SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Pasca terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat, fenomena Trump Effect disebut akan mempengaruhi banyak kondisi politik di berbagai belahan dunia. Bagaimana dengan kaitan Pilgub Jatim 2018?
Apakah sosok La Nyalla yang memiliki beberapa persamaan karakteristik dengan Donald Trump juga memiliki kemungkinan tinggi menjadi Gubernur Jatim yang akan datang? Berikut analisa para pengamat politik yang dirangkum oleh Surabaya Pagi, Kamis(7/12).
Pengamat politik asal Universitas Brawijaya Malang Faza Dhora Nailufar memandang bahwa La Nyalla akan mengalami beberapa kendala untuk memenangkan Pilgub Jatim. Sehingga, fenomena Trump Effect tidak akan memiliki dampak kepada probabilitas menang untuk Ketua Kadin Jatim tersebut.
"Sebab, ada banyak perbedaan antara Trump dan La Nyalla. Salah satu yang paling besar adalah perbedaan karakteristik pemilih di Jatim dengan di Amerika. Disini ketokohan masih menjadi pertimbangan penting bagi pemilih. Memang La nyalla terkenal dan punya massa, tapi Beliau belum cukup kuat untuk dikategorikan sebagai tokoh," jelas Dhora.
Kedekatan La Nyalla dengan beberapa Kyai, di sisi lain menurut Dhora juga perlu dianalisa lebih dalam terlebih dahulu. "Kiai juga harus diidentifikasi. Kiai yang mana, atau Kiai tersebut punya massa besar atau tidak. Kemudian, Kiai itu berpengaruh secara politik atau tidak. Karena ada Kiai yang walaupun Beliau populer, tapi tidak terlalu berpengaruh secara politis," jelasnya.
Selain itu, Dhora juga menjelaskan bahwa sejarah di balik kemenangan Trump juga memiliki perbedaan signifikan dengan kondisi yang dialami oleh La Nyalla. Sebagai informasi, Trump memenangkan Pilpres Amerika Serikat karena dampak dari skandal Bill Clinton yang mempengaruhi elektabilitas Hillary Clinton.
"Di Jatim, skandal yang ada saat ini itu justru menimpa La Nyalla sendiri kan. Gus Ipul ataupun Khofifah relatif bersih dari skandal. Hal lain yang menguntungkan Trump adalah kegagalan Partai Republik dalam menjaga soliditas. Di Jatim, partai-partai pengusung Gus Ipul dan Khofifah saya rasa akan menjaga soliditas karena ini berhubungan dengan 2019," tegas Dhora.
Terkait popularitas La Nyalla, menurut pakar komunikasi politik asal Unair Suko Widodo, langkah La Nyalla yang terus berkomitmen melakukan safari politik ke hampir seluruh wilayah di Jawa Timur beberapa waktu belakangan ini akan sangat berpengaruh terhadap meningkatnya popularitas La Nyalla. “Kalau soal elektabilitas, itu kan juga relatif. Tapi pada intinya, peluang La Nyalla saat ini dengan Gerindra dan porosnya sangat terbuka,” tegas Suko secara terpisah.
Hasil riset yang dilakukan oleh iPol Indonesia juga menunjukkan bahwa La Nyalla Mattalitti memuncaki daftar tokoh yang paling sering dibicarakan oleh kalangan warganet. Tim ahli senior iPol Indonesia, Maman Suherman mengatakan bahwa La Nyalla mampu mengungguli Gus Ipul dan Khofifah yang sering kali disebut sebagai Cagub potensial. Ia menjelaskan bahwa, berdasarkan riset yang mereka lakukan, Gus Ipul dan Khofifah secara berturut-turut berada di posisi 2 dan 3.
"La Nyalla memuncaki perolehan dengan prosentase 55.9 persen. Gus Ipul 51.3 persen. Terakhir, Khofifah 50.5 persen," jelas Maman.
Riset tersebut, menurut Maman dilakukan dengan berdasarkan postingan yang dilakukan oleh warganet dari kalangan muda. "Kami fokuskan kepada mereka yang berusia 18-35 tahun," katanya.
Sementara itu, ketika ditemui beberapa waktu yang lalu, La Nyalla mengatakan bahwa dirinya masih yakin bahwa akan mendapatkan tiket dari Gerindra. Bahkan, La Nyalla juga optimis bakal memenangkan Pilgub Jatim.
"Saya sudah sangat dekat dengan DPP Gerindra. Sudah sangat yakin saya. Bahkan, ditawari jadi Cawagub Khofifah pun saya enggan. Pokoknya saya yakin menang," pungkas La Nyalla. ifw
Editor : Redaksi