Baca Ini Dulu! Sebelum Sebut Micin Penyebab Kebodohan

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
SURABAYAPAGI.com-Jakarta, Realitas seputar generasi micin, sudah mewabah ke mana-mana. Bahkan jadi trending topik di kalangan remaja saat ini. Terlepas dari sifatnya mau serius atau bercanda, pasti banyak di antara kalian yang sering mendengar atau bahkan melontarkan sendiri kalimat ejekan seperti di atas. Apakah micin beracun ? Sampai-sampai sering disebut sebagai penyebab kebodohan? Apakah memang benar-benar ada penelitian soal micin yang mengatakan kalau dia terbukti bisa menyebabkan otak jadi tumpul? Citra buruk micin ini ternyata tidak main-main. Buktinya sampai banyak restoran yang melabeli diri mereka ‘No MSG. Label ini seolah-olah sama pentingnya dengan label ‘Halal’ atau ‘No Pork’, yang kalau sengaja dikonsumsi orang muslim bisa menimbulkan dosa karena melanggar apa yang diharamkan. Secara tak sadar digunakan sebagai patokan orang dalam memilih tempat makan. Sebelum judge macam-macam, simak dulu fakta kenapa awalnya micin bisa dianggap berbahaya layaknya racun ini. Micin pertama kali diciptakan Prof. Kikunae Ikeda. Dari penelitiannya itu, ia jadi bisa menciptakan rasa kelima selain manis, asam, pahit, asin. Disebut-sebut sebagai sumber dari kebodohan manusia, micin yang bahasa ilmiahnya disebut monosodium glutamat (MSG), justru diciptakan seorang profesor asal Tokyo Imperial University Jepang, Kikunae Ikeda, pada tahun 1908. Awalnya ia terinspirasi dari masakan istrinya sendiri yang begitu lezat. Setelah ditanya ternyata ia kerap menggunakan rumput laut kering yang disebut ‘kombu’. Melarutkan kombu ke dalam air panas akan menjadikannya kaldu dashi yang memiliki rasa umami atau gurih. Rasa ini disebut-sebut sebagai rasa ke-5 setelah manis, asam, pahit, asin. Ikeda kemudian menambahkan bahan lain seperti natrium untuk mengubah larutan itu menjadi bubuk penyedap masakan. Dari situ ia kemudian mematenkan penemuannya dan membuat Ajinomoto untuk pertama kalinya. Dan ternyata kandungan dalam MSG yaitu glutamat, sebenarnya secara alami dapat ditemukan juga di tomat, keju, permesan, jamur kering, kecap, buah dan sayur, bahkan ASI! Pada 1968, MSG tiba-tiba mendapat cap buruk setelah Dr. Ho Man Kwok mengirim surat tentang Chinese Restaurant Syndrom (CRS) ke sebuah jurnal kesehatan Ternyata ‘ketakutan’ masyarakat akan micin tidak secara langsung terjadi begitu saja. Pada 1968 ada seorang profesor bernama Dr. Ho Man Kwok yang mengklaim bahwa dirinya merasakan sakit di leher belakang hingga ke lengan dan punggung, dengan disertai lemas dan berdebar-debar setiap kali makan di restoran Cina. Konon katanya, Kwok menyalahkan MSG sebagai penyebab sindrom yang kemudian dinamakan Chinese Restaurant Syndrom (CRS) ini. Kwok kemudian menulis surat ke New England Journal of Medicine tentang keresahannya ini. Kwok juga memperkuatnya dengan memaparkan beberapa penelitian tentang efek dari MSG. Salah satunya riset oleh Dr. John W. Olney dari Universitas Washington yang melibatkan tikus. Olney menyuntikkan MSG sebesar 4 gram/kg berat tubuh tikus. Hasilnya tikus tumbuh lebih kerdil, gemuk, dan beberapa ada yang mandul. Gula sama garam juga kalau dikonsumsi berlebih bisa memicu komplikasi. Perdebatan ini berlangsung cukup lama, bahkan sampai bisa menciptakan persepsi umum kalau ‘micin bisa membuat bodoh’ Komplain dari Dr. Kwok itu konon membuat banyak peneliti jadi berlomba-lomba bereksperimen sama micin ini. Simpang siur informasi soal dampak buruk micin ini tersebar layaknya ‘virus’. Bahkan hingga kini masih banyak masyarakat yang lebih memilih buat nggak menambahkan micin pada pesanan baksonya atau banyak makanan lain. Bahkan soal efek micin ini sudah jadi bahan bercandaan di banyak kelompok pertemanan. Lebih buruk, micin tak berdosa ini sampai dianggap sebagai penyebab kebodohan umat manusia. Padahal ‘kan orang bisa bodoh ya karena nggak belajar! Pada 1995, badan pengawas obat dan makanan di AS membuat eksperimen tentang efek MSG ini. Hasilnya, MSG tergolong bahan yang aman dikonsumsi Pada 1995 akhirnya ada juga kejelasan soal efek micin ini. Dilansir dari Kompas, Food and Drug Administration (FDA) di AS meminta Federasi Masyarakat Amerika untuk Biologi Eksperimental, melihat dampak sebenarnya dari micin. Hasilnya beberapa kelompok individu memang menunjukkan respon buruk terhadap MSG dalam dosis besar, yang dirasakan satu jam setelah mengonsumsinya. Tapi kadarnya memang 3 gram tanpa makanan. Padahal kebanyakan orang mengonsumsi MSG rata-rata cuma 0,55 gram/hari, dan dicampur makanan juga. Beberapa riset juga menunjukkan hasil serupa. Atas dasar penelitian-penelitian tersebut, FDA akhirnya menetapkan MSG sebagai GRAS (Generally Recognised As Safe) alias bumbu penyedap yang aman dikonsumsi. Iy/kps/hpw
Tag :

