SURABAYAPAGI.COM, Mojokerto - Lahan pertanian di Dusun Sonosari, Desa Canggu, Kecamatan Jetis makin kritis karena terkikis aliran Sungai Kedungsumur. Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Mojokerto meninjau langsung lokasi terdampak yang mengakibatkan sawah warga seluas kurang lebih 1,7 hektare amblas.
Sidak yang dipimpin Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Mojokerto Pitung Hariyono merupakan tindak lanjut dari hasil audiensi bersama Pemerintah Desa (Pemdes) Canggu, Kamis (23/2). Kerusakan di lahan pertanian yang terjadi menahun itu kondisinya kian parah karena kontur tanahnya berpasir. ’’Memang tanah warga lama-kelamaan bisa hilang kalau terus tergerus sungai,’’ terang Pitung usai sidak, kemarin.
Disebutkannya, berdasarkan keterangan petani dan Pemdes Canggu, luas sawah yang terdampak gerusan aliran Sungai Kedungsumur kini telah mencapai kisaran 1,7 hektare. Akibatnya, lahan pertanian yang sebelumnya produktif kini dipastikan puso karena tak lagi bisa digunakan bercocok tanam. ’’Informasinya kurang lebih 1,7 hektare yang tergerus, tapi riilnya kami tidak tahu karena lahan sudah tergerus,’’ bebernya.
Selain komisi III DPRD, peninjauan lokasi terdampak kemarin juga dilakukan bersama Dinas PUPR dan Dinas Pertanian Kabupaten Mojokerto. Namun, ungkap Pitung, penanganan gerusan aliran sungai itu berada di bawah kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas.
Karena itu, politisi PKB ini menyebut bakal mengagendakan untuk mendatangi kantor BBWS Brantas bersama perwakilan petani terdampak. Selain menyampaikan secara langsung permintaan petani yang menginginkan agar dilakukan normalisasi. ’’Harapannya warga bisa segera di tanggul dan dikembalikan semula,’’ tandasnya.
Di sisi lain, legislatif juga meminta organisasi perangkat daerah (OPD) terkait juga turut mengawal penanganan agar persoalan terkikisnya lahan pertanian di Dusun Sonosaribisa segera teratasi. ’’Walaupun tidak memiliki kewenangan, tapi ini menyangkut warga Kabupaten Mojokerto yang dirugikan,’’ papar Pitung.
Sementara itu, Kabid Sumber Daya Air DPUPR Kabupaten Mojokerto Rois Arif Budiman yang juga turut meninjau lokasi terdampak menambahkan, terkikisnya sawah warga tepat berada di sisi luar belokan Sungai Kedungsumur. Sebaliknya, di sisi dalam menumpuk sedimen. ’’Jadi, memang harus ada penanganan yang menyeluruh,’’ tambahnya.
Dia menyebut, DPUPR telah menindaklanjutinya dengan bersurat ke BBWS Brantas. Terakhir, surat kedua diluncurkan pekan kemarin terkait permintaan penanganan di aliran sungai yang bermuara ke Sungai Mas tersebut.
Terkait bentuk penanganan, Rois menyebutkan sepenuhnya tergantung dari hasil perencanaan teknis dari BBWS Brantas. Menurutnya, pengembalian lahan pertanian diperkirakan sulit direalisasikan karena alur sungai sudah terlanjur terbentuk. ’’Mungkin akan dibangun pengaman biar nanti tidak meluas. Tapi kita tunggu dari BBWS nanti bagaimana penanganannya,’’ tandasnya.
Terpisah, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Mojokerto Nurul Istiqomah menambahkan, terkikisnya lahan pertanian di Dusun Sonosari telah berlangsung setiap musim penghujan. Namun, pihaknya mengaku tidak bisa melakukan penanganan karena terbentur kewenangan. ’’Memang tergerus sudah bertahun-tahun. Tapi semoga BBWS nanti bisa menyelesaikan agar tidak semakin meluas,’’ tambahnya. Dwi
Editor : Moch Ilham