SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Hasil riset yang dilakukan oleh iPol Indonesia mencatat, bonus demografi Jawa Timur adalah 43,97�ri total penduduk yang mencapai 38,85 juta jiwa. Menurut Direktur iPol Indonesia Petrus Hariyanto, artinya ada sekitar 17,1 juta kelompok usia produktif yang masuk kategori pemilih rasional. Dari Jumlah tersebut, Generasi Y atau yang biasa disebut milenial mencapai 37,68 persen jumlah penduduk adalah kaum milenial
"Jumlahnya mencapai 14.506.800. Sebutan milenial merujuk pada individu yang lahir pada tahun 1981 – 1994. Mereka ini masuk dalam kategori pemilih rasional," kata Petrus.
Secara umum, Petrus menjelaskan bahwa dengan jumlah yang signifikan, generasi ini menjadi target kampanye kandidat dalam penyampaian pesan. "Karakteristik pemilih milenial antara lain lebih percaya user generated content (UGC) artinya konten yang di publish oleh timses, relawan kandidat melalui media massa tidak serta merta mempengaruhi keputusan memilih," jelasnya.
Sebagai pemilih rasional, menurut Petrus kelompok milenial cenderung lebih cerdas dengan melakukan analisa dengan berdasarkan pertimbangan komentar publik. Mereka bersosialisasi secara word of mouth (getok tular), dalam bersosialisasi membicarakan Pilgub Jatim 2018.
"Mereka cenderung kritis terhadap kandidat, dan langsung menganalisa rekam jejak kandidat. Dan menariknya, semua ini dilakukan lewat akses mobile internet” ujar Petrus.
Lebih lanjut, Petrus memaparkan bahwa saat ini, di Jawa Timur terdapat sekitar 13.000.000 pengguna facebook atau social media. "Dari data tersebut, rentang usia paling aktif adalah di usia 17-35 tahun. Generasi Y ini aktif memantau informasi melalui akun FB dan membicarakan kandidat ini secara intens serta membandingkan apa saja yang dilakukan kandidat termasuk rekam jejak prestasi," pungkasnya.
Berdasarkan hal tersebut, Dekan Fisib Universitas Trunojoyo Madura Surokim Abdussalam memandang bahwa jumlah pemilih pemula saat ini juga sangat signifikan. “Jumlah pemilih pemula, untuk Jawa Timur saja misalnya, mencapai 7 juta. Dengan jumlah sedemikian banyaknya, mereka ini bisa menyumbang 18-22 persen suara di Pilkada nanti. Jumlah segitu itu berharga dalam situasi kompetisi yang ketat,” kata Rokim, sapaan akrab Surokim.
Karakteristik pemilih pemula tersebut, menurut Rokim, sesungguhnya sangat rasional. “Mereka bukan tipikal pemilih yang bisa dipaksa-paksa dan dimobilisasi. Mereka lebih butuh sentuhan personal melalui media sosial dan komunikasi intrapersonal. Mereka ini juga relatif independen dalam pengambilan keputusan,” jelasnya.
“Yang Rumit itu, pilihan mereka cenderung cepat berubah. Butuh tenaga ekstra untuk memelihara dukungan dari mereka. Referensi utama yang mereka gunakan ini adalah media sosial. Khususnya instagram, google, dan youtube,” tambah Rokim.
Berdasarkan fenomena tersebut, Sekretaris DPW PKB Jawa Timur Badrud Tamam mengatakan bahwa pola kampanye yang menyentuh hati para pemilih langsung merupakan metode yang paling tepat untuk digunakan saat ini. Kepercayaan, menurut Badrud masih mampu mengalahkan tawaran uang di mata pemilih.
"Karena sekali rakyat percaya dengan kinerja kita, maka suara mereka tidak akan bisa dibeli berapa pun. Berlaku juga sebaliknya. Saya masih percaya hal tersebut. Di lagu kan juga sudah ada itu yang "sentuhlah dia tepat di jantung hatinya". Itu juga berdasarkan pengalaman saya maju di dua periode Anggota DPRD dengan pola tersebut. Itu karena saya tidak ingin mencederai makna suara rakyat dan juga saya tidak punya modal yang sangat besar kalau harus beli suara," kata Badrud, secara terpisah.
Di sisi lain, Badrud yang tengah mempersiapkan diri untuk maju dalam Pilbup Pamekasan itu juga menekankan bahwa para pemilih saat ini sudah cerdas. Mereka mampu membaca niat dari para tokoh yang maju dalam kaitan kontestasi mencari Kepala Daerah.
"Kalau saya, atau kami dengan rekan-rekan di PKB lainnya, maju sebagai Calon Kepala Daerah itu bukan dengan tujuan memperoleh jabatan. Jabatan itu hanya instrumen bagi kami. Hanya alat untuk mengabdi kepada masyarakat dan beribadah. Untuk mengentaskan kemiskinan dan menyejahterakan masyarakat," tegas Badrud. ifw
Editor : Redaksi