Berita Terbaru

Hadapi Anomali Musim, Produksi Tembakau di Jombang Menyusut 50 Persen

Hadapi Anomali Musim, Produksi Tembakau di Jombang Menyusut 50 Persen

Kamis, 01 Okt 2026 14:21 WIB

Kamis, 01 Okt 2026 14:21 WIB

SURABAYAPAGI.com, Jombang - Fenomena cuaca yang cenderung kering membuat kualitas daun tembakau relatif baik, namun pasokan air yang terbatas menyebabkan hasil…

Angka Stunting Naik 2 Persen, Pemkot Batu Perkuat Intervensi Lintas Sektor

Angka Stunting Naik 2 Persen, Pemkot Batu Perkuat Intervensi Lintas Sektor

Kamis, 01 Okt 2026 14:15 WIB

Kamis, 01 Okt 2026 14:15 WIB

SURABAYAPAGI.com, Batu - Pemerintah Kota (Pemkot) Batu mencatat adanya kenaikan sekitar 2 persen dibandingkan dengan periode sebelumnya, yakni dari 10,19…

Tegaskan Masih Uji Lab, Bantuan Seragam Gratis di Lumajang Molor Hingga Oktober 2026

Tegaskan Masih Uji Lab, Bantuan Seragam Gratis di Lumajang Molor Hingga Oktober 2026

Kamis, 01 Okt 2026 13:09 WIB

Kamis, 01 Okt 2026 13:09 WIB

SURABAYAPAGI.com, Lumajang - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Lumajang menegaskan adanya keterlambatan distribusi seragam gratis bagi…

Warga Baosan Lor Ponorogo Jadi Korban KM Virgo Transport 8, Hingga Kini Masih Hilang

Warga Baosan Lor Ponorogo Jadi Korban KM Virgo Transport 8, Hingga Kini Masih Hilang

Kamis, 01 Okt 2026 12:29 WIB

Kamis, 01 Okt 2026 12:29 WIB

SURABAYAPAGI.com,Ponorogo — Keluarga Menika Susanti, warga Dukuh Krajan, Desa Baosan Lor, Kecamatan Ngrayun, Kabupaten Ponorogo, hingga kini masih menunggu k…

Usai Dinas Kominfo, Kini Giliran Kantor Dinas Perdagangan Kota Madiun Yang Digeledah KPK

Usai Dinas Kominfo, Kini Giliran Kantor Dinas Perdagangan Kota Madiun Yang Digeledah KPK

Kamis, 01 Okt 2026 12:28 WIB

Kamis, 01 Okt 2026 12:28 WIB

‎SURABAYAPAGI.com, Madiun – Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali melakukan penggeledahan di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Mad…

Menyambung Hidup Ratusan UMKM: Cerita di Balik Rak Oleh-Oleh Bu Rudy

Menyambung Hidup Ratusan UMKM: Cerita di Balik Rak Oleh-Oleh Bu Rudy

Kamis, 01 Okt 2026 12:22 WIB

Kamis, 01 Okt 2026 12:22 WIB

SurabayaPagi, Surabaya – Rak-rak di Pusat Oleh-Oleh Bu Rudy Surabaya tidak hanya berisi makanan ringan, sambal, kerupuk, minuman, atau kerajinan tangan. Di b…