Pola Komunikasi Politik Bagi Millenialls

surabayapagi.com
SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Di era millenialls, terjadi pergeseran di beberapa aspek kehidupan bermasyarakat. Salah satu diantaranya adalah pola komunikasi yang terjadi di kalangan millenialls saat ini Bagaimana dengan dunia politik? Apakah pergeseran tersebut juga mempengaruhi dunia politik? Pakar komunikasi politik asal Universitas Trunojoyo Madura Surokim Abdussalam mengatakan bahwa, saat ini ada tantangan-tantangan baru dalam pola komunikasi politik. “Jumlah pemilih pemula, untuk Jawa Timur saja misalnya, mencapai 7 juta. Dengan jumlah sedemikian banyaknya, mereka ini bisa menyumbang 18-22 persen suara di Pilkada nanti. Jumlah segitu itu berharga dalam situasi kompetisi yang ketat,” kata Rokim, sapaan akrab Surokim. Karakteristik pemilih pemula tersebut, menurut Rokim, sesungguhnya sangat rasional. “Mereka bukan tipikal pemilih yang bisa dipaksa-paksa dan dimobilisasi. Mereka lebih butuh sentuhan personal melalui media sosial dan komunikasi intrapersonal. Mereka ini juga relatif independen dalam pengambilan keputusan,” jelasnya. Dengan karakteristik seperti itu, Rokim mengatakan bahwa sosok muda yang identik dengan dinamisme dan seringkali menjadi media darling memiliki peluang yang lebih besar untuk meraih dukungan dari para pemilih pemula. Di Jawa Timur, terdapat beberapa sosok pemimpin muda yang juga menjadi media darling. Beberapa diantaranya adalah Azwar Anas, Emil Dardak, Renville Antonio, Agus Maimun, dan Anwar Sadad. “Yang Rumit itu, pilihan mereka cenderung cepat berubah. Butuh tenaga ekstra untuk memelihara dukungan dari mereka. Referensi utama yang mereka gunakan ini adalah media sosial. Khususnya instagram, google, dan youtube,” pungkas Rokim. Senada, dimintai pendapatnya secara terpisah, pakar sosiologi politik asal Unesa Agus Mahfud juga mengatakan penting bagi Cagub dan Cawagub untuk membangun pola komunikasi yang baik. "Bagaimana caranya? Yaitu tetap menyapa pemilih tanpa batas. Sehingga pemilih merasa dekat dengan Calon Gubernurnya," katanya. Apabila sudah terbangun kedekatan, menurut Agus akan jauh mempermudah proses kampanye yang dilakukan oleh Cagub dan Cawagub kelak. Kedekatan emosional antara pemilih dengan yang akan dipilih akan menjadikan proses meraih kemenangan menjadi jauh lebih mudah diraih. "Seandainya antara Calon Pemimpin dan rakyatnya sudah menyatu, maka selanjutnya mudah bagi Calon Gubernur. Karena sudah memperoleh kepercayaan dengan mencoblos pada hari H," tegasnya. ifw

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru