Pertamina Bantah Adanya Kelangkaan Elpiji 3 Kg di Banyuwangi

surabayapagi.com
Foto ilustrasi. Foto: Pertamina.

SURABAYAPAGI.COM, Banyuwangi - Warga Kabupaten Banyuwangi diresahkan dengan langkanya ketersediaan gas elpiji subsidi 3 kilogram (kg) yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Bahkan, persoalan ini sudah dirasakan warga Banyuwangi sejak sebulan terakhir.

Namun, Pertamina dan asosiasi pengusaha ritel gas yang tergabung dalam Hiswana menyangkal adanya kelangkaan gas elpiji 3 kg. Menurut pihak pertamina, pendistribusian tabung gas melon masih normal dan sesuai dengan kuota yang ditentukan Dirjen Migas.

Baca juga: Pejabat Pertamina Digaji Rp 1,81 Miliar/Bulan, Korupsi Rp 285 Triliun

Banyuwangi mendapatkan 54.039 metrik ton gas epliji selama setahun atau setara 18.013.000 tabung gas elpiji 3 kg. Realisasi sampai Juni mencapai 28.313 metrik ton.

“Untuk penyaluran kita sesuai dengan kuota yang dikasih Dirjen Migas, sudah sesuai,” jelas Sales service pertamina Jember, Muhammat Rifail di Banyuwangi, Jum’at (21/7/2023).

Pihaknya menilai, kelangkaan di suatu daerah dipicu beberapa hal. Termasuk adanya peningkatan mobilisasi dan peningkatan pengunaan. Menurutnya, perlu dilihat kembali kondisi di daerah itu. Apakah di daerah tersebut terjadi peningkatan mobilisasi atau mungkin peningkatan orang yang makan dan minum.

Baca juga: Ratusan Pengemudi Becak Listrik Program Bantuan Prabowo Bakal Terima Pembinaan

“Dari Pertamina sudah memberikan sesuai dengan kuota yang ada,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, perwakilan Pokja Hiswana Migas Banyuwangi, Johan Sucipto mengatakan bahwa distribusi elpiji 3 kg seluruhnya normal. Seluruh yang diberikan Pertamina sudah distribusikan.

Johan mengungkapkan, pada awal tahun, pasar elpiji 3 kilogram sempat tidak menjanjikan. Namun, pada beberapa minggu terakhir memang permintaan agak meningkat.

Baca juga: Berkah Libur Isra Miraj 2026, Omzet UMKM di Banyuwangi Ikut Melonjak

Ia menyebut bahwa hal ini bisa disebabkan oleh berbagai hal seperti penggunaan gas 3 kg oleh orang yang tidak berhak dan adanya liburan panjang.

"Mungkin liburan, restoran pada saat liburan kan okupansinya tinggi," ungkap Johan. bny

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru