Total Korban Tewas 59 Orang, Termasuk 6 Potongan Tubuh Korban
SURABAYAPAGI.COM, Sidoarjo - Hingga Senin (6/10/2025), proses pencarian belum dihentikan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menargetkan proses evakuasi ambruknya Ponpes Al Khoziny Sidoarjo, Jawa Timur, selesai Selasa hari ini. Proses pembersihan puing bangunan juga telah mencapai 75%.
Dan untuk memberikan transparansi pada keluarga korban maupun masyarakat, proses evakuasi disiarkan secara langsung selama 24 jam. Menurut Budi, hal ini merupakan yang pertama terjadi sepanjang dirinya bertugas di BNPB.
"Pada kesempatan ini pula kami menargetkan dari BNPB hari ini kita akan selesai selesaikan pencarian korban. Dari Basarnas maupun dari pihak Kodim sudah mengatur schedule. Diharapkan pada hari ini kita akan selesai evakuasi dari yang diperkirakan,” kata Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB Mayjen TNI Budi Irawan saat konferensi pers di Posko BNPB, Senin (6/10/2025).
Budi mengatakan peristiwa ini mendapatkan atensi khusus dari Presiden Prabowo Subianto. Prabowo telah memberikan arahan kepada BNPB dalam penanganan hingga evakuasi korban dengan maksimal.
Dari data yang dihimpun dari Basarnas, total korban mencapai 72 orang dengan rincian 59 meninggal Dunia, termasuk 6 bagian tubuh korban yang ditemukan dari puing-puing reruntuhan ambruknya musala Ponpes Al Khoziny Sidoarjo.
Pihak Basarnas juga mencatat masih ada enam orang yang belum ditemukan. Jumlah tersebut berpotensi bertambah karena proses identifikasi terhadap body part korban masih berlangsung.
Evakuasi Diperpanjang
Berbeda dengan Direktur Operasi Basarnas, Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo, selaku SAR Mission Coordinator (SMC). Yudhi Bramantyo, menegaskan, operasi evakuasi kemungkinan akan diperpanjang hingga Selasa hari ini.
Bramantyo, menegaskan bahwa pertimbangan utama perpanjangan operasi ini adalah aspek kemanusiaan.
“Kami memperpanjang masa operasi hingga hari kedelapan untuk memastikan tidak ada satu pun korban yang tertinggal di lokasi. Setiap santri yang masih dalam pencarian harus ditemukan, dan seluruh hak keluarga korban wajib terpenuhi,” ujar Bramantyo, Senin malam (6/10/2025).
“Selain itu, proses pembersihan puing difokuskan ke sisi utara pada bagian yang tidak terintegrasi dengan struktur utama,” lanjutnya.
Tim yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, hingga relawan, terus mengerahkan segala sumber daya yang ada. Alat berat dikerahkan bergantian, sementara pendeteksi panas (thermal detector) digunakan untuk memastikan tak ada tanda kehidupan yang terlewat di bawah puing-puing.
Di sekitar lokasi kejadian, posko utama masih beroperasi penuh. Selain menjadi pusat komando, posko juga menyediakan layanan dukungan psikologis dan logistik bagi keluarga korban serta para santri yang selamat.
“Kami memahami beratnya duka yang dirasakan keluarga. Karena itu, operasi pencarian tidak akan dihentikan sebelum semua proses tuntas secara manusiawi,” imbuh Bramantyo.
Masih Sisir Sejumlah Titik
Hingga Senin siang, tim masih fokus menyisir sejumlah titik prioritas yang sebelumnya sulit dijangkau alat berat karena kondisi struktur bangunan yang rapuh. Meski medan semakin menantang, semangat para petugas di lapangan tak surut.
Sebelumnya, masa operasi evakuasi dijadwalkan berakhir pada Minggu (5/10). Namun, lantaran masih ada laporan santri yang belum ditemukan, operasi diperpanjang satu hari penuh.
Perpanjangan ini sekaligus menjadi wujud komitmen negara dalam memastikan seluruh korban tertangani, tanpa terkecuali. Kini, semua pihak berharap agar sisa pencarian berjalan lancar dan memberikan kepastian bagi keluarga yang masih menanti .
Tim SAR kembali menemukan satu korban tewas gedung runtuh Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (6/10), sekitar pukul 03.35 WIB.
Total Korban Tewas 59
Dengan demikian, total korban tewas dalam insiden maut di Ponpes Al Khoziny menjadi 59 orang, termasuk 6 potongan tubuh korban.
"Korban meninggal dunia (menjadi) 59 orang, termasuk enam body part," demikian laporan Direktur Operasi Basarnas.
Rinciannya, jumlah korban sampai dengan pencarian hari ketujuh, sebanyak 156 orang, korban selamat sebanyak 104 orang, lalu korban meninggal 59 orang termasuk 6 bagian tubuh.
Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, proses evakuasi masih terus berlanjut, dengan fokus utama pada pembersihan material di sektor utara bangunan, area yang masih berpotensi menyimpan korban.
“Kita tetap akan lanjutkan semaksimal mungkin. Operasi ini tidak berhenti, mungkin akan kita perpanjang sampai kita yakinkan bahwa seluruh korban dari reruntuhan di Pondok Pesantren ini dapat kita temukan,” tegas Yudhi.
Ia menambahkan, proses pembongkaran bangunan kini telah mencapai sekitar 75 persen, dengan dukungan dua ekskavator dan satu alat breaker yang terus beroperasi di lapangan.
Meski sudah sepekan berlangsung, semangat para petugas SAR gabungan tak surut sedikit pun. Mereka tetap bekerja selama 24 jam penuh, berpacu dengan waktu di antara tumpukan beton dan baja untuk mengevakuasi korban yang masih tertimbun.
Upaya pencarian korban runtuhnya bangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny di Buduran, Kabupaten Sidoarjo, belum berhenti.
Perpanjang Operasi Evakuasi
Memasuki hari kedelapan pascabencana, Tim SAR gabungan resmi memperpanjang masa operasi evakuasi.
Keputusan ini diambil setelah evaluasi menyeluruh di lapangan menunjukkan masih adanya titik-titik rawan yang belum sepenuhnya disisir. Direktur Operasi Basarnas Pusat, Bramantyo, menegaskan bahwa pertimbangan utama perpanjangan operasi ini adalah aspek kemanusiaan.
“Kami memperpanjang masa operasi hingga hari kedelapan untuk memastikan tidak ada satu pun korban yang tertinggal di lokasi. Setiap santri yang masih dalam pencarian harus ditemukan, dan seluruh hak keluarga korban wajib terpenuhi,” ujar Bramantyo, Senin (6/10/2025).
Di sekitar lokasi kejadian, posko utama masih beroperasi penuh. Selain menjadi pusat komando, posko juga menyediakan layanan dukungan psikologis dan logistik bagi keluarga korban serta para santri yang selamat.
“Kami memahami beratnya duka yang dirasakan keluarga. Karena itu, operasi pencarian tidak akan dihentikan sebelum semua proses tuntas secara manusiawi,” imbuh Bramantyo.
Korban Maupun Potongan Tubuh
Direktur Operasi Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo menyebut para korban dievakuasi di beberapa titik mulai dari pintu masuk bangunan hingga area belakang.
Data terakhir menyebut korban berupa body part atau bagian tubuh tanpa kaki kanan berhasil diekstrikasi (dikeluarkan) dari reruntuhan pada pukul 21.01 WIB dan dilanjutkan dengan proses evakuasi.
"Hingga laporan terakhir, total terdapat 26, dengan 4 body part korban berhasil diekstrikasi dan dilanjutkan evakuasi pada hari ketujuh," ujar Bramantyo.
Korban maupun potongan tubuh yang ditemukan langsung dibawa ke RS Bhayangkara Polda Jatim untuk diidentifikasi oleh Tim DVI. Sementara itu proses pembersihan puing dan evakuasi di lokasi kejadian masih terus dilakukan oleh Tim Basarnas hingga malam ini.
"Proses evakuasi masih terus berlangsung. Pembersihan puing difokuskan ke sisi utara pada bagian yang tidak terintegrasi dengan struktur utama," pungkasnya.
Ada Perbedaan Data
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memberikan klarifikasi soal perbedaan data dengan laporan Basarnas soal jumlah korban gedung ambruk Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo.
BNPB menegaskan perbedaan tersebut terjadi karena adanya perbedaan metode penghitungan antara jenazah utuh dan potongan tubuh atau body part.
Plt Kepala Pusat Pengendalian Operasi (Kapusdalops) BNPB, Kolonel Inf Hery Setiono mengatakan pihaknya hanya mencatat jenazah utuh sebagai satu korban. Sementara, potongan tubuh (body part) dilaporkan secara terpisah agar tidak menimbulkan kekeliruan dalam proses identifikasi.
"Kami sampaikan bahwa mungkin berbeda dengan yang dilaporkan melalui Basarnas. Karena kami penghitungannya adalah berdasarkan ketika itu lengkap maka kita akan sudah sampaikan bahwa identitas untuk satu badan jenazah itu sudah bisa teridentifikasi dalam arti miliknya satu orang atau satu nama," kata Hery Setiono, di Posko Kedaruratan, Senin (6/10) malam.
Menurutnya, pemisahan data dilakukan untuk menghindari potensi tumpang tindih saat proses identifikasi oleh tim DVI Polri.
"Kalau masih bodi part, yang kami nanti takutkan maka kami laporkan dalam bentuk tersebut bodi part supaya ketika nanti terjadi identifikasi ternyata bodi part beberapa itu yang adalah milik dari sebagian dari nama korban, sehingga nanti akan menimbulkan perbedaan angka," jelasnya. n sb2/hik/rmc
Editor : Moch Ilham