dengan tiga misi utama, yakni sosial, budaya, dan ekonomi. Sejak 2022, YBI juga tercatat sebagai anggota NGO ICH yang bergerak dalam pelestarian warisan budaya takbenda.

“Menjaga batik bukan hanya menjaga kainnya. Kita menjaga pengetahuan, keterampilan, tradisi para perajin, dan kehidupan yang tumbuh di sekeliling batik,” kata Gita.

Menurut dia, keberlanjutan batik membutuhkan dukungan pemerintah, perajin, dunia usaha, komunitas, generasi muda, serta media.

Batik dinilai akan memiliki masa depan ketika semakin banyak masyarakat mengenal, menggunakan, membicarakan, dan merasa bahwa batik merupakan bagian dari kehidupan mereka.

Karena itu, Gita berharap HBN 2026 di Surabaya tidak berhenti sebagai perayaan tahunan, tetapi menjadi ruang pengalaman dan percakapan untuk menjaga keberlanjutan batik sebagai sumber inspirasi, kreativitas, sekaligus penghidupan bagi generasi mendatang.

Ketua Panitia Hari Batik Nasional 2026, Wira, mengatakan konsep Batik Berlayar akan menjadi salah satu agenda utama dalam perhelatan tahun ini. Batik Tulungagung diusung sebagai ikon Jawa Timur.

“Filosofinya batik akan dibawa berlayar ke dunia,” ujarnya.

Pemilihan Batik Tulungagung sebagai tema besar disebut memiliki alasan tersendiri. Menurut Wira, sejumlah motif batik Tulungagung masih mempertahankan nuansa klasik dibandingkan batik dari daerah lain di Jawa Timur.

“Produksinya masih tetap seperti itu,” katanya.

Ia berharap Batik Tulungagung semakin dikenal masyarakat luas. Pada saat yang sama, YBI akan terus memperkuat pemberdayaan perajin sebagai bagian dari upaya menjaga keberlangsungan batik.

Generasi muda juga menjadi perhatian dalam pelaksanaan HBN 2026. Pameran akan menghadirkan pengalaman yang disesuaikan dengan perkembangan teknologi, salah satunya melalui immersive experience dengan teknologi layar sentuh.

Berdasarkan jadwal panitia, pameran HBN 2026 dimulai 30 September di Atrium Tunjungan Plaza 3 Surabaya. Sementara Batik Berlayar berlangsung pada 2 Oktober menyusuri Sungai Kalimas.

Pada tanggal yang sama dijadwalkan kuliah umum yang akan diisi Menteri Perindustrian Agung Gumiwang Kartasasmita sebagai bagian dari puncak perayaan. Sementara immersive experience tersedia sepanjang pelaksanaan pameran di Atrium Tunjungan Plaza.

Tag :

Berita Terbaru

Tak Bisa Narik Ojol Usai Kecelakaan, Hasim Dapat Kursi Roda dan Modal Dagang dari Kapolres Gresik

Tak Bisa Narik Ojol Usai Kecelakaan, Hasim Dapat Kursi Roda dan Modal Dagang dari Kapolres Gresik

Jumat, 18 Sep 2026 13:28 WIB

Jumat, 18 Sep 2026 13:28 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Gresik – Hampir sebulan setelah mengalami kecelakaan lalu lintas, Hasim (54), pengemudi ojek online (ojol) asal Gresik, belum bisa kembali m…

Pria Paruh Baya Dilaporkan ke Polres Blitar Kota Usai Curi Uang Istri Anggota DPR RI

Pria Paruh Baya Dilaporkan ke Polres Blitar Kota Usai Curi Uang Istri Anggota DPR RI

Jumat, 18 Sep 2026 13:18 WIB

Jumat, 18 Sep 2026 13:18 WIB

SURABAYAPAGI.com, Blitar - AS pria berusia 59 warga Jajan Sudanco Supriadi, Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, kini harus meringkuk dalam…

Jargas 7.363 Sambungan di Menganti Rampung, Tinggal Menunggu Gas Mengalir

Jargas 7.363 Sambungan di Menganti Rampung, Tinggal Menunggu Gas Mengalir

Jumat, 18 Sep 2026 13:16 WIB

Jumat, 18 Sep 2026 13:16 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Gresik – Warga Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, segera menikmati layanan jaringan gas bumi (Jargas) rumah tangga. Pembangunan i…

Tetapkan Lima Tersangka, Kejati Jatim Ungkap Dugaan Penyimpangan KUR BNI Jember

Tetapkan Lima Tersangka, Kejati Jatim Ungkap Dugaan Penyimpangan KUR BNI Jember

Jumat, 18 Sep 2026 13:05 WIB

Jumat, 18 Sep 2026 13:05 WIB

SurabayaPagi, Jember — Pengusutan dugaan korupsi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) Mikro di Jember terus berkembang. Kejaksaan Tinggi Jawa Timur (Kejati J…

KUR Jember Dibongkar: Warga Difoto di Kandang Kambing, SH Jadi Tersangka Kelima

KUR Jember Dibongkar: Warga Difoto di Kandang Kambing, SH Jadi Tersangka Kelima

Jumat, 18 Sep 2026 12:40 WIB

Jumat, 18 Sep 2026 12:40 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya — Penanganan perkara dugaan korupsi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) Mikro pada PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Cabang J…

Maknai Hari Pelanggan Nasional, PLN UIT JBM Berikan Peningkatan Sistem Proteksi Bagi Pelanggan Industri Strategis

Maknai Hari Pelanggan Nasional, PLN UIT JBM Berikan Peningkatan Sistem Proteksi Bagi Pelanggan Industri Strategis

Jumat, 18 Sep 2026 11:15 WIB

Jumat, 18 Sep 2026 11:15 WIB

SurabayaPagi, Gresik – Memaknai momentum Hari Pelanggan Nasional 2026 di bulan September ini, PLN Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Timur dan Bali (UIT JBM) t…