Surabaya Pagi – Upaya memaksimakan pergergerakan ekonomi kota Surabaya, Pemerintah Kota Surabaya berkomintmen membenahi pasar tradisional dengan program revitalisasi pasar tradisional.
Progran ini tidak hanya dipandang sebagai proyek fisik semata, tetapi momentum strategis untuk mengubah wajah pasar rakyat agar lebih modern, bersih, dan berdaya saing tinggi.
Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Arif Fathoni menilai, langkah ini harus diikuti dengan transformasi manajemen dan pola pikir pengelola maupun pedagang. Ia menyebut, komitmen Pemerintah Kota Surabaya dalam membenahi pasar tradisional patut diapresiasi, terutama melalui alokasi anggaran revitalisasi sekitar Rp18,9 miliar pada tahun ini.
Menurutnya, kebijakan tersebut menjadi bukti keberpihakan pemerintah terhadap penguatan ekonomi kerakyatan, sekaligus menjawab stigma lama pasar tradisional yang identik dengan kumuh dan kurang tertata.
“Selama ini image pasar tradisional itu kan kumuh, tidak bersih. Nah, revitalisasi ini harus menjadi momentum untuk mengubah itu semua,” ungkap Arif Fathonu, (4/5).
Namun demikian, ia menegaskan bahwa keberhasilan revitalisasi tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan fisik. Perusahaan Daerah (PD) Pasar Surya sebagai pengelola diminta menjadikan program ini sebagai langkah awal melakukan rebranding total pengelolaan pasar.
Fathoni menilai, selama ini pengelolaan pasar tradisional masih belum optimal dalam memanfaatkan perkembangan teknologi, termasuk untuk mendukung pemasaran pedagang.
“Kami berharap PD Pasar menangkap ini sebagai peluang untuk me-rebranding manajemen pengelolaan pasar. Tidak bisa lagi berjalan autopilot,” tegasnya.
Ia mencontohkan fenomena di sejumlah pasar besar seperti Pasar Tanah Abang yang mulai beradaptasi dengan tren digital melalui penjualan berbasis live streaming di media sosial. Menurutnya, pendekatan serupa perlu mulai diterapkan di Surabaya.
“Pedagang sekarang harus adaptif. Bisa memanfaatkan TikTok, live streaming, atau platform lain. Ini bagian dari menghidupkan kembali denyut ekonomi pasar,” jelasnya.
Untuk itu, ia mendorong PD Pasar menggandeng konten kreator guna memperkuat promosi pasar tradisional sekaligus mengubah persepsi publik.
Selain digitalisasi, pembinaan pedagang juga menjadi kunci. DPRD menekankan pentingnya edukasi berkelanjutan terkait kebersihan, penataan dagangan, hingga manajemen usaha.
“Pedagang harus di-upgrade. Bagaimana menjaga kebersihan, bagaimana kemasan produk, itu semua penting,” katanya.
Ia juga mengingatkan agar revitalisasi tidak berhenti pada pembangunan fisik tanpa diikuti peningkatan kualitas pengelolaan. Jika tidak, dikhawatirkan pasar akan kembali ke kondisi semula.
“Jangan sampai pemkot sudah menunjukkan keberpihakan, tapi tidak gayung bersambut. PD Pasar harus proaktif,” ujarnya.
Legislator dari Fraksi Golkar itu bahkan menyinggung fenomena pasar krempyeng atau pasar rakyat mandiri yang justru lebih hidup dibandingkan pasar di bawah pengelolaan resmi.
Menurutnya, hal ini harus menjadi bahan evaluasi serius bagi pengelola pasar di Surabaya.
“Pasar yang dikelola masyarakat saja bisa ramai. Ini harus jadi otokritik kita semua,” tegasnya.
Ke depan, ia berharap revitalisasi pasar tradisional mampu menjadikan Surabaya sebagai kota percontohan dalam pengelolaan pasar rakyat modern berbasis kolaborasi antara ekonomi tradisional dan teknologi.
