Studi: Kebiasaan Tidur Bisa Jadi Prediktor Kematian Seseorang

surabayapagi.com

SURABAYAPAGI, Surabaya - Tinjauan studi terkini mengungkap kaitan antara kebiasaan tidur seseorang dengan kapan dia akan meninggal dunia. Menurut temuan tersebut, kebiasaan tidur bisa menjadi prediktor terkuat kematian.

Penelitian yang diterbitkan di jurnal Digital Medicine itu meninjau 12 ribu studi yang menyelidiki karakteristik individu saat tidur. Itu termasuk gerakan dagu dan kaki, pernapasan, serta d etak jantung.

Baca juga: Dinkes Madiun Temukan 13 Kasus Campak, Upaya Vaksinasi Terus Digencarkan per Awal 2026

Para ilmuwan mengembangkan sistem menggunakan pembelajaran mesin untuk memprediksi "usia tidur" seseorang. Mereka mengidentifikasi variasi tidur yang paling erat kaitannya dengan kematian.

Usia tidur, kata mereka, adalah perkiraan usia seseorang berdasarkan karakteristik tidur yang terkait dengan kesehatannya. Penelitian sebelumnya telah mendokumentasikan bahwa tidur adalah salah satu hal yang kerap terkendala banyak gangguan.

Tim peneliti memberikan contoh pasien dengan penyakit Parkinson. Dalam kebanyakan kasus pasien, cenderung mengalami gangguan tidur sekitar lima hingga 10 tahun sebelum gejala lain muncul.

Baca juga: Dipicu Faktor Musim Hujan, DKPP Kota Madiun Gencarkan Vaksinasi PMK ke Ternak Warga

Menilai fitur yang berbeda dari tidur individu, studi baru menemukan bahwa fragmentasi tidur adalah "prediktor terkuat" kematian. Fragmentasi tidur merupakan kondisi ketika seseorang terjaga sejenak beberapa kali di malam hari tanpa mengingatnya.

Menurut analisis para peneliti dalam studi, gangguan tidur semacam itu berbeda dengan kondisi ketika seseorang menyadari bahwa mereka terjaga. Kondisi pembanding biasa dilaporkan pada pengidap gangguan tidur seperti insomnia dan sleep apnea.

Menggunakan perbedaan antara usia kronologis seseorang dan usia tidurnya, para peneliti kemudian memprediksi kematian mereka. Itu berdasarkan asumsi bahwa usia tidur yang lebih tua merupakan indikator masalah kesehatan.

Baca juga: Lewat Program Jemput Bola, Pemkab Banyuwangi Komitmen Layani Kesehatan Lansia di Rumah

Usia tidur yang lebih tinggi sebagian besar tercermin dalam "peningkatan fragmentasi tidur" yang bisa dijadikan penanda kesehatan. Namun, para ilmuwan belum mengetahui bagaimana fragmentasi tidur bisa terkait dengan risiko kematian.

"Menentukan mengapa fragmentasi tidur sangat merugikan kesehatan adalah sesuatu yang kami rencanakan untuk dipelajari di masa depan," ujar salah satu peneliti, Emmanuel Mignot dari Stanford University, seperti dikutip dari laman Independent, Jumat (9/9/2022).

Editor : Mariana Setiawati

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru