Produksi Kunyit Asem, Pasutri di Jombang Raup Keuntungan Jutaan Rupiah

surabayapagi.com
SURABAYAPAGI.COM, Jombang - Jamu sari kunyit asem berguna untuk kesehatan tubuh kita, salah satunya untuk menjaga imunitas. Apalagi di tengah pandemi Covid-19 seperti ini, sangat baik apabila kita mengkonsumsi jamu tersebut, Minggu (26/4/2020). Di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, ada sepasang suami istri yang memproduksi jamu sari kunyit asem. Pasutri tersebut yaitu Sadjarno Widodo (50), dan Ummi Fitriah (43), warga Kelurahan Jombatan, Kecamatan Jombang. Di tengah pandemi Covid-19 saat ini, pasutri tersebut masih produktif memproduksi minuman kesehatan tersebut. Hingga saat ini, mereka mampu melayani pesanan sampai 300-400 botol minuman kunyit asem. Untuk proses pembuatannya, pasutri dua anak ini memproduksi di rumahnya sendiri. Bahan membuat sari kunyit asem yakni berupa kunyit, asam jawa, gula jawa dan sedikit gula pasir, serta air mineral. Seluruh bahan direbus di dalam panci selama 3-4 jam. Sardjono memaparkan, setelah air rebusan bahan-bahan itu terlihat kuning kecoklatan, sari kunyit asem bisa dipastikan matang atau siap disajikan. Selanjutnya dikemas dalam botol plastik dan diberi label. "Kunyit asem itu khasiatnya banyak, bisa untuk menjaga kebugaran tubuh di tengah pandemi Covid-19 seperti sekarang ini," paparnya, kepada jurnalis di rumahnya. Sadjarno mengungkapkan, usahanya menjual minuman kemasan kunyit asem di tengah wabah.Covid-19 ini tidak sepenuhnya terpengaruh. Bahkan bisa dikatakan produksinya meningkat dibanding sebelum wabah Covid-19. "Sebelumnya saya hanya produksi sekitar 100 - 200 botol dalam sehari. Saat ini, kami mampu melayani pelanggan sampai sekitar 300 - 400 botol minuman kunyit asem," ungkapnya. Sadjarno mengakui, ada beberapa sejumlah pusat oleh-oleh sekarang sudah tutup. Namun diluar pesanan semakin meningkat. Bahkan pesanan juga datang dari Yogyakarta, Purwakarta, Bali dan Riau. "Kalau keuntungan saat ini ya meningkat, sekitar Rp 2-3 juta. Dari sisi pendapatan kalau biasanya antara Rp 6-7 juta. Kalau sekarang ya bisa mencapai Rp 9-10 juta," pungkasnya.(suf)

Editor : Mariana Setiawati

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru