Fenomena Mudik dan Reuni: Mencari Qalbun Salim di Tengah Validasi Sosial

author Muhajirin

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news

               Oleh:

DR. (HC). SYAHRUL MUNIR, M.Pd.

Menurut informasi dari Pemerintah Kabupaten Lamongan, puncak arus mudik terjadi pada tanggal 18 - 19 Maret 2026, yang bertepatan dengan masa libur sekolah dan cuti bersama, atau tepat sebelum perayaan Idul Fitri 1447 H. Volume kedatangan penumpang di Stasiun Lamongan pun tampak meningkat setiap harinya.

Diketahui, mudik dan tradisi reuni—baik berbalut halal bi halal keluarga, kawan sekolah, maupun rekan kerja—telah mengakar kuat sebagai institusi sosial-budaya di Indonesia. Secara sosiologis, fenomena ini merupakan ritus komunal yang berfungsi untuk merawat kohesi sosial, merekatkan kembali memori kolektif, serta memberikan jeda dari alienasi kehidupan modern, terutama bagi kaum urban. 

Namun, jika dikuliti lebih dalam, tidak jarang ruang-ruang perjumpaan ini mengalami pergeseran makna dari sekadar ajang penyambung tali silaturahmi menjadi panggung etalase sosial atau menjadi jebakan validasi duniawi.

Secara teologis, anjuran silaturahmi dalam Islam sangatlah agung. Rasulullah SAW menegaskan bahwa menyambung tali persaudaraan dapat melapangkan rezeki dan memanjangkan umur (HR. Bukhari dan Muslim). Hal ini mengindikasikan bahwa perjumpaan antarmanusia seharusnya membawa keberkahan dan ketenangan.

Realitasnya, ruang reuni dan mudik kerap memunculkan kecemasan sosiologis. Pertanyaan-pertanyaan klise seperti "Sekarang kerja di mana?", "Kapan nikah?", "Anaknya sudah berapa?", atau sekadar mengamati kendaraan yang dibawa pulang ke kampung halaman, tanpa disadari mengubah halal bi halal menjadi arena komparasi kelas sosial. 

Harta (materi/jabatan) dan keturunan (keluarga/anak) dijadikan tolok ukur kesuksesan eksistensial seseorang. Di titik inilah, esensi saling memaafkan dan menyucikan jiwa (kembali ke fitrah) berpotensi tereduksi menjadi ajang unjuk gigi kebanggaan duniawi semata.

Menyikapi fenomena ini, Al-Qur'an telah memberikan landasan filosofis dan peringatan eskatologis yang sangat tajam terkait apa yang sebenarnya bernilai di hadapan Sang Pencipta: (yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (Qalbun Salim). (QS. As-Syu'ara: 88-89)

Korelasi ayat ini dengan fenomena mudik dan reuni sangatlah presisi. Dua elemen yang paling sering menjadi instrumen kebanggaan saat berkumpul dengan kerabat adalah harta (simbol pencapaian ekonomi/karir) dan anak-anak (simbol penerus dan status sosial). Al-Qur'an secara lugas mendekonstruksi kebanggaan tersebut dengan menyatakan bahwa keduanya tidak memiliki nilai tukar (kemanfaatan) yang hakiki pada hari akhir kelak, kecuali jika dibersamai dengan Qalbun Salim (hati yang bersih, selamat, dan damai).

Qalbun Salim adalah muara dari segala aktivitas ibadah, termasuk ibadah sosial seperti reuni dan halal bi halal. Hati yang selamat adalah hati yang terbebas dari penyakit spiritual seperti kesombongan (takabur), pamer (riya), dengki (hasad), dan dendam.

Oleh karena itu, hakikat dari mudik dan reuni harus dikembalikan pada rel penciptaan Qalbun Salim itu sendiri, melalui beberapa pendekatan. Pertama, Medium Katarsis, Bukan Komparasi: reuni seharusnya menjadi tempat penyuci jiwa melalui pemaafan yang tulus (halal bi halal), menggugurkan prasangka dan kekhilafan masa lalu, bukan ajang mengukur siapa yang paling sukses secara finansial.

Kedua, Empati Inklusif: menyadari bahwa setiap orang memiliki waktu dan arena perjuangannya masing-masing. Mereka yang datang dengan kendaraan umum, belum memiliki pekerjaan tetap, atau belum berkeluarga, berhak mendapatkan kehangatan persaudaraan yang setara dengan mereka yang sudah mapan. Ketiga, Membawa Pulang Kerendahan Hati: kesuksesan yang diraih di perantauan tidak seharusnya membuat seseorang kembali ke kampung halaman dengan dada membusung. Justru, kesuksesan tersebut harus menjadi sarana untuk semakin banyak menebar manfaat dan membantu kerabat yang membutuhkan, sebagai wujud syukur yang melahirkan Qalbun Salim.

Sekali lagi. Fenomena mudik dan reuni adalah anugerah sosial yang indah jika diletakkan pada proporsinya. Surat As-Syu'ara ayat 88-89 menjadi alarm pengingat bagi kita semua agar tidak terjebak dalam ilusi kebanggaan harta dan keturunan saat bersilaturahmi. 

Kesuksesan sejati dari sebuah reuni bukanlah seberapa megah cerita kesuksesan yang bisa dibagikan, melainkan seberapa bersih hati kita dari kesombongan, dan seberapa lapang dada kita untuk saling memaafkan dan menerima sesama saudara apa adanya. Hanya dengan membawa Qalbun Salim, perjumpaan di dunia ini akan menjadi jembatan menuju perjumpaan yang abadi di surga-Nya.

Penulis adalah Ketua PCNU Lamongan

Berita Terbaru

Ekonomi Jatim Melonjak, Rangkaian Pameran Internasional Bidik Transaksi Ratusan Miliar

Ekonomi Jatim Melonjak, Rangkaian Pameran Internasional Bidik Transaksi Ratusan Miliar

Senin, 15 Jun 2026 18:41 WIB

Senin, 15 Jun 2026 18:41 WIB

SurabayaPagi, Surabaya - Perekonomian Jawa Timur membuka tahun 2026 dengan kinerja impresif. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi…

Sambut 1 Suro, 32 Seniman Lukis Pusaka Nusantara di Balai Pemuda Surabaya

Sambut 1 Suro, 32 Seniman Lukis Pusaka Nusantara di Balai Pemuda Surabaya

Senin, 15 Jun 2026 16:57 WIB

Senin, 15 Jun 2026 16:57 WIB

SurabayaPagi, Surabaya – Puluhan seniman dari berbagai daerah di Jawa Timur menggelar aksi melukis langsung (on the spot) bertema pusaka Nusantara dalam k…

Didukung Koni, Turnamen Domino Surabaya Perkuat Status Olahraga Resmi

Didukung Koni, Turnamen Domino Surabaya Perkuat Status Olahraga Resmi

Senin, 15 Jun 2026 16:52 WIB

Senin, 15 Jun 2026 16:52 WIB

SurabayaPagi, Surabaya - Turnamen Domino Piala Wali Kota Surabaya 2026 menjadi panggung kompetitif bagi olahraga pikiran yang tengah berkembang di Indonesia.…

Khofifah Ajak Warga Ramaikan Jalan Sehat 1448 H, Perkuat Ukhuwah dan Budaya Hidup Sehat

Khofifah Ajak Warga Ramaikan Jalan Sehat 1448 H, Perkuat Ukhuwah dan Budaya Hidup Sehat

Senin, 15 Jun 2026 14:27 WIB

Senin, 15 Jun 2026 14:27 WIB

SurabayaPagi, Surabaya – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak masyarakat menyemarakkan peringatan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah melalui k…

Semua Dikuasai PT JPC, Armaya Minta Pengelolaan Parkir Dievaluasi 

Semua Dikuasai PT JPC, Armaya Minta Pengelolaan Parkir Dievaluasi 

Senin, 15 Jun 2026 13:05 WIB

Senin, 15 Jun 2026 13:05 WIB

‎SURABAYAPAGI.COM, Madiun - Kasus sengketa lahan parkir PT Jatim Parkir Center (JPC) di Jalan dr. Soetomo membuka fakta lain terkait dominasi pengelolaan p…

Saat Efisiensi Anggaran Jadi Sorotan, DPRD Jatim Malah Usul Tambah Reses 6 Kali

Saat Efisiensi Anggaran Jadi Sorotan, DPRD Jatim Malah Usul Tambah Reses 6 Kali

Senin, 15 Jun 2026 12:48 WIB

Senin, 15 Jun 2026 12:48 WIB

Surabaya, nawacita – Anggota DPRD Jawa Timur mengusulkan tambahan jumlah kegiatan reses dari 3 kali menjadi 6 kali setahun. Rencana tersebut tertuang dalam d…