Surabaya, SURABAYAPAGI.com -Tidak latah seperti perusahaan lainnya yang mem-PHK karyawannya perusahaan property Crown Group milik Pengusaha asal Indonesia di Australia, Iwan Sunito mengalihkan PHK dengan memotong gaji karyawan sebesar 15% guna perputaran perusahaan tetap berjalan.
Meski demikian, ada timbal balik yang diberikan yakni, karyawan diberikan jatah libur tambahan sebanyak 9 hari selama
3 bulan. Selama libur, karyawannya diminta untuk mengembangkan diri.
“Di Crown Group kita berikan holiday leave 9 hari selama tiga bulan untuk karyawan. Tapi kita potong gaji 15%, that’s how mereka bisa membantu mengurangi beban perusahaan,” jelas Iwan dalam video conference bersama wartawan, Kamis (23/4/2020).
“9 hari ini kita minta untuk mereka belajar learning something new,” katanya.
Dia mengaku sempat tak tega memotong gaji para karyawannya, dia mengatakan stafnya melakukan pendekatan personal untuk membujuk karyawannya mau dipotong gajinya. Iwan mengatakan hal ini dilakukan demi menghindari PHK.
“Yang susah kalau kita bicara soal pay cut ke mereka, itu untuk jelaskan dampaknya kita lakukan pendekatan personal. Jadi kita tetap mau keep mereka meski gajinya dipotong daripada kita buat tambahan orang yang kena PHK,” kata Iwan.
Terpisah
Pengembang hunian di Australia, Crown Group merambah pasar AS, untuk mengembangkan proyek mixed-use kondominium dan hotel senilai Rp 8 triliun. Proyek ini akan membawa sentuhan gaya hidup Australia ke distrik Pusat Kota LA yang sedang berkembang.
Crown Group sedang melanjutkan proses dengan Los Angeles City Hall untuk bangunan menara yang diusulkan. Bangunan ini berlokasi di sudut tenggara South Hill dan 11th street di kawasan distrik keuangan, mode dan South Park pada November 2019.
Menara setinggi 43 lantai yang mencolok ini memiliki desain inspirasional oleh Koichi Takada Architects yang terkenal di dunia dan untuk mendefinisikan ulang cakrawala di pusat kota LA. Ini akan mewujudkan filosofi Crown Group tentang perpaduan arsitektur yang diilhami dengan visi futuristik tentang cara hidup baru, untuk menjadi landmark yang ikonik bagi kota. Proyek di 1111 Hill Street ini diharapkan selesai pada 2024 mendatang.
Menara ini akan terdiri dari 319 unit kondominium dengan fasilitas ekslusif bagi para penghuninya di 2 lantai teratas dan desain fasad yang merujuk pohon-pohon redwood tua California yang berukuran raksasa. Kanopi jalan yang dramatis akan memayungi bangunan dan menggabungkan dinding hijau yang bernafas. Dirancang untuk meningkatkan kualitas udara kota dan memperkenalkan fitur lansekap unik di pusat kota.
Kantor perwakilan Crown Group di LA juga sedang dalam proses diskusi dengan beberapa merek hotel mewah untuk menggabungkan 160 unit kamar hotel di lantai yang lebih rendah, ditargetkan untuk menjadi salah satu tempat liburan yang paling diinginkan di tengah kota.
Melalui persrilisnya CEO Crown Group Iwan Sunito mengatakan, distrik Downtown yang berkembang di LA telah mengalami transformasi yang signifikan selama dekade terakhir. Terbukti ekspansi LA Live, Warner Music dan Spotify mendirikan kantor, pengecer utama seperti Apple, Vans dan Paul Smith juga meluncurkan toko-toko utama mereka. Beberapa restoran ikonik berekspansi ke kawasan tersebut dan banyak pembangunan perumahan, hotel dan komersial juga sedang berlangsung saat ini.
“Sulit untuk menemukan distrik pusat kota kosmopolitan besar di ambang perubahan yang signifikan. Kawasan downtown mengalami kebangkitan sekali dalam satu generasi yang dipicu oleh konvergensi teknologi, media, dan hiburan yang meningkat di LA. Ada banyak kegiatan investasi dan menarik untuk memikirkan seperti apa Downtown nanti dalam beberapa tahun ke depan. Ini nantinya akan menjadi tempat yang paling dicari untuk tinggal,” kata Iwan.
Sekilas tentang Iwan Sunito
Iwan Sunito merupakan pengusaha yang lahir di Surabaya. Ia menghabiskan masa kecilnya di Pangkalan Bun, Kalimantan.
Siapa sangka pria yang dulu punya julukan si Anak Sungai dari Pangkalan Bun ini sering tak naik kelas.
Meski sering tak naik kelas, Iwan memiliki kelebihan menggambar. Kemampuan inilah yang kemudian mengantar Iwan mendirikan International Holdings Group pada tahun 1996 bersama rekan bisnisnya Paul Sathio.
Perusahan ini merupakan perusahaan properti raksasa yang berbasis di Sydney, Australia. Iwan merantau ke Australia se-
Jak remaja. Mengingat masa-masa sekolahnya yang berantakan, Iwan bertekad mengubah nasib di Australia. Di Australia ia pun mendapatkan gelar sarjana di teknik arsitektur dan gelar master di Construction Management, University of New South Wales.
Di tengah kesibukan kuliah, Iwan juga menyempatkan diri untuk menggarap proyek. Baginya saat itu proyek kecil juga tak apa, tak dibayar pun ia mau. Ia sadar betul kalau yang terpenting adalah mendapatkan pengalaman daripada sekadar masuk ruang kelas dan hanay mendengar teori.
Ia pun mencoba mengambil lompatan sendiri dengan langsung mencoba menggarap proyek kecil-kecilan terlebih
Dahulu. Berkat hal kecil itulah ia bisa sukses. Jul
Editor : Redaksi