SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Perdebatan apakah Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Jawa Timur Abdullah Azwar Anas mewakili PDI Perjuangan (PDIP) ataukah Nahdhatul Ulama (NU), dijawab perkumpulan Kyai kampung. Mereka yang tergabung dalam Forum Komunikasi Kiai Kampung Jawa Timur (FK3JT) menilai Bupati Banyuwangi itu tidak NU murni, tapi cenderung nasionalis.
Laporan : Riko Abdiono – Ibnu F Wibowo, Editor: Ali Mahfud
Senin (23/10) kemarin, FK3JT memastikan lagi bahwa seluruh anggotanya mendukung pasangan Saifullah Yusuf (Gus Ipul)-Abdullah Azwar Anas sebagai bakal calon gubernur dan calon wakil gubernur provinsi Jawa Timur. Meski awalnya FK3JT ini mendukung Bupati Ngawi, Budi Kanang Sulistyono menjadi wakil gubernur Saifullah Yusuf, gagal.
Koordinator FK3JT KH Fahrurozi atau biasa disapa Gus Fahrur mengatakan, dukungan diberikan karena sosok Azwar Anas ternyata mewakili nasionalis. Hal ini setelah dilakukan penelusuran lebih jauh tentang sosok Anas. Meski Anas dikenal dari keluarga besar santri NU, tapi dalam perjalanan politiknya termasuk ketika maju bupati Banyuwangi, Anas ini sudah lama memakai baju kebesaran PDI-Perjuangan.
“Jadi (Anas) bukan NU tulen, tapi sudah sangat mewakili kalangan nasionalis dan merupakan kader PDI-P tulen,” kata Gus Fahrur, kemarin (23/10/2017). Menurutnya, Anas setali tiga uang dengan figur Budi Kanang. “Pasangan Gus Ipul-Anas ini cocok, kalau bahasa jawanya itu tumbu oleh tutup," tegasnya.
Dalam kesempatan sama, FK3JT juga mendesak agar Khofifah Indar Parawansa mundur dari jabatannya sebagai Ketum Muslimat NU dan Menteri Sosial (Mensos) RI. “Supaya tidak ada campur aduk antara tugas sebagai Mensos dan kepentingan maju calon gubernur Jatim,” kata Gus Fahrur.
Sedangkan Gus Ipul tidak perlu mundur dari Wakil Gubernur Jatim ataupun Ketua PBNU. FK3JT menilai Gus Ipul tak perlu mundur dari jabatannya sebagai Ketua PBNU, karena bukan Ketua Umum PBNU dan bukan hal yang mendesak. "Kalau Gus Ipul tak perlu terburu-buru mundur dari PBNU. Gus Ipul juga hanya wagub yang tidak dipasrahi anggaran seperti halnya Mensos untuk membagikan bantuan," bela Fahrur.
Sementara itu, Gus Ipul merasa dirinya saat ini di atas angin. Berpasangan dengan Abdullah Azwar Anas yang diusung PKB dan PDIP, maka pasangan ini mengantongi 39 kursi. Lebih dari cukup sebagai partai pengusung. "Ini membuat satu langkah saya ke depan lebih jelas. Sekarang tinggal amanat yang sudah diberikan oleh partai kepada saya, ditindaklanjuti untuk bisa mendapat kepercayaan dari pemilih," ucap Gus Ipul.
Cawagub Khofifah
Sementara itu, dua partai pengusung Khofifah Indar Parawansa, yakni Partai Nasdem dan Partai Golkar berharap agar Hasan Aminuddin menjadi Cawagubnya di Pilgub Jatim 2018. "Pak Hasan adalah figur politik senior yang memiliki basis riil di Jatim, khususnya di wilayah Tapal Kuda dan Mataraman," kata Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) Partai Nasdem Jatim, Muzammil Syafii, Senin (23/10).
Untuk diketahui, Hasan Aminuddin ini mantan Bupati Probolinggo dua periode. Saat ini ia menjadi anggota DPR dari Partai Nasdem. Sedang istrinya, menggantikannya sebagai Bupati Probolinggo.
Menurut Muzammil, banyak alasan realistis mengapa Hasan Aminuddin layak menjadi pendamping Khofifah. Diantaranya, karena Hasan disebut politisi tiga zaman, yaitu zaman orde baru, zaman reformasi dan zaman restorasi. Lantaran eksis di politik dan pemerintahan, kata dia, sudah tak diragukan lagi kemampuannya mengakomodasi kepentingan masyarakat, terlebih sebagai seorang kiai, namanya juga tak asing di kalangan Nahdlatul Ulama.
Anggota DPRD Jatim itu juga mengisahkan bahwa sebetulnya almarhum KH Hasyim Muzadi pernah memasangkan Khofifah dengan Hasan Aminuddin di Pilkada Jatim 2013, tapi dianulir oleh partai pengusung.
Sementara itu, keinginan memasangkan Hasan Aminuddin dengan Khofifah juga dilontarkan oleh Ketua Umum Partai Golkar yang juga Ketua DPR RI saat berkunjung ke Probolinggo dalam peringatan Hari Santri, Minggu (22/10). Setnov, sapaan akrabnya, berharap wakil Khofifah di Pilkada Jatim adalah figur yang dekat dengan para ulama seperti Hasan Aminuddin.
Sebelumnya, Lembaga Survei The Initiative Institute mencatat pasangan dari kalangan santri sangat diminati oleh warga Jatim di Pilkada Jatim 2018. Hasil survei ke 1.016 responden di 108 desa dan kelurahan di Jatim pada September lalu menyebut, latar belakang pasangan santri dan santri memiliki poin tertinggi dari aspek kepantasan dengan 63,3 persen. Sedangkan, pasangan latar belakang santri-nasionalis mencatat 54,3 persen, sementara nasionalis-santri sebanyak 52 persen.
Di sisi lain, Khofifah sudah memercayakan calon pendampingnya ini digodok oleh Tim 17 Kiai NU kultural. Dijadwalkan akan dirilis sebelum 15 November. Pertemuan terakhir di Surabaya, Kamis malam lalu, tim 17 masih menentukan kriteria yang wajib dipenuhi pendamping Khofifah. Yakni, memiliki kapabilitas, integritas, bisa bekerja sama dengan cagub Khofifah, didukung oleh semua partai pengusung, dan terakhir bisa menjadi pendulang suara untuk pasangan yang diusung. Ada delapan nama masih digodok, diantaranya Bupati Ponorogo dan Bupati Trenggalek.
Poros Baru Terancam
Pasca PDIP dan PKB menetapkan Gus Ipul dan Azwar Anas sebagai Cagub dan Cawagub Jatim, poros baru yang sebelumnya bakal terbentuk, kini menjadi tidak jelas. Pasalnya, Khofifah Indar Parawansa yang menjadi Cagub potensial hingga kini belum mendeklarasikan diri. Padahal, sudah mendapat dukung Golkar, Nasdem dan PPP. Demokrat besar kemungkinan juga mendukung Mensos RI itu.
Sementara, Partai Gerindra, PKS serta PAN santer disebut-sebut akan membentuk poros ketiga. Namun, wacana pembentukan poros baru tersebut tampaknya tinggal rencana. Bendahara DPW PAN Jawa Timur Agus Maimun mengatakan PAN saat ini tengah melihat peluang untuk juga berkoalisi dengan Khofifah. "Jadi begini, saya jelaskan dulu. Sesuai hasil Rakerwil kemarin, kami dari DPW dan disepakati oleh seluruh DPD bahwa PAN menunjukkan Ketua DPW PAN Jawa Timur Masfuk sebagai Cawagub. Sekarang, kalau melihat kondisi yang ada, kan paling mungkin kan dengan Bu Khofifah. Karena Gus Ipul sudah bersama Azwar Anas," ungkap Agus Maimun kepada Surabaya Pagi, kemarin (23/10).
Sehingga, menurut Agus Maimun, saat ini PAN tengah berkonsentrasi untuk melakukan komunikasi intensif dengan Khofifah. "Tetapi, pada prinsipnya, kami saat ini masih terus berkomunikasi dan tetap membuka setiap peluang-peluang yang ada," tambahnya.
Disinggung terkait wacana pembentukan poros baru, Agus Maimun tidak menampik bahwa PAN juga tengah membangun komunikasi lebih lanjut dengan Gerindra dan PKS. Poros baru tersebut, menurutnya akan menjadi agenda selanjutnya melihat dinamika politik yang akan terjadi. "Jadi memang iya, pada prinsipnya kami komunikasi baik dengan semua partai. Dengan PKS dan Gerindra, wacana tersebut memang ada. Nantinya bagaimana? Ya kita lihat nanti bagaimana. Poros baru tersebut juga masih memiliki beberapa kemungkinan kan. Entah mendukung calon yang sudah ada atau justru mendukung calon baru yang belum gencar disebut," pungkas Agus. n
Editor : Redaksi