SURABAYAPAGI.com, Jakarta – Putri Presiden RI ke-2 Soeharto, Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto mengaku siap maju dalam bursa Ketua Umum (Ketum) Partai Golkar, menggantikan Setya Novanto yang terbelit kasus korupsi proyek e-KTP. Manuver istri Prabowo Subianto ini langsung memicu spekulasi politik, bahwa keluarga Cendana (sebutan keluarga mendiang Soeharto) ingin kembali menguasai Golkar seperti masa jayanya di era Orde Baru (Orba). Ini berarti Titiek Soeharto akan head to head dengan Airlangga Hartarto yang disebut-sebut mendapat restu Presiden Jokowi. Saat ini, Titiek Soeharto tercatat anggota DPR di Fraksi Golkar. Sedang Airlangga menjabat Menteri Perindustrian. Menariknya, jika Titiek merupakan anak ke-4 mantan Presiden Soeharto. Sedang Airlangga adalah anak Hartarto Sastrosoenarto, mantan Menteri Perindustrian periode 1983-1993 yang berarti masih era Orba.
----------
Laporan : Ibnu F Wibowo – Joko Sutrisno, Editor: Ali Mahfud
----------
Wakil Ketua Dewan Kehormatan Partai Golkar Akbar Tandjung menyatakan tak khawatir rencana pencalonan Titiek Soeharto itu akan menimbulkan faksi baru. Menurut dia, penentuan ketua umum bakal diserahkan kepada forum musyawarah nasional luar biasa (Munaslub). “Itu semua (faksi) terjadi dalam organisasi Partai Golkar. Namun nanti akhirnya yang menentukan munas,” katanya di Hotel Manhattan, Casablanca, Jakarta Selatan, Minggu (10/12/2017).
Menurut dia, penentuan ketua umum harus melalui dinamika dan dukungan dari mayoritas pengurus daerah. Meski begitu, Akbar menegaskan Titiek adalah kader Golkar yang punya hak untuk mencalonkan diri, bahkan telah memenuhi syarat pengalaman untuk menjadi ketua umum.
Kursi kepemimpinan partai penguasa Orde Baru itu ramai dibicarakan setelah Setya Novanto (Setnov) ditahan KPK. Setnov dianggap mengatur proses pengadaan kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP), yang berujung pada kerugian negara Rp 2,3 triliun. Banyak pihak yang mendesak agar Golkar memilih ketua umum yang baru setelah Setya ditahan KPK.
Belakangan, nama Airlangga Hartarto muncul sebagai calon kuat pengganti Setnov di partai berlambang pohon beringin itu. Airlangga dikabarkan telah mengantongi dukungan 31 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) tingkat I. Selain Airlangga, kini nama Titiek Soeharto juga mencuat.
Akbar Tanjung belum mau berbicara soal kans Titiek Soeharto untuk mengambil alih dukungan pengurus daerah kepada Airlangga. “Nanti kita lihat pada waktunya apakah betul 34 DPD itu memberikan dukungan terhadap Airlangga,” ucapnya.
Sebelumnya, Titiek Soeharto mengaku akan turut serta dalam pemilihan calon Ketua Umum Partai Golkar. Alasannya, dia merasa prihatin dengan kondisi Partai Golkar saat ini. Apalagi setelah Setya Novanto, terjerat kasus e-KTP. "Sekarang kami merasa sangat prihatin, kok Golkarnya sudah kayak gini," kata Titiek di kediaman Presiden ke-2 RI Soeharto, Jalan Cendana, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu lalu.
Menurut Titiek, perlu langkah serius untuk mengeluarkan Partai Golkar dari masalah tersebut. Karena itu, ia memberanikan diri menjadi salah satu kandidat calon ketua umum untuk menggantikan Setnov. "Senang atau tidak senang, bahwa rakyat di bawah itu masih menginginkan Golkar kembali ke akarnya," ucap Titiek. Ia menegaskan yang dimaksud dengan akarnya adalah kembali ke Cendana, keluarga Pak Harto.
Saat ditemui di Bantul, Minggu (10/12), Titek kembali menyatakan kesiapannya maju sebagai ketum Golkar, "Insyaallah, Insyaallah, doanya dari teman-teman semuanya," ucap dia.
Mengenai rivalitas dengan Airlangga Hartarto, ia menepisnya. "Kok rival sih, gak rival. Kita kan sama-sama, kita satu kereta kok," tegasnya. Terkait dengan pertemuannya dengan sesepuh Golkar, Titiek menyatakan hal itu dilakukan karena prihatin dengan kondisi Golkar sehingga perlu meminta nasehat, pendapat, dan masukan dari para sesepuh.
Sikap Kader Muda
Majunya Trah Cendana sempat munculkan kekhawatiran Titiek akan membawa Golkar seperti era Orde Baru. Airlangga Hartanto pun angkat bicara. "Golkar itu sudah menjadi Partai Golkar pasca-reformasi. Jadi tentu Partai Golkar sekarang mengutamakan hal-hal sesudah reformasi dan Partai Golkar menjadi rujukan partai untuk menjalankan proses demokrasi tersebut," ujar Airlangga di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (10/12) kemarin.
Hal sama diungkapkan Ketua Gerakan Muda Partai Golkar (GMPG) Ahmad Doli Kurnia. Dengan munculnya Titiek dalam bursa calon ketum malah membuka ruang kader muda memelajari kebesaran kepemimpinan Soeharto. Dia menilai hal ini harus disambut positif. "Saya kira itu (majunya Titiek Soeharto, red) positif, karena kita begini, bangsa ini kita sebagai anak muda mesti belajar banyak dari kepemimpinan sebelumnya," ucap dia.
Kekhawatiran kembali ke masa lampau, kata Doli, tidak perlu dipusingkan. Sebab, dari segi zaman saja sudah berubah dan berbeda. Ia hanya melihat maksud Titiek adalah mengembalikan Golkar ke masa jayanya. "Semangatnya dalam mengembalikan Golkar seperti dulu masa jayanya. Tentu situasinya dulu dengan sekarang kan tidak bisa disamakan. Langkah atau program atau teknisnya tidak bisa disamakan. Eranya sudah berbeda," tandas politisi muda Partai Golkar ini.
Sementara itu, Ketua DPP Partai Golkar Happy Bone Zulkarnain mengingatkan Golkar telah menjelma menjadi partai modern. "Karena partai modern tentu tidak mengenal dinasti. Kita tidak mengenal istilah Golkar milik keluarga siapa," tandas Happy Bone.
Happy Bone tidak mempersoalkan rencana Titiek. Hanya saja, ia menegaskan Golkar adalah milik kader, bukan milik keluarga Cendana. "Dan kemudian ingin menjadi ketua umum ya harus dengan proses demokrasi. Proses itu bisa muncul di Munaslub," jelas dia. Ia menegaskan Titiek masih berada dalam semangat kebatinan masa lalu. Sementara, saat ini Golkar sudah berubah mengikuti perkembangan zaman.
Kans Menang
Menanggapi hal itu, Peneliti Ilmu Politik LIPI Siti Zuhro menilai Airlangga memiliki potensi lebih dibanding Titiek Soeharto. Menurut Siti, sosok Airlangga lebih diterima semua kalangan di partai berlambang pohon beringin itu. "(Titiek) memang tidak bisa disepelekan, tetapi dalam hal track record lebih kepada Pak Airlangga saat ini. Pak Airlangga juga bukan sosok yang menimbulkan polemik saat ini. lebih bisa diterima semua kubu," ujar Siti.
Siti berpendapat sosok Airlangga mampu membenahi permasalahan yang menimpa Partai Golkar sejak Setnov terjerat korupsi e-KTP. Siti menyebut kondisi Partai Golkar terancam jelang Pilkada Serentak 2018 dan Pileg-Pilpres 2019. "Golkar sekarang bukan terpuruk lagi, dalam keadaan terancam elektabilitasnya. Bagaimanapun juga kasus Setnov itu ternyata memberikan dampak yang dahsyat bagi institusi Golkar. Integritas dan kredibilitas partai menjadi satu masalah yang serius. Sosok Airlangga bisa membenahi itu," papar dia.
Pakar sosiologi politik asal Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Agus Mahfud Fauzi punya pandangan beda. Menurutnya, Titiek Soeharto hanya sebagai dummy belaka. Ia sengaja dimunculkan agar Calon Ketua Umum Golkar tidak hanya Airlangga. " Hanya saja, apabila Titiek mampu memanfaatkan momen tersebut, maka bola panas yang digulirkan akan dapat diolah dengan cantik dan memiliki hasil yang baik," ujar Agus kepada Surabaya Pagi, Minggu(10/12).
Agus pun memandang secara pengalaman Titiek juga sudah memiliki rekam jejak yang mumpuni. "Yang bersangkutan pernah menjadi pengurus di level DPP Partai Golkar. Itu sudah cukup untuk modal sosial awal," jelasnya.
Akan tetapi, di sisi lain, Agus memandang Titik perlu kerja yang sangat keras apabila ingin memenangkan konvensi tersebut. Sebab, menurut Agus, hingga saat ini pergerakan konsolidasi yang dilakukan oleh Titiek belum tampak secara jelas. "Karena meskipun Pak Harto berkuasa 32 tahun di Golkar dulu, apabila kondisi sekarang tidak dikonsolidasikan secara matang hingga di level daerah, maka bukan tidak mungkin justru malah akan gagal. Jadi, harus benar-benar serius untuk digarap," pungkas Agus. n
Editor : Redaksi