Survey SSC: Ada Pergeseran Makna Kampanye

surabayapagi.com
SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Kampanye di masa lampau selalu identik dengan orasi di lapangan terbuka dimana para orator dapat berteriak lantang serta berbusa-busa. Bagaimana dengan kondisi saat ini? Apakah ada perubahan dari sudut pandang masyarakat terkait lokasi kampanye yang tepat menurut mereka? Berdasarkan hasil survei yang dirilis oleh Surabaya Survey Centre (SSC) beberapa waktu yang lalu, saat ini masyarakat tidak lagi memandang bahwa kampanye harus dilakukan di lapangan terbuka. Riset tersebut menunjukkan bahwa tanah lapang atau pasar hanya menjadi tempat favorit dari 60.9 persen responden yang masuk pada kalangan baby boomers. Bagaimana dengan mereka kalangan generasi X dan generasi milenial? Survey SSC menunjukkan bahwa bagi 62.6 persen generasi X memandang bahwa gedung pertemuan dan kampus saat ini menarik untuk digunakan sebagai tempat kampanye. Sedangkan bagi generasi milenial, 68.3 responden memandang bahwa sebaiknya mall atau cafe lah yang menjadi lokasi kampanye. Survei tersebut dilakukan oleh Surabaya Survey Centre di 38 Kab/Kota di Jawa Timur pada kurun waktu 25 November-8 Desember 2017. Survei itu dilakukan dengan metode multistage random sampling dengan 940 responden. Tingkat kepercayaan dari hasil yang didapat sebesar 95 persen dengan margin of error 3.2 persen. Direktur Surabaya Survey Centre Mochtar W. Oetomo menjelaskan bahwa adanya pergeseran lokasi kampanye yang diharapkan oleh masyarakat tersebut dapat diartikan dengan adanya perkembangan terkait pemaknaan kampanye. Sentuhan-sentuhan personal saat ini mulai dianggap penting oleh masyarakat. "Jadi tidak harus hanya mendengar orasi yang berbusa atau bergerombol. Sapaan langsung melalui cangkrukan serta ngobrol bersama saat ini menjadi lebih bisa diterima oleh masyarakat," jelas Mochtar ketika ditemui, Selasa (26/12). "Munculnya mall dan cafe ini juga lebih memperkuat argumen tersebut. Ini berarti masyarakat saat ini sudah memandang kampanye dengan cara yang berbeda," lanjutnya. Terkait munculnya kampus sebagai tempat kampanye yang diharapkan, menurut Mochtar hal tersebut bisa dimaknai secara khusus. "Ini juga bentuk pergeseran kampanye. bisa dimaknai, para calon disini diharapkan untuk memaparkan visi dan misi serta programnya," jelasnya. "Dengan menggunakan kampus sebagai lokasi pemaparan visi dan misi, kan bisa langsung diuji juga oleh kalangan akademisi. Kalau talkshow di TV kan waktunya terbatas," pungkas Mochtar. ifw

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru