SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Dalam Alkitab, toleransi beragama ditegaskan dalam sejumlah ayat. Misalnya, dalam Matius 5:43-48 Yesus mengajarkan untuk mengasihi sesama manusia siapapun orangnya, termasuk mengasihi musuh dan mendoakan orang yang telah menganiaya, apalagi orang yang hanya berbeda agama. Lalu, dalam Galatia 3:28, Rasul Paulus menulis, “Tidak ada lagi perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani, tidak ada lagi perbedaan antara budak dan orang merdeka, tidak ada lagi perbedaan antara laki-laki dan perempuan, karena kamu semua adalah satu dalam Kristus.”
Ayat ini menekankan bahwa semua orang, tanpa memandang agama, ras, atau status sosial, adalah sama derajat dan nilai di hadapan Tuhan.
Saya pun percaya bahwa semua agama memiliki kebenaran dan nilai yang sama, dan bahwa tidak ada agama yang lebih baik dari yang lain.
Ada ucapan Mahatma Mahatma Gandhi yang saya ingat. Gandhi mengatakan, “Saya percaya bahwa semua agama besar dunia adalah sama-sama benar, dan bahwa mereka semua berasal dari Tuhan yang sama.”
Gandhi yang memperjuangkan ahimsa (tanpa kekerasan) juga menekankan pentingnya menghormati dan memahami agama lain.
Saya juga setuju khotbah “Saya tidak ingin orang lain menjadi Kristen, saya hanya ingin mereka menjadi lebih baik, lebih seperti Yesus.”
Ini menunjukkan bahwa kita tidak diharuskan memaksa orang lain untuk meninggalkan agama mereka (Kristenisasi), tetapi ia ingin mereka menjadi lebih baik dan lebih spiritual (meneladan Kristus).
Dalam perspektif Alkitab toleransi beragama bukanlah hanya tentang membiarkan orang lain beribadah dengan cara mereka sendiri, tetapi juga tentang menghormati dan memahami agama lain. Ini berarti bahwa kita harus memiliki sikap yang terbuka dan inklusif, dan tidak memandang agama lain sebagai ancaman atau kesalahan.
Dalam masyarakat modern, saya anggap toleransi beragama sangat penting untuk mencapai perdamaian dan kesetaraan. Dengan memahami dan menghormati agama lain, kita dapat membangun jembatan antara masyarakat yang berbeda agama dan menciptakan masyarakat yang lebih harmonis.
Jadi Alkitab memiliki pandangan tentang toleransi beragama, yaitu bahwa semua agama memiliki kebenaran dan nilai yang sama, dan bahwa kita harus menghormati dan memahami agama lain. Dengan demikian, kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih toleran dan harmonis berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar ‘45.
Bagi saya, toleransi beragama di era modern adalah fondasi krusial untuk menjaga harmoni di tengah keberagaman, dengan fokus pada saling menghormati, tidak memaksakan keyakinan, dan mencegah diskriminasi. Ini melibatkan penerimaan perbedaan, kerja sama antarumat, serta pemahaman bahwa agama adalah urusan pribadi, yang semuanya berkontribusi pada kedamaian dan mengurangi konflik.
Maka itu tradisi mudik lebaran tidak hanya dirayakan oleh umat Islam saja, tetapi juga oleh pemeluk agama lain seperti Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Hal ini menunjukkan bagaimana tradisi mudik lebaran telah berkembang menjadi fenomena sosial-budaya yang melampaui batas-batas agama dan mempersatukan seluruh elemen masyarakat Indonesia. (Maria Sari)
Editor : Moch Ilham