SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2017 memang sudah usai pada akhir Oktober lalu. Namun, hal tersebut tidak berarti perjalanan kepenulisan dan pembacaan karya sastra juga berhenti. Cerpenis asal Banten, Ade Ubaidil yang menjadi salah satu emerging writers mengaku mendapat banyak pengetahuan setelah ajang sastra kelas internasional itu digelar.
“Dengan terpilihnya karya saya untuk dijadikan antologi dwibahasa dengan para emerging writers lainnya di UWRF tahun ini, hal tersebut menjadikan semacam pemantik untuk terus berdiskusi dan menghasilkan karya yang lebih baik lagi,” ujar Ade, Jumat (03/11).
Laki-laki berkacamata yang tengah menamatkan studinya itu meyakini akan ada banyak karya yang lahir setelah gelaran UWRF tahun ini. “Kuratorial dari Seno Gumirah A, Leila S. Chudori dan Warih saya pikir sangat berpengaruh dalam proses kreatif masing-masing penulis terpilih,” ujarnya.
Lain halnya dengan Bayu Pratama, salah satu peserta terpilih dari Lombok itu menerangkan akan membagikan pengalaman yang didapatkannya ke komunitas sastra tempatnya belajar. “Berbagai pengalaman dan pengetahuan yang didapatkan setelah berbagi dengan para penulis lain akan saya tularkan ke komunitas sastra di kampung halaman,” ujarnya.
Tidak hanya itu, dengan adanya kemajuan teknologi, kedepannya para emerging writers diharapkan dapat terus bersaing. Pasalnya, tingkat produktivitas dan kreativitas dalam persaingan ranah sastra Indonesia terus mengalami peningkatan.riz
Editor : Redaksi