SURABAYAPAGI, Surabaya - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Perwakilan Provinsi Jawa Timur membeberkan pertumbuhan ekonomi regional di bumi Mojopahit ini cukup stabil meski diterjang Inflasi pada Triwulan I, yakni periode sampai dengan 30 April 2024.
Kepala Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Taukhid menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Jawa Timur (Jatim) pada Triwulan I-2024 mencapai 4,81 persen (yoy) dan masih menjadi kekuatan ekonomi kedua di Pulau Jawa.
"Jika dilihat secara nasional, Jawa Timur berkontribusi 14,46 persen terhadap total PDB Indonesia. Tentunya ini mampu melampaui pertumbuhan ekonomi nasional dan mempertahankan posisinya sebagai kekuatan ekonomi kedua di Pulau Jawa dengan kontribusi sebesar 25,07 persen," kata Taukhid, saat ditemui pada kegiatan Press Conference APBN KiTa Regional Jatim, di GKN I, Surabaya, Senin, (20/5/2024).
Lebih lanjut, tingkat inflasi pada bulan April 2024 ini sebesar 3,25 persen (y-o-y) atau naik 0,36 persen (m-to-m) Menurut Taukhid, hal ini dipengaruhi oleh kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, serta pakaian dan alas kaki.
"Beras, daging ayam ras, dan telur ayam ras menjadi penyumbang utama inflasi, terutama pada momen Idul Fitri," sambungnya.
Lanjut Taukhid, Inflasi ini akan selalu tetap dibutuhkan, namun pihaknya akan tetap menjaga kestabilannya hingga akhir 2024 agar tidak lebih dari 2,5 persen.
"Inflasi itu kumulatif, sedangkan sekarang ini sudah mencapai 3,5 persen. Jangan sampai diatas 2,5 sampai diakhir tahun. Kita terus kendalikan, oleh karena itu tim TPID terus berjalan untuk melakukan mitigasi berbagai kemungkinan supaya bisa mengendalikan inflasi ini," tutur Taukhid.
Namun, dilain pihak kinerja ekspor Jawa Timur menunjukkan peningkatan signifikan dengan nilai ekspor mencapai USD 2,51 miliar, naik 34,75 persen (y-o-y) dan 39,10 persen (m-to-m) yang didominasi oleh ekspor non-migas sebesar 97,66 persen dari total ekspor.
Sementara itu, impor mengalami kontraksi 4,36 persen (y-o-y) dengan nilai USD 2,50 miliar namun tumbuh 4,03 (m-to-m), yang mana juga didominasi oleh impor Non Migas mencapai USD 1,87 miliar.
Pada sektor pariwisata mencatat jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Jawa Timur pada Maret 2024 meningkat 75 persen (y-o-y) dengan 18.543 kunjungan dibandingkan pada Maret 2023 silam.
"Tapi kalau dibandingkan Februari 2024 bisa mencapai 28.026 kunjungan, sehingga terjadi penurunan sebesar 33,84 persen. Tingkat penghunian kamar hotel juga menurun menjadi 43,53 persen pada Maret 2024 dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 50,53 persen," paparnya
Terkait realisasi APBN Regional, Taukhid mengaku bahwa menunjukkan kinerja yang baik, dengan realisasi Pendapatan Negara yang mampu menembus Rp89,01 Triliun dari target Rp278,75 Triliun.
"Apabila dilihat secara keseluruhan APBN di Jatim sampai dengan 30 April 2024 ini cukup baik, dengan capaian surplus hingga Rp46,04 triliun atau 30,94 persen dari target surplus diangka Rp148,8 triliun," terang Taukhid.
Tak hanya itu, Penerimaan atau Pendapatan Pajak dari Januari hingga April 2024 juga berhasil mencatat pertumbuhan yang positif, yakni mencapai Rp40,3 Triliun atau sebesar 33,25 persen dari target penerimaan.
Taukhid menyebut jika dari PPN dan PPnBM menyumbang penerimaan terbesar pada periode ini yakni mencapai 54,40 persen yang disusul dengan PPh Non Migas sebesar 45,04 persen.
Serta peningkatan pembayaran PPh Pasar 21 dengan adanya kenaikan pembayaran THR dan bonus hari raya juga menjadi salah satu menyumbang pendapatan pajak terbesar.
Namun, sangat disayangkan penerimaan bea cukai terkontraksi sebesar 0,59 persen akibat penurunan pemesanan pita cukai, meskipun produksi rokok tumbuh tipis.
"Tapi kabar baiknya penerimaan bea masuk tumbuh 8,49 persen mencapai Rp165,75 miliar yang didorong oleh peningkatan nilai impor," ungkapnya.
Meski pertumbuhan Jatim cukup signifikan, Taukhid menyebut terdapat tantangan perekonomian Jatim tidak terelakkan dan harus diwaspadai.
"Yang pertama itu tadi penerimaan perpajakan kita itu tumbuh 8,03 persen ini perlu kita waspadai karena kita menginginkan pertumbuhannya itu bisa paling tidak diatas 10 persen," ungkap pria yang pernah mengenyam ilmu Magister Manajemen, di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta itu.
"Kemudian untuk ke pabean cukai, terutama di cukai yang mengalami kontraksi 0,9 persen. Ini harus kita waspadai pengaruh dari menurunnya produksi rokok SKM itu cukup dirasakan. Semoga ini tidak berkepanjangan, sehingga kita bisa mendorong terus. Ini juga ada SKT dan lain-lainnya mengalami pertumbuhan," pungkasnya. Ain
Editor : Mariana Setiawati