Politik di Jawa Timur mulai ramai, setelah PDIP menduetkan Saifullah Yusuf atau Gus Ipul (Wagub Jatim) dan Abdullah Azwar Anas (Bupati Banyuwangi) di Pilgub Jatim 2018. Khofifah Indar Parawansa (Mensos RI) pun bergerak cepat dengan melakukan konsolidasi dengan sejumlah kiai NU di Jombang. Bahkan, pada Kamis (19/10) malam, mereka tengah menggodok tokoh yang pantas mendampingi Khofifah, yang bisa menandingi Gus Ipul-Anas. Sementara Anas sendiri dalam tiga hari belakangan ini ‘menggarap’ wilayah Mataraman (Tulungagung, Blitar, Kediri, Trenggalek, Madiun, Pacitan, Magetan, dan Ponorogo). Lantas, bagaimana peta pertarungan mereka untuk bisa mendulang suara pemilih?
-----------
Laporan : Ibnu F Wibowo-Alqomar, Editor: Ali Mahfud
Direktur Lembaga Survey Proximity Indonesia, Whima Edy Nugroho menilai duet Gus Ipul-Anas sebagai strategi cerdas PDIP. Pasalnya, Anas selalu memuncaki dalam berbagai rilis lembaga survei untuk posisi Cawagub. Anas juga merupakan salah satu kepala daerah yang sukses memimpin daerahnya di Jatim selain Walikota Surabaya Tri Rismaharini.
Posisi Anas juga bisa dipergunakan menyaingi dominasi Khofifah Indar Parawansa, khususnya di wilayah dapil 3 Jatim (Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi) dan dapil 4 (Lumajang dan Jember). Dua dapil itu selama ini menjadi kandang Khofifah.
Anas juga bisa menjadi amunisi baru bagi Gus Ipul di dapil 1 (Surabaya dan Sidoarjo), dapil 2 (Pasuruan dan Probolinggo) dan dapil 5 (Malang dan Batu), di mana kekuatan Khofifah di tiga dapil ini relatif lebih baik dari Gus Ipul. "Tetapi di Kabupaten Pasuruan, Gus Ipul masih bisa mengimbangi Khofifah, karena bupati adiknya sendiri (Irsyad Yusuf). Kalau di Kabupaten Probolinggo, selain Khofifah kuat, ditambah pengaruh Hasan Aminuddin (mantan Bupati Probolinggo yang saat ini anggota DPR dari Partai Nasdem) sebagai penyokong Khofifah juga menambah amunisi," ungkap Whima, kemarin.
Dijelaskan, pemilih di dapil 1 dan 5 yang didominasi pemilih berpendidikan menengah dan cerdas akan lebih mudah dipengaruhi oleh kapabilitas (rekam jejak) sukses Anas saat memimpin Banyuwangi. Sementara Gus Ipul dengan relasi baik yang sudah dibuat selama ini dengan jajaran PDIP dan kepala daerah Jawa Timur bisa memaksimalkan kemenangan di dapil 6 (Kediri, Blitar, Tulungagung), dapil 7 (Pacitan, Trenggalek, Ponorogo, Ngawi, Magetan) dan dapil 8 (Madiun, Mojokerto, Nganjuk, Jombang).
"Sekarang kita tinggal menunggu reaksi Khofifah dalam menetapkan calon wakil gubernurnya. Kalau Khofifah ambil wakilnya dari kawasan Mataraman yang merupakan basis PDIP, bisa ramai dan sengit pertarungan," prediksi Whima.
Anas Motor Utama
Sementara berdasar hasil survei Surabaya Survey Center (SSC) periode Juni 2017 lalu, Gus Ipul cenderung dominan di wilayah Madura dan Pandalungan (Tapal Kuda). Sedang Khofifah kuat di wilayah pantai utara (Pantura). Namun peta ini bisa berubah. "Wilayah Pantai Utara menjadi wilayah yang paling kompetitif, dimana suara antar kandidat hanya berselisih tipis. Gus Ipul unggul di Madura dan Pandalungan karena memang sejak Karsa Jilid I kedua wilayah tersebut menjadi wilayah garapan Gus Ipul. Dominasi NU, Kyai dan Pondok di kedua wilayah tersebut sangat simetris dengan segala latar belakang Gus Ipul sebagai salah satu tokoh NU. Dan Khofifah unggul di Pantai Utara juga tidak terlepas dari basis suara Khofifah saat dua kali berkompetisi melawan Karsa pada 2 kali gelaran Pilgub Jatim sebelumnya," papar Mochtar, Direktur SSC.
Terkait penunjukkan Azwar sebagai Cawagub Gus Ipul, menurut Mochtar hal tersebut dapat dibaca sebagai langkah yang tepat. Karakter pemilih yang menjatuhkan pilihan kepada Risma, menurutnya akan dapat beralih ke sosok Bupati Banyuwangi tersebut.
"Karena karakter pemilih Risma ini adalah dari wilayah Arek yang bisa dibilang tidak jauh dari pola pikir milenial. Mereka ini realistis. Jadi jelas pemilih Risma nantinya apabila melihat rekam jejak Anas, akan dengan mudah beralih ke Anas," jelas Mochtar.
Sehingga, dengan kondisi demikian, menurut Mochtar saat ini Anas menjadi motor politik utama dari Gus Ipul. "Karena Gus Ipul ini trendnya sudah stagnan. Maka peran Cawagub menjadi sangat besar untuk mengeruk suara," tegasnya.
Kiai Pendukung Khofifah
Sejumlah kiai yang menyebut dirinya Tim 9 menggelar rapat tertutup untuk membahas siapa pendamping Khofifah di Pilgub Jatim 2018. Pertemuan tertutup yang berlangsung Kamis (19/10) malam itu, digelar di kediaman pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Kiai Asep Saifudin Chalim, Surabaya.
Tim yang berisi sejumlah ulama NU itu dibentuk beberapa waktu lalu di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Anggotanya adalah KH Sholahudin Wahid, KH Afifudin Muhajir Situbondo, Lily Wahid, KH Suyuti Thoha Bantuwangi, dan Prof Fathoni Tulung Agung. Usai rapat tertutup selama tiga jam, Kiai Asep menyampaikan hasil rapat tersebut.
"Kami akan menyodorkan kepada Bu Khofifah delapan kandidat pendampingnya. Selanjutnya, Bu Khofifah yang akan menentukan, siapa calon wakil gubernur yang pas untuk mendampinginya," tutur Kiai Asep.
Soal delapan nama cawagub itu, sayang Kiai Asep masih merahasiakannya. Dia hanya menjelaskan, Tim 9 akan menyurvei terlebih dulu delapan tokoh tersebut, terutama elektabilitas mereka di hadapan masyarakat Jawa Timur. "Kami membutuhkan waktu satu sampai dua minggu untuk menentukan delapan kandidat tersebut. Yang pasti, pertengahan November atau sebelum 15 November, kami sudah menyodorkan delapan tokoh itu kepada Bu Khofifah," ungkapnya.
Saat ditanya apakah delapan kandidat tersebut berasal dari kalangan birokrat atau kepala daerah, dari daerah Mataraman atau Tapal Kuda, Kiai Asep hanya menjawab, kemungkinan semua itu ada semua. "Kedelapan kandidat tersebut akan mewakili semuanya, termasuk mewakili partai pendukung Bu Khofifah," ujar dia. n
Editor : Redaksi