SURABAYAPAGI.COM, Jakarta- Direktur Sistem Inovasi, Ophirtus Sumule menjelaskan, Program Klaster Inovasi, Kemenristekdikti mendapat respon positif dari semua unsur pembangunan di daerah, Program klaster inovasi ini, diharapkan dapat meningkatkan pendapatan, dan kesejahteraan masyarakat, serta penyediaan lapangan pekerjaan.
"Disamping itu, juga diharapkan berdampak pada daya saing daerah melalui kegiatan kolaboratif antara akademisi, bisnis, pemerintah, dan komunitas, dalam meningkatkan daya saing produk unggulan daerah melalui inovas," ucap Direktur Sistem Inovasi, Ophirtus Sumule, di sela-sela Workshop Klaster Inovasi di Hotel Aryaduta, Jakarta, Kamis (1/8).
Program Klaster Inovasi yang kini memasuki tahun ke-3, urai Ophirtus Sumule, ditahun 2019 ini, fokus pada program klaster inovasi. Yakni, terbentuknya industri Produk Unggulan Daerah (PUD) berbasis kolaborasi, adanya akuisisi dan difusi teknologi.
"Namun permasalahannya, kapasitas pengelola klaster inovasi, terbatas dalam hal pengelolaan industri, dan mengembangkan usaha. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka diadakanlah Workshop Klaster Inovasi. Dan kita mengundang pakar dari Astra Ventura, pelaku bisnis agro, dan sebagainya,” kata Ophirtus.
Workshop yang diwarnai diskusi dengan perguruan tinggi, dunia usaha, dan pemerintah ini, hasilnya akan dirumuskan menjadi sebuah kebijakan nasional, dan menghasilkan rumusan, disesuakan potensi yang dimiliki setiap daerah tersesbut.
Workshop tersebut, dihadiri oleh tujuh penerima Program Pendanaan Perumusan, Pendampingan dan Implementasi Klaster Inovasi Tahun 2019. Adapun ke-7 klaster inovasi tersebut masing-masing adalah PUD Pala Maluku Utara, Kopi Arabika Sulawesi Selatan, Madu Lombok Utara NTB, Klaster PUD Nilam Aceh, Klaster PUD Gula Aren Sulawesi Selatan, Klaster PUD Kakao Sulawesi Tenggara, dan Klaster PUD Lada Putih Bangka Belitung.
“Ada 7 klaster inovasi yang sekarang ini kita dorong jadi produk. Kemudian kita melihat, bahwa produk-produk itu, menjadi basis pengembangan industri, dan teman-teman dari dunia usaha ini kita undang, untuk mencoba melihat, seumpamanya lada, produknya bisa dibuat menjadi beragam produk. Setelah itu dilihat mana yang paling laku. Selanjutnya, kita akan riset apa yang kira-kira akan dilakukan, dan teknologi apa yang bisa diterapkan untuk memproduksinya,” paparnya.
Menurut Ophirtus, hanya 7 Klaster Inovasi yang dipilih. Hal itu dilihat dari kesiapan pemerintah daerahnya dan kesiapan perguruan tinggi, untuk bisa mengembangkan.
"Kalau pemerintah daerahnya tidak serius ya, buat apa masuk ke sana. Karena dampaknya dirasakan di pemerintah daerah, dan masyarakat di daerah tersebut," urainya.ds
Editor :
Mariana Setiawati
Berita Terbaru
Selasa, 23 Jun 2026 14:34 WIB
Selasa, 23 Jun 2026 14:34 WIB
SurabayaPagi, Surabaya - Ekonomi Jawa Timur menunjukkan kinerja yang semakin kuat pada awal 2026.
Bank Indonesia (BI) mencatat perekonomian Jawa Timur pada…
Selasa, 23 Jun 2026 14:29 WIB
Selasa, 23 Jun 2026 14:29 WIB
SurabayaPagi, Surabaya - Musim kemarau yang identik dengan cuaca panas dan minim hujan seolah kehilangan polanya di Surabaya. Hujan deras yang mengguyur Kota…
Selasa, 23 Jun 2026 14:25 WIB
Selasa, 23 Jun 2026 14:25 WIB
SURABAYAPAGI.com, Malang - Sebagai upaya menciptakan iklim usaha pariwisata yang sehat dan tertib melalui penguatan penegakan regulasi, Pemerintah Kota…
Selasa, 23 Jun 2026 14:11 WIB
Selasa, 23 Jun 2026 14:11 WIB
SURABAYAPAGI.com, Probolinggo - Melihat fenomena gangguan layanan air bersih akibat distribusi PDAM yang mati selama kurang lebih 15 hari di Dusun Krajan RT 06…
Selasa, 23 Jun 2026 14:09 WIB
Selasa, 23 Jun 2026 14:09 WIB
SURABAYAPAGI.com, Lumajang - Sebagai bagian dari upaya percepatan infrastruktur untuk meningkatkan konektivitas antarwilayah serta memperlancar mobilitas…
Selasa, 23 Jun 2026 13:40 WIB
Selasa, 23 Jun 2026 13:40 WIB
SURABAYAPAGI.com, Madiun - Dalam rangka meningkatkan kualitas sektor pendidikan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Madiun telah berkomitmen untuk memperkuat…