“Pahlawan Berkeadilan”

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
SURABAYA di bulan November ini selalu paling mentereng di antara kota-kota di Indonesia dalam bingkai dunia. 10 November 1945 menjadi titik simpul yang menyuguhkan historiografi komitmen unggul mempertahankan NKRI. Sebuah lembar sejarah yang lebar dengan “kain dasar” berupa Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang telah dihamparkan. Dan hari-hari ini prestasi Surabaya terbidik “menepuk dada membusung raga” menghadiahkan “supremasi ekologis” yang gemilang. Penghargaan-penghargaan bergengsi diraih tanpa mampu disaingi oleh kota manapun di Indonesia. Dunia terkagum dan nyaris tertegun dengan “rupa” Surabaya yang Sparkling. Setiap gang-gang kota ditata dan lingkungan dijadikan patokan yang “mengimami persembahyangan” pembangunan berkelanjutan. Soal program taman kota janganlah ditanya. Semua serba kinclong dan lebar trotoarnya “merangsek jalanan”. Pedestrian nyaman dengan warna yang pas buat “bermesraan dengan semesta kota”. Cantik nian kota dimana saya tinggal. Inilah puja puji yang harus kutuang di kontemplasi tepat 10 November 2017. Warga berpartisipasi dan pemerintah hadir memfasilitasi, jarene. Berita diunggah dengan kesan monosuara: Surabaya memang mengagumkan. Begitu umum membacanya. Memanglah setiap kota telah menorehkan sejarahnya sendiri. Setiap kota memiliki watak dan watuknya yang khas. Setiap kota pada dasarnya adalah cerminan bagi kondisi fisik dan psikis penghuninya. Kota adalah habitat kehidupan bagi ”kodrat anak-anaknya”. Kota pada ujung ceritanya merupakan retasan perjalanan panjang atas takdir warganya. Surabaya telah mencetak kisah yang legendaris bagi kehidupan Nusantara. Sebagai Kota Pahlawan sesungguhnya Surabaya dapat berkata lantang bahwa dirinya adalah ”taman heroisme” bagi Indonesia. Republik ini secara bijak musti berterima kasih kepadanya yang telah memberi corak kepribadian tangguh bagi semua komponen negeri ini. Arek Surabaya adalah “arakan tekad” dengan “satu nyali”: wani (selirikan dengan jargon Arek-arek Bonek). Sebagaimana dikisahkan dalam beragam buku sejarah dan pitutur leluhur yang terlibat langsung dalam peristiwa 10 hari pertama di bulan November tahun 1945. Pada hari-hari yang melelahkan (namun berkah) itu seluruh Arek Suroboyo cancut taliwondo (bersatu tekad) untuk melawan Pasukan Sekutu. Ultimatum untuk menyerah dengan tegas dan tegar ditolak Arek Suroboyo. Ini menandakan bahwa Surabaya tidak akan pernah tunduk pada rekayasa luaran apalagi tertunduk lesu di pangkuan geliat kolonialisme. Surabaya adalah kota yang mencitrakan kemerdekaan sejati – kota yang berprinsip dan punya harga diri, apalagi santri yang sudah direstui kiai. Bung Tomo membuktikan diri meski rumah pidatonya kini “terkubur oleh penguasanya” sendiri. Dalam lingkup kepahlawanan, warga Surabaya selayaknya berbangga bahwa kita adalah ”sepasukan singa” yang siap mengaumkan kebenaran bagi zamannya. Arek Suroboyo seyogianya berwatak dasar kesatria yang bersetia kawan sejati tanpa mau kompromi terhadap kezaliman siapapun dan dalam bentuk apapun. Heroisme Surabaya adalah energi raksasa bagi warga kota ini untuk selalu terdepan dalam menjelajah lorong panjang perjalanan bangsa. Meski keperihannya terkadang “hinggap tanpa janji”. Walau begitu tak elok terlena. Semua pihak musti ingat bahwa secara ekologis Surabaya dan kota-kota besar semisal Jakarta, Bandung, Semarang, Medan dan lain termasuk Sidoarjo sedang mengalami tragedi lingkungan yang mengerikan. Angka-angka lama pernah hinggap di kota metropolitan Indonesia: Pencemaran air (45%), udara termasuk azab asap yang rutin berkunjung (15-20%), laut (12-16%) dan selebihnya tersebar dalam kehancuran tanah, kerusakan sumber daya alam dan kerentangan bentang alam. Dalam koridor lingkungan dapat dikatakan bahwa tanah kehidupan ini sedang dijerat problema besar berupa degradasi ekologi. Oke ... oke ... detak waktu dan ritme kehidupan perkotaan Surabaya dan saudara-saudaranya (Jakarta, Semarang, Bandung, dll) selalu menawarkan karakter spesifiknya yang berupa penyimpangan tata ruang. Permasalahan kehidupan kota memang bermula dari keteledoran dalam menata tata ruangnya. Setiap jengkal kota ada yang membidik tidak memiliki “ketaatan dasar tata ruang”. Kota-kota yang melangkah maju bisanya mengikuti gemuruh tata uang yang membawa dampak bahwa hukum tata ruang dipersilahkan untuk mengekornya. Tata ruang Jakarta dengan kasus reklamasi misalnya dihancurkan sendiri oleh peran fungsional pemegang otoritas modal yang jauh dari idealita lingkungan. Simaklah Perda-perda RTRW sebagian besar kota di mana pembaca tinggal, sering kali menyiratkan ”kenakalan” dalam menata kota agar tidak tata. Bacalah Perda tersebut dengan menyebut nama “pemodalnya” dan kita menjadi terbelalak karena ”keanehannya”. Jagalah kota ini. Daerah-daerah seperti Wonokromo maupun Wono-wono yang lain sesuai dengan namanya, seyogianya tetap menjadi lahan konservasi, bukan kawasan berbeton. Areal hutan kota telah disemen sehingga kota sering tidak mempunyai bank air secara memadai. Kota-kota di Indonesia seperti kuda liar yang tidak tahu hendak ke mana perginya. Pengembangan kota seperti orang mabuk yang sedang kehilangan lentera pemandu. Setiap kota tidak boleh sakit karena warga kota ini harus tetap sehat jiwa dan raganya. Sebagaimana dilansir dalam gerakan internasional yang memasuki “rubrik” environmentalists Asia dan lahirnya para pahlawan lingkungan masa depan, maka Surabaya telah tampak sumringah bergerak kolektif menelurkan resolusi lingkungan dengan menarik nafas guna didesahkan dari Surabaya untuk Indonesia. Gerakan ramah lingkungan dan kejutan-kejutan kreatif warga Kota Surabaya harus terus digulirkan. Saya sangat apresiatif atas kinerja mereka selama ini meski belum maksimal. Upaya dan langkah demikian butuh dukungan politik dan publik secara bermakna termasuk para politisi. dan petinggi pemerintahan tak boleh lelah menyediakan program konseptual untuk mampu meredesain tata kota yang dikembalikan pada khittahnya. Membangun Surabaya harus berbasis ekologis-ekonomi dan sosio-kulturalnya. Secara ekonomi dan kultural terdapat pesan: jangan pasung toko pracangan milik tetangga dengan “menyembah” konglomerasi “mini market” yang melakukan “pendudukan seluruh tanah Indonesia”. Maksudnya adalah bahwa membangun kota harus memperhatikan kebutuhan dasar (bukan keinginan dasar) sesuai dengan landasan realistisnya. Daerah konservasi ya untuk konservasi dan jangan dijadikan kawasan pertokoan atau perumahan. Atau kalau membangun kawasan rumah-rumah mewah ada regulasi yang mewajibkan pengembang untuk memperuntukkan minimal 10�gi penyediaan rumah rakyat miskin perkotaan. Jadi dengan logika ini dapat dibangun suatu tata kelola kota yang elegan yang mengembangkan ajaran antara warga kotanya saling menyapa (bukan menyantap). Indonesia zaman now membutuhkan para pahlawan-pahlawan lingkungan yang berwawasan kerakyatan. Pahlawan ini tentu saja bukan hanya sosok pribadi tetapi juga dapat berupa sosok institusional. Balai Kota dan DPRD Kota Surabaya dapat memproduk kebijakan lingkungan (environmental policy) yang hendak menjadikan kota ini bermartabat secara ekonomi-sosial dan lingkungan. Hal ini adalah kebutuhan masa depan kota berkelanjutan (sustainable city). Kita ingin Surabaya adalah sebagai kota metropolitan (kota raya) dan bukan kota nekropolitan (kota kematian). Melahirkan ”bayi-bayi pejuang lingkungan” (eco-heroes) adalah kebutuhan. Sejarah Surabaya ke depan harus dapat menyediakan deret waktu bagi kiprah para pahlawan ekologi yang berkeadilan.
Tag :

Berita Terbaru

Laila Mufidah Temukan  TPS Lintas Wilayah Berlaku Denda Cas

Laila Mufidah Temukan  TPS Lintas Wilayah Berlaku Denda Cas

Selasa, 24 Feb 2026 03:40 WIB

Selasa, 24 Feb 2026 03:40 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Alangkah terkejutnya Wakil Ketua DPRD Surabaya Laila Mufidah saat melakukan sidak ke TPS Rungkut Menanggal. Pimpinan Dewan…

Wakil DPRD Surabaya Minta Pemkot dan Pengembang Tak Tutup Mata

Wakil DPRD Surabaya Minta Pemkot dan Pengembang Tak Tutup Mata

Selasa, 24 Feb 2026 03:37 WIB

Selasa, 24 Feb 2026 03:37 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Wakil DPRD Surabaya Laila Mufidah langsung melakukan sidak atau turun ke lapangan usai mendengar keluhan Warga di Gunung Anyar…

Sidak Takjil Pemkot Kediri Pastikan Jajanan Ramadan di Kota Kediri Aman dan Terawasi

Sidak Takjil Pemkot Kediri Pastikan Jajanan Ramadan di Kota Kediri Aman dan Terawasi

Senin, 23 Feb 2026 21:13 WIB

Senin, 23 Feb 2026 21:13 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Kediri - Pemerintah Kota Kediri memastikan keamanan jajanan takjil yang dijajakan selama bulan Ramadan melalui inspeksi mendadak (sidak) di…

Program Keluarga Harapan Plus Tahap 1 Tahun 2026 Kembali Digulirkan, Sasar 485 Lansia di Kota Kediri

Program Keluarga Harapan Plus Tahap 1 Tahun 2026 Kembali Digulirkan, Sasar 485 Lansia di Kota Kediri

Senin, 23 Feb 2026 21:09 WIB

Senin, 23 Feb 2026 21:09 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Kediri - Memasuki bulan Ramadhan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur kembali menyalurkan Program Keluarga Harapan (PKH) Plus Tahap I bagi lansia…

Refleksi Satu Tahun Kepemimpinan Dalam Apel Pagi, Mbak Wali - Gus Qowim Percepat Pembangunan dan Turunkan Kemiskinan

Refleksi Satu Tahun Kepemimpinan Dalam Apel Pagi, Mbak Wali - Gus Qowim Percepat Pembangunan dan Turunkan Kemiskinan

Senin, 23 Feb 2026 21:05 WIB

Senin, 23 Feb 2026 21:05 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Kediri - Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati memimpin apel pagi bersama jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota…

Kita Seperti Dijajah AS

Kita Seperti Dijajah AS

Senin, 23 Feb 2026 20:11 WIB

Senin, 23 Feb 2026 20:11 WIB

MUI Minta Kaji Ulang Perjanjian Dagang AS-Indonesia yang Salah Satu Kesepakatannya Menyebut Produk asal AS yang Masuk ke Indonesia tidak Memerlukan Sertifikasi…