SurabayaPagi, Surabaya - Anggota Komisi V DPR RI Bambang Haryo Soekartono (BHS) mengkritik tentang kebijakan pemerintah masalah penghapusan siaran analog yang digantikan oleh siaran digital.
Kebijakan penghapusan siaran analog yang dirasa memberatkan sebagian masyarakat tersebut dikarenakan tak semua masyarakat mampu membeli alat Set Top BOX (STB) untuk menyambungkan televiai ke siaran digital.
Kritik keras perihal kebijakan peralihan siaran digital terebut disampaikan BHS setelah melakukan blusukan ke kawasan pemukimam warga yang terletak di Pasar Pabean, Surabaya.
BHS menjelaskan bahwa kebijakan yang dikeluarkan pemerintah harusnya dilakukan secara bertahap, karena masih banyak warga Indonesia yang televisinya belum digital.
Sebagai bentuk protes dan kritik kepada pemerintah, BHS membagikan sejumlah STB ke warga tak mampu. Hal ini ia lakukan karena menurut nya penghapusan siaran analog secara penuh dinilainya mengebiri hak memperoleh informasi dan tak manusiawi.
"Jadi dengan adanya program digital praktis mereka (warga) tak bisa melihat televisi. Pemerintah harus tahu bahwa televisi ini adalah merupakan sarana informasi, sarana hiburan, sarana pendidikan bagi masyarakat. Jadi ini tak boleh diputus, jadi harusnya secara bertahap, separuh digital separuh analog," Ujar BHS di pasar Pabean Surabaya. Rabu (4/1/2023).
BHS mengimbau agar separuh siaran tv analog dikembalikan dan mendigitalisasikan siaran televisi secara bertahap. Karena dirinya melihat di beberapa RT ataupun RW masih banyak warga yang tak mampu membeli STB dan sekitar 70 persen diantaranya tak bisa menonton televisi. Padahal TV bisa menjadi alat sosialisasi dan edukasi program pemerintah.
"Jangan terus pemilik stasiun televisi diancam untuk dicabut ijinnya dan lain-lain, nggak boleh itu. Karena ini hak publik untuk bisa menikmati televisi," tegasnya.
"Padahal ibu-ibu ini hobinya (nonton) sinetron, begitu capek mereka tidur, sebelum tidur sekarang langsung tidur. Nanti banyak anak, kalau banyak anak program KB nggak berhasil, jadi makanya dikasih televisi supaya program KB berhasil, informasi banyak gempa banyak ini harus tahu masyrakat," tambahnya.
Pembagian STB oleh BHS ini disyukuri oleh salah satu warga di kampung kawasan pasar Pabean Surabaya. Salah satunya diucapkan Khoirul Anam karena semenjak final piala dunia 2022, dirinya bersama keluarganya di rumah tak bisa menonton televisi karena kebijakan siaran digital.
"Alhamdulilah bisa melihat televisi lagi, terus bisa buat hiburan," katanya.
Menurut Khoirul Anam, dia dan beberapa warga lainnya tak mendapat bantuan STB padahal dirinya memperoleh informasi ada pembagian STB gratis dari pemerintah.
"Nggak ada, cuman ini aja yang baru nyampai (bantuan dari BHS)," pungkasnya. Byb
Editor : Redaksi