SURABAYAPAGI.com, Bojonegoro - Seiring kondisi melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terus naik juga mempengaruhi harga sejumlah bahan pokok (bapok) di Kabupaten Bojonegoro mulai melonjak naik, sehingga turut membebankan masyarakat. DIketahui, sejumlah komoditas penting mengalami kenaikan harga, mulai dari beras, gula pasir, minyak goreng, hingga bawang merah, Minggu (24/05/2026).
Berdasarkan pantauan pada website Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro (Disdagkopum) Kabupaten Bojonegoro, untuk harga beras premium tercatat naik menjadi Rp 15.900 per kilogram dari sebelumnya Rp 14.824 atau meningkat sekitar 3,43 persen.
Sementara itu, harga beras medium juga naik menjadi Rp 13.500 per kilogram. Kenaikan turut terjadi pada gula pasir dalam negeri yang kini berada di angka Rp 18 ribu per kilogram atau naik sekitar 4,09 persen dibandingkan hari sebelumnya.
Lonjakan cukup signifikan terjadi pada komoditas minyak goreng. Harga minyak goreng kemasan sederhana kini mencapai Rp 22 Ribu per liter atau naik sekitar 9,44 persen. Sedangkan, harga minyak goreng curah menembus Rp 22 ribu per kilogram.
Tak hanya itu, harga bawang merah kini dijual rata-rata Rp 45 ribu per kilogram atau naik lebih dari 10 persen dari harga sebelumnya Rp 40 ribu. Harga ikan asin teri juga mengalami kenaikan tajam hingga hampir 18 persen menjadi Rp 100 ribu per kilogram.
Komoditas cabai turut mengalami kenaikan. Harga cabai rawit merah tercatat menjadi Rp 75 ribu per kilogram, meningkat sekitar 7,38 persen dari sebelumnya Rp 67.727 per kilogram. Sedangkan cabai merah keriting naik tipis menjadi Rp 45 ribu per kilogram atau meningkat 1,22 persen.
Kepala Bidang Bina Usaha Perdagangan Disdagkopum Kabupaten Bojonegoro, Yuri Nur Rahmawati mengatakan, meski sejumlah komoditas mengalami kenaikan, Yuri memastikan harga beras SPHP dan Minyakita di pasar pantauan masih dikendalikan pemerintah dan belum mengalami perubahan harga.
Menurutnya, kenaikan harga bahan pokok kemungkinan besar dipicu oleh meningkatnya biaya transportasi dan distribusi. Selain itu, pelemahan rupiah terhadap dolar AS juga berdampak terhadap biaya produksi sejumlah komoditas yang masih bergantung pada bahan baku impor. bj-01/dsy
Editor : Redaksi