SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Di saat publik Jawa Timur menunggu kepastian Calon Gubernur (Cagub) dan Calon Wakil Gubernur (Cawagub) dari PDI Perjuangan (PDIP) yang akan diumumkan Minggu (15/10/2017) besok, Khofifah Indar Parawansa sudah membahas strategi pemenangan. Setelah mendapat dukungan dari Partai Golkar dan Partai Nasdem, Khofifah yang kini masih menjabat Mensos itu bakal mendapat dukungan 8.000 pengurus desa. Mereka disiapkan untuk memenangkan Khofifah di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim 2018.
Laporan : Ibnu F Wibowo – Riku Abdiono, Editor: Ali Mahfud
Menariknya, mereka ini disiapkan Partai Nasdem Jatim yang selama ini konsisten mendukung Khofifah. Padahal, Nasdem memberikan dukungan tanpa syarat dan tanpa mahar. Kini, partai besutan Surya Paloh ini juga menyiapkan seluruh kadernya dari tingkat DPW, DPC, DPD (kecamatan) dan DPRt (Desa/Kelurahan) untuk bersama-sama memenangkan Khofifah menuju Grahadi Satu.
“Dipastikan dukungan Nasdem kepada Khofifah sudah bulat. Tinggal kita akan menggerakkan mesin partai, simpatisan dan masyarakat untuk betul-betul memenangkan Khofifah,” jelas Rendra Kresna, Ketua DPW Partai Nasdem Jawa Timur, di kantornya, Jumat (13/10/2017).
Bupati Malang dua periode ini menjelaskan, mesin partai Nasdem sudah sangat lengkap di Jawa Timur. Mulai dari tingkat DPW, DPC, DPD dan DPRt semuanya ada. “Di Partai Nasdem itu punya struktur dan kader partai yang sudah siap. Untuk pengurus DPRt (Dewan Pengurus Ranting) yang tersebar di 8000 desa/kelurahan seluruh Jawa Timur semuanya akan memenangkan calon gubernur yang diusung Partai Nasdem. “DPRt kita ada 8000 lebih, lengkap seluruh Jawa Timur di kelurahan/desa,” terang Rendra usai mengawal verifikasi Partai Nasdem sebagai peserta Pemilu 2019.
Struktural partai itu, akan didukung juga elemen luar struktur berbentuk komisi-komisi yang juga menyebar di seluruh desa di 38 kabupaten/kota. Rendra memastikan, pilgub ini akan melibatkan seluruh kader dan simpatisan. Karena peran kader itu sangat penting untuk mendukung dan mensukseskan kemenangan calon gubernur yang diusung. “Tentunya semua kader sudah siap untuk digerakkan, nanti setiap kader di depan rumahnya bisa pasang gambarnya Khofifah,” ujarnya.
Ditambahkan Rendra, diakui atau tidak, kualitas figur yang diusung menjadi bagian penting untuk kepentingan daerah dan juga kepentingan partai ke depan. Jika memiliki kepala daerah yang satu visi pasti berdampak pada tumbuh dan berkembangnya partai di daerah. Itu fenomena alami. “Tapi Partai Nasdem bukan itu tujuannya. Nasdem hanya ingin Jatim dipimpin oleh orang yang capable, dan itu ada pada sosok Khofifah Indar Parawansa,” tegasnya.
Disinggung soal Calon Wakil Gubernur yang akan berpasangan dengan Khofifah, Nasdem menyerahkan kepada keputusan bersama. Karena setiap parpol pasti mengajukan masing-masing kader untuk cawagub. Yang kemudian diserahkan kepada Khofifah untuk disepakati bersama-sama siapa yang terbaik. Tentunya Nasdem berharap nanti antar parpol tidak lagi besar-besaran kursi, kuat-kuatan suara tapi bagaimana duduk bersama mengedepankan kebersamaan, dengan niat tujuan untuk memenangkan Khofifah. “Kita harus bersepakat dengan usernya adalah Khofifah, soal siapa yang paling pas digandeng sebagai calon wakil gubernur nanti. Nasdem hanya siapkan satu nama yakni Hasan Aminudin,” papar dia.
Dukungan 5 Parpol
Terpisah, Sekretaris Jenderal DPP Partai Nasdem Johnny G Plate menyatakan, lima partai politik telah sepakat untuk mendukung Khofifah maju sebagai calon gubernur dalam Pilgub Jatim 2018. Lima partai politik itu adalah Partai Nasdem, Partai Golkar, Partai Demokrat, Partai Hanura, dan PPP. Saat ini, baru Partai Nasdem dan Golkar yang resmi menyampaikan dukungan.
"Di Jatim kan sudah 35 kursi DPRD provinsi, di antaranya Nasdem, Hanura, PPP, Golkar dan Demokrat. Kita sudah sepakat tinggal administrasi sebagaimana biasanya untuk memenuhi syarat ketentuan UU," kata Johnny Plate di KPU RI, Jakarta, Jumat (13/10) kemarin.
Mengenai siapa pendamping Khofifah sebagai calon wakil gubernur, Johnny mengatakan bahwa Nasdem menyerahkan hal itu kepada Khofifah. "Kami harapkan bahwa yang dipilih oleh Ibu Khofifah nanti wakil yang betul-betul secara chemistry bisa bekerja sama, punya visi dan misi yang sama, saling melengkapi," ujarnya. "Jadi kami serahkan kepada Ibu Khofifah. Komitmen kami memberikan kebebasan, karena chemistry cagub dan cawagub itu penting," kata dia.
Pengumuman Cagub PDIP
Sementara itu, PDIP memastikan akan mengumumkan pasangan Cagub dan Cawagub yang akan diusung pada Pilgub Jatim 2018. Pengumuman pasangan calon langsung dipimpin Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri. Rencananya, acara akan digelar Minggu (15/10) pukul 09.30 WIB di Kantor DPP PDIP Jalan Diponegoro 58, Menteng, Jakarta Pusat.
Sekretaris DPD PDIP Jatim Sri Untari mengatakan pada acara tersebut PDIP langsung menerbitkan SK Rekomendasi untuk Pilgub Jatim 2018. "Hal tersebut berdasarkan informasi dari Sekjen. Kami akan langsung menerbitkan rekomendasi," kata Untari dikonfirmasi kemarin (12/10).
Disinggung terkait isi dari SK rekomendasi, Untari enggan bicara banyak. "Yang jelas, rekomendasi tersebut akan langsung berpasangan (Cagub dan Cawagub)," katanya.
Disinggung terkait nama yang akan muncul pada rekomendasi, Untari juga enggan menjelaskan. Menurutnya, nama-nama tersebut mutlak kewenangan dari DPP PDIP (Megawati). "Yang jelas, untuk nama-namanya, akan berkisar pada yang mendaftar di DPD dulu. Namun, bisa juga di luar itu. Bergantung keputusan DPP," jelas Untari.
Dimintai pendapatnya, pengamat politik asal Universitas Trunojoyo Madura Mochtar W. Oetomo menilai saat ini PDIP berada di posisi sulit. Ia mengandaikan, partai berlogo banteng tersebut saat ini seakan berada di persimpangan jalan. "Simpang pertama, ingin mengajukan calon kader sendiri tapi khawatir pengalaman Pilgub 2008 dan 2013 kalah telak saat usung calon sendiri akan terulang. Apalagi para kyai sudah mengirim surat ke Mega untuk mendukung Gus Ipul (Wagub Jatim Saifullah Yusuf, red)," jelas Mochtar, secara terpisah.
Simpang kedua, menurut Mochtar, dengan mendukung Gus Ipul maka risiko yang dihadapi juga besar. "Karena Khofifah ini didukung banyak partai. Apalagi kemungkinan besar Pakde Karwo dan Partai Demokrat juga mengarah ke Khofifah," jelas dia.
Yang terakhir, lanjur Mochtar, apabila menjodohkan Walikota Surabaya Tri Rismaharini sebagai Cawagub Gus Ipul maka PDIP akan berada di kondisi dilematis lain. "Itu karena potensi dan kapasitas Risma harusnya bukan hanya Cawagub. Bukan di situ level dari Risma," pungkasnya.
Editor : Redaksi