SURABAYAPAGI.com, Ponorogo - Desa Pijeran, Kecamatan Siman merupakan desa yang menarik, pasalnya saat panen raya tiba terdapat lima pedagang kopi berkeliling menjajakan dagangannya dengan cara dipikul. Namun saat pembayaran, si penjual kopi tidak mau menerima uang. Pembayarannya dilakukan dengan gabah atau padi hasil panen.
Salah satu pedagang kopi keliling, Suraji menjelaskan, sejak 10 tahun terakhir dia menggeluti usaha ini. "Ini awalnya usaha orang tua, terus saya generasi berikutnya," tutur Suraji, Minggu (14/3/2021).
Baca juga: Sempat Absen, Festival Reog Ponorogo Kembali Masuk Jajaran Unggul KEN 2026
Dagangan Suraji mulai dari kopi, teh, susu hingga jajanan tradisional seperti gandos, peyek, tahu, pisang. "Biasanya saya keliling mulai pukul 07.00 WIB sampai pukul 13.00 WIB," papar Suraji.
Suraji menambahkan, dia melakukan pekerjaan ini setahun sekali selama satu bulan saat panen raya. "Kalau panen gini biasanya full satu bulan saya dagang, tapi satu tahun sekali. Hanya saat panen padi," kata Suraji.
Sementara untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Suraji mengaku bekerja sebagai buruh tani. "Kalau nggak dagang ya buruh tani," imbuh Suraji.
Pantauan detikcom, Suraji saat menjajakan dagangannya lengkap dengan pikulan yang berisi dari tungku, kayu bakar hingga perlengkapan membuat minuman.
Baca juga: Jelang Ramadan, Harga Cabai Rawit di Ponorogo Melonjak Tembus Rp 78 Ribu per Kg
Dalam sehari, rata-rata ada 50 gelas yang ia jual. Penghasilannya ditentukan dari kebaikan hati si pemilik sawah. "Kalau yang dermawan biasanya kasih banyak, kalau yang pelit ya ngasih gabah sedikit," imbuh Suraji.
Saat disinggung kenapa tidak menerima uang sebagai alat pembayaran, menurut Suraji, dirinya hanya meneruskan tradisi. "Sehari kadang dapat 50 kilogram gabah," kata Suraji.
Disinggung soal kepeleset saat menjajakan dagangannya, Suraji mengaku sering. Beruntung meski kepeleset dia masih bisa menahan pikulan sehingga tidak langsung terguling.
Baca juga: Jembatan Bailey di Ponorogo Ambrol Tergerus Aliran Sungai, Akses Antardesa Terputus Total
"Sering kepeleset, tapi nggak sampai tumpah (terguling)," terang Suraji.
Sementara salah seorang pemilik lahan Kateno mengaku senang dengan tradisi seperti ini. Sebab, saat repot mengurusi hasil panen, dia pun tidak disibukkan dengan mencarikan jajanan bagi para buruh.
"Lumayan terbantu, ini kan tradisi. Upahnya ditukar sama padi," pungkas Kateno. Dsy10
Editor : Redaksi