SURABAYAPAGI.com, Trenggalek - Dalam rangka menekan pergaulan bebas yang menyimpang bagi remaja, Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Trenggalek menekankan pentingnya pendidikan literasi gender dan pernikahan sejak usia sekolah. Dimana, program tersebut akan menggandeng berbagai pihak, termasuk Dinas Pendidikan, sekolah tingkat SMP dan SMA, serta lembaga pendidikan keagamaan seperti madrasah dan pondok pesantren.
Adanya upaya literasi gender tersebut diberikan secara proporsional dan sesuai nilai agama, terutama di tingkat pendidikan menengah, sebagai upaya membentuk pemahaman yang tepat bagi generasi muda. Pasalnya, ketertarikan antara laki-laki dan perempuan merupakan hal yang alami atau sunnatullah. Oleh karenanya, perlu diberikan pemahaman yang tepat agar tidak terjadi penyimpangan dalam pergaulan.
“Pendidikan literasi gender ini harus diberikan secara proporsional dan benar. Jangan sampai di sekolah, anak yang senang dengan lawan jenis justru dimarahi. Mohon maaf ya. Kita mohon maaf data sekarang LGBT itu naik. Ini Pak Dirjen Binmas Islam, ada itu datanya,” ujar Kepala Kantor Kemenag Trenggalek, Nur Ibadi, Senin (06/04/2026).
Lebih lanjut, pihaknya juga memaparkan jika ada anak perempuan dan laki-laki di sekolah SMA punya rasa tertarik dan langsung dekat itu merupakan sunnatullah dan dalam Al-Quran itu ada. Sehingga, hari ini pihaknya akan getol memberikan literasi dengan memberikan batasan agama di dalamnya.
Nur Ibadi juga menyoroti pentingnya edukasi yang tepat untuk mencegah kecenderungan pergaulan yang tidak sesuai. Ia menilai, kurangnya pemahaman dapat membuat remaja mencari kenyamanan dalam relasi yang tidak semestinya. Kemenag Trenggalek nantinya juga akan memperkuat program bimbingan remaja melalui kegiatan BRUS (Bimbingan Remaja Usia Sekolah) dan BRUN (Bimbingan Remaja Usia Nikah).
Tentu saja, program ini bertujuan menjawab fenomena penurunan angka pernikahan yang dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kesiapan ekonomi dan mental generasi muda. Sehingga, diharapkan melalui program ini, generasi muda lebih siap menghadapi kehidupan berkeluarga, sekaligus mendorong terbentuknya pernikahan yang sehat dan berkualitas di masa depan. tr-02/dsy
Editor : Redaksi