UNICEF, Unusa, dan Pemprov Jatim Kompak Perangi Wasting hingga Stunting

author Lailatul Nur Aini

- Pewarta

Rabu, 15 Mei 2024 18:25 WIB

UNICEF, Unusa, dan Pemprov Jatim Kompak Perangi Wasting hingga Stunting

SURABAYAPAGI, Surabaya - Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) berkolaborasi dengan UNICEF dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya gizi buruk atau wasting hingga stunting.

Kegiatan ini melibatkan organisasi wanita berbasis agama, Fatayat Nahdlatul Ulama (NU), dengan menghadirkan 101 Ning dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Baca Juga: Imigrasi Surabaya: 282 Anak WNI-WNA di Jatim Belum Pilih Kewarganegaraan

Arie Rukmantara, Chief Field Office UNICEF di Surabaya, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam upaya pencegahan wasting.

"Unicef percaya pada slogan anak-anak muda terkini, 'colabs or collapse', berkolaborasi atau gagal. Kolaborasi dengan organisasi berbasis agama dan wanita sangat krusial untuk mendeteksi dini dan merujuk anak-anak yang menderita wasting," kata Arie, saat ditemui pada acara Roadshow 'Ayo Cegah dan Obati Wasting Biar Ga Stunting' di Unusa, Surabaya, Rabu, (15/5/2024).

Sekedar informasi, pada roadshow ini terdapat berbagai kegiatan edukatif dan lomba khotbah da’i cilik, juga dilakukan pengukuran Lingkar Lengan Atas (LiLA) untuk deteksi dini wasting secara serentak dengan melibatkan lebih dari 1000 balita.

Menurut Arie, organisasi berbasis agama memiliki peran strategis dalam memberikan edukasi kepada masyarakat. "Kerja sama ini penting untuk mendekatkan diri pada populasi muda, agar mereka menjadi promotor edukator wasting sebelum stunting," sambungnya.

Berdasarkan Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 menunjukkan angka prevalensi stunting di Indonesia bertahan di 21,5 persen, sementara prevalensi wasting naik dari 7,7 persen di tahun 2022 menjadi 8,5 persen di tahun 2023.

Sedangkan di Jatim sendiri, prevalensi wasting menurun dari 9,2 persen pada tahun 2019 menjadi 7,2 persen pada tahun 2022, namun kolaborasi tetap diperlukan untuk mempercepat penurunan angka gizi buruk tersebut.

Kendati demikian, menurut Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes Jatim dr. Waritsah Sukarjiyah mengaku bahwa Pemprov Jatim melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) mengaku sudah melakukan berbagai upaya untuk menurunkan angka tersebut di Bumi Majapahit ini.

Baca Juga: Cucu Pendiri NU Sambut Baik KH Marzuki Mustamar Cagub Jatim

"Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah melakukan berbagai upaya dalam mempercepat penurunan angka stunting," ungkapnya.

Lanjut Waritsah, Pemprov Jatim telah membentuk Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Provinsi melalui SK Gubernur Jawa Timur No 188/977/KPTS/013/2022.

Tim tersebut, secara khusus diketuai oleh Sekretaris Daerah Provinsi Jatim. Tim inilah yang menjadi penggerak dalam melakukan koordinasi, memastikan kebijakan program penurunan stunting menjadi program prioritas di seluruh dinas dan 38 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur.

"Penilaian pelaksanaan 8 Aksi Konvergensi juga sudah dilakukan sejak tahun 2020 untuk memantau pencapaian pelaksanaan program yang berkontribusi kuat terhadap penurunan angka stunting di Provinsi Jawa Timur," jelas Warits.

Sementara itu, ditemui pada kesempatan yang sama, Rektor Unusa, Achmad Jazidie, menyatakan rasa syukur atas kepercayaan yang diberikan kepada Unusa sebagai tuan rumah kampanye ini.

Baca Juga: Komisi D Siapkan Regulasi Baru Imbas Demo di Rusun Milik Pemprov Jatim

"Unusa satu himpunan dengan ning-ning yang kali ini dilibatkan dalam penanganan bebas wasting supaya tidak stunting," paparnya.

Jazidie menegaskan komitmen Unusa dalam menangani gizi buruk bersama UNICEF untuk memastikan masa depan Indonesia yang sehat. "Ada dua pendekatan yang bisa dilakukan, yaitu pendekatan sensitif oleh tim kesehatan dan gizi, serta pendekatan spesifik yang melibatkan peran perguruan tinggi, organisasi wanita atau remaja, dan perangkat desa," terang Jazidie.

Dengan adanya seruan seperti ini diharapkan dapat meningkatkan partisipasi aktif masyarakat dalam deteksi dini dan penanganan wasting, serta mempercepat penurunan angka stunting dan wasting di Jawa Timur dan Indonesia secara keseluruhan.

"Jika kita tidak bisa mengatasi stunting di Republik ini, kita semua mengalami dosa konstitusi, karena janji konstitusi adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Anak-anak yang mengidap stunting akan mengalami hambatan dalam kecerdasan," pungkasnya. Ain

Editor : Mariana Setiawati

BERITA TERBARU