“Kalau pasarnya sudah bersih, manajemennya modern, dan pedagangnya adaptif, insyaallah pasar tradisional Surabaya bisa naik kelas,” pungkasnya. Adv/Alq
-----------------------
Arif Fathoni Dorong Dorong Pasar Tunjungan Bangkit sebagai Ikon Wisata Baru
Surabaya Pagi – Program revitalisasi pasar tradisional di Surabaya kini didorong tidak sekadar memperbaiki fisik, tetapi naik ke level berikutnya: menghadirkan pasar tematik sebagai destinasi wisata baru. Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya, Arif Fathoni, menilai momentum revitalisasi harus dimanfaatkan untuk membangun identitas pasar yang kuat dan berdaya saing.
Menurut Fathoni, Surabaya memiliki potensi besar untuk menghadirkan pasar tematik seperti yang sukses dikembangkan di kota lain. Dengan karakter pasar yang beragam, mulai dari Pasar Genteng, Pabean, hingga sentra kuliner, ia menilai pengelompokan berbasis tema bisa menjadi strategi menghidupkan kembali pasar tradisional.
“Surabaya ini kota besar dan kota transit. Harusnya bisa punya pasar tematik yang kuat identitasnya. Tinggal bagaimana pengelolaannya diarahkan sesuai potensi lokal,” ujarnya.
Ia menekankan, setelah revitalisasi fisik dilakukan, langkah berikutnya adalah membangun konsep tematik yang jelas, baik berbasis kuliner, oleh-oleh khas, hingga produk lokal unggulan. Tanpa arah tersebut, pasar berisiko mengalami nasib serupa dengan sejumlah Sentra Wisata Kuliner (SWK) yang sepi pengunjung.
“Jangan sampai sudah dibangun tapi tidak hidup. Kuncinya di konsep dan pengelolaan yang berkelanjutan,” tegasnya.
Salah satu yang disorot adalah potensi menghidupkan kembali Pasar Tunjungan sebagai pusat wisata oleh-oleh khas Surabaya. Lokasinya yang berada di kawasan ikonik dinilai memiliki ekosistem yang sudah terbentuk, mulai dari arus wisatawan hingga aktivitas anak muda.
“Pasar Tunjungan itu strategis. Tinggal ‘nebeng’ popularitas Jalan Tunjungan. Kalau dijadikan pusat oleh-oleh khas Surabaya, UMKM bisa hidup dan wisatawan punya tujuan jelas,” jelasnya.
Legislator dari Fraksi Golkar itu juga mendorong PD Pasar untuk menggandeng berbagai pihak, mulai dari pelaku usaha, konten kreator, hingga biro perjalanan wisata. Kolaborasi ini penting untuk memastikan pasar tidak hanya ramai saat awal dibuka, tetapi terus hidup secara berkelanjutan.
“Harus ada kerja sama dengan travel, apalagi Surabaya banyak wisatawan dari kapal pesiar dan ekspatriat. Itu peluang besar kalau diarahkan ke pasar tematik,” katanya.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya manajemen pasar yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Pedagang perlu didorong untuk meningkatkan kualitas tampilan produk, kemasan, hingga strategi pemasaran digital agar mampu bersaing.
Tak kalah penting, ia menekankan kebijakan pengelolaan stan harus lebih dinamis. Menurutnya, masa sewa tidak boleh terlalu panjang agar tidak terjadi praktik “pasar mati” akibat stan yang tidak produktif.
“Kalau satu tahun tidak aktif, harus dievaluasi. Jangan sampai stan disewa puluhan tahun tapi tidak dimanfaatkan. Itu menghambat perputaran ekonomi,” ujarnya.
Fathoni juga mengingatkan agar tidak ada pungutan berlapis yang membebani pedagang. Ia berharap sistem retribusi dibuat lebih sederhana agar pelaku usaha kecil tetap bisa bertahan di tengah kondisi ekonomi yang fluktuatif.
Melalui pendekatan tematik dan manajemen modern, DPRD optimistis pasar tradisional di Surabaya bisa naik kelas menjadi ruang ekonomi sekaligus destinasi wisata.
“Kalau bersih, tertata, punya konsep, dan dikelola dengan baik, pasar tradisional bisa jadi ikon kota. Ini bukan hanya soal jual beli, tapi juga pengalaman wisata,” pungkasnya. Adv/Alq
Editor : Redaksi