SURABAYAPAGI.COM, Jombang – Keracunan massal menimpa puluhan santri di Ponpes Sholawat Darut Taubah, Kabupaten Jombang. Sebanyak 31 santri harus dilarikan ke rumah sakit setelah menyantap menu buka puasa yang diduga berasal dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (5/3/2026) sekitar pukul 18.00 WIB. Tak lama setelah makan, para santri mulai merasakan gejala keracunan seperti mual, muntah, hingga pingsan.
Kapolres Jombang AKBP Ardi Kurniawan mengatakan, jumlah santri yang mengalami keracunan mencapai 31 orang. Menurutnya, respons cepat dari pihak pesantren dan petugas kesehatan membuat kondisi para santri bisa segera tertangani.
"Yang masih dirawat di IGD tinggal 7 orang, lainnya alhamdulillah sudah membaik. Karena anak-anak cepat dibawa ke rumah sakit untuk ditangani," terangnya kepada wartawan di RS PKU Muhammadiyah, Jumat (6/3/2026).
Dari hasil penelusuran awal, diketahui bahwa menu buka puasa terdiri dari nasi dan kuah rawon yang dimasak oleh pihak pondok pesantren. Sementara telur asin yang ikut disajikan berasal dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Betek, Yayasan Bantar Angin Jaya Abadi. Namun hingga kini, penyebab pasti keracunan masih belum dapat dipastikan.
Pengasuh Ponpes Sholawat Darut Taubah Muhammad Adam menuturkan, santrinya berjumlah 84 anak jenjang SMP dan SMA. Terdiri dari 36 santri putri dan 48 santri laki-laki.
Hari ini, mereka menerima MBG berupa roti, buah dan telur asin yang dikirim SPPG Betek pagi tadi sekitar pukul 09.00 WIB. Sedangkan untuk buka puasa, pihaknya memasak nasi dan rawon. Lauknya menggunakan telur asin dari MBG tersebut.
"Setelah Magrib anak-anak buka puasa. Ada yang separuh makan, ada yang selesai makan baru mual dan muntah. Saya pikir telat makan sehingga maag atau apa. Ternyata semua, yang perempuan ada banyak, ada yang lemas, nangis, pingsan," ungkapnya.
Melihat santrinya banyak yang mengalami keracunan, Adam pun berkoordinasi dengan SPPG Betek. Sehingga pihak dapur MBG menyediakan ambulans untuk mengevakuasi para korban ke RS PKU Muhammadiyah.
Editor : Moch Ilham