SURABAYAPAGI.com, Jombang - Masyarakat pembudidaya ikan koi di Jombang, Jawa Timur harus menghadapi tantangan tersendiri di tengah perubahan musim, yakni fenomena bediding pada awal musim kemarau.
Fenomena bediding dalam konteks klimatologi merupakan hal normal. Ketika malam dan pagi hari udara terasa lebih dingin, namun pada siang hari udara akan terasa lebih panas.
“Kalau musim-musim dingin atau udara dingin istilahnya orang Jawa menyebutnya ‘bediding’, biasanya sangat berdampak sekali terhadap kondisi perkembangan ikan koi, bahkan ikan koi rawan sekali mati,” jelas Nur Faridah (53) salah satu pembudidaya ikan koi asal Desa Jati Duwur, Kecamatan Kesamben, Kamis (19/06/2025).
Lebih lanjut, fenomena ini biasanya sering terjadi di bulan-bulan Juni, maupun bulan Juli. Selama bulan Juni, budidaya ikan koi miliknya belum terdampak fenomena “bediding”.
“Biasanya udara dingin atau “bediding” terjadi pada bulan Juni seperti ini. Namun, alhamdulilah ikan koi milik saya belum terdampak sama sekali,” ucap Nur Faridah.
Sementara itu, untuk upaya pencegahan memasuki udara dingin di awal musim kemarau dengan rajin melakukan pembersihan air agar pH air tetap terjaga dengan aerator menyala selama 24 jam dan diatur atau disesuaikan dengan suhu.
Bukan hanya suhu udara atau musim tertentu yang menjadi tantangan tersendiri bagi pembudidaya ikan koi, kutu pada ikan koi turut menjadi problem bagi pembudidaya ikan koi. Solusi yang dilakukan dengan memberikan obat khusus agar ikan terhindar dari kutu.
Diketahui, pemasaran ikan koi juga kebanyakan di wilayah Jawa Timur, seperti Jombang, Mojokerto, Sidoarjo, Malang, Surabaya. Harganya sangat variatif mulai dari yang paling murah Rp 5.000 hingga Rp 1.000.000 sampai Rp 2.000.000 lebih. jb-01/dsy
Editor : Desy Ayu