SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - "Yang saya hormati Ketum Gerindra Calon Presiden Pak Prabowo. Tenang saja Pak Prabowo, tenang saja Pak. Saya sudah ada di sini...."kata Gibran di Indonesia Arena GBK, Jakarta, Rabu (25/10/2023).
Ini pembukaan pidato pertamanya cawapres dari Koalisi Indonesia Maju (KIM), Gibran Rakabuming Raka.
Baca juga: Pergeseran Nilai Orang Berpuasa
Pidato pertama dengan tekanan "Tenang saja Pak. Saya sudah ada di sini...." bisa multi tafsir. Saya sendiri gunakan akal sehat, ada isyarat dari Gibran, dirinya telah datang di tempat pendaftaran capres dan cawapres 2024 di KPU.
Ya, bahasa lisan dengan isyarat juga merupakan alat bagi penggunanya untuk mengidentifikasi diri dan memperoleh informasi. Perbedaan mendasar antara bahasa lisan isyarat dan bahasa lisan biasa terletak pada modalitas atau sarana produksi dan persepsinya. Bahasa lisan diproduksi melalui alat ucap atau oral.
Usai pidato viral, ada sejumlah pengamat membuat bermacam tafsiran.
Saya yang usianya sebaya Gibran, menafsirkan pidatonya ke publik "ini lho aku dibutuhkan politisi tua".
Penafsiran saya ini menggunakan pendekatan komunikasi efektif. Komunikasi ini terjadi apabila pesan yang diberitahukan Gibran dapat diterima dengan baik atau sama oleh Prabowo, sehingga