Tantangan Digital Dalam Transformasi Bisnis Nasabah Binaan PNM

surabayapagi.com
Global Network for Advances Management (GNAM), (Foto: Dokumentasi PNM).

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Sebagai upaya transformasi bisnis, Direktur Operasional, Digital dan Teknologi Informasi PNM Sunar Basuki memaparkan strategi digital untuk upaya tersebut di Global Network for Advances Management (GNAM).

Mengingat saat ini penduduk usia produktif di Indonesia yang cukup tinggi, dengan generasi yang identik dengan kebiasaan penggunaan teknologi digital. PNM melihat ini merupakan sebuah tantangan dalam upaya transformasi bisnis mengingat calon nasabah binaan PNM akan mulai bergeser kepada generasi yang terbiasa dengan dunia digital.

Baca juga: Pemkab Pamekasan Fasilitasi Program pinjaman Modal Usaha Bunga Rendah ke Pelaku UMKM

Sunar juga mengatakan bahwa nasabah binaan PNM ini berasal dari kelas ekonomi low income dengan kepemilikan smartphone yang belum merata.

"Sebagian besar nasabah Mekaar adalah generasi milenial yang sudah lebih maju memanfaatkan teknologi, jadi harus ada transformasi bisnis melalui digitalisasi. Apalagi kedepannya potential customer PNM adalah generasi Z yang lebih tech savy," paparnya dalam keterangan tertulis, Rabu (18/10/2023).

Baca juga: Tetap Eksis Diminati Pasar, Perajin Barongan Jaranan di Kota Blitar Raih Omzet Fantastis

Sunar mengatakan pihaknya berkomitmen memberikan literasi dan inklusi digital bagi nasabah yang belum melek digital. PNM diketahui bekerja sama melalui berbagai program dengan pihak ketiga dalam upaya tersebut.

Adapun ketua kelompok nasabah menjadi target utama literasi digital dari PNM. Nasabah diajarkan tentang pentingnya menggunakan media sosial dan e-commerce untuk mengembangkan usaha dan menjangkau pasar yang lebih luas.

Baca juga: Produk UMKM Olahan Keripik Jadi Penyumbang Ekspor Terbesar Kota Malang

Lebih lanjut, ia mengatakan PNM berkomitmen mendorong keberlanjutan usaha nasabah ultra mikro dengan memberikan modal finansial, intelektual, dan sosial. Mengingat PNM merupakan lembaga jasa keuangan non-bank yang hadir untuk memberikan pendampingan bagi masyarakat prasejahtera yang tidak bankable.

Menurutnya, modal finansial, intelektual, dan sosial adalah modal prioritas. Jadi, perihal finansial harus diikuti dengan kemampuan digital.
"Ketika literasi keuangan sudah dipahami oleh nasabah akan lebih mudah untuk mengarahkan mereka memiliki produk keuangan selanjutnya baru bergeser ke literasi digital agar usaha mereka naik kelas," pungkasnya. ac

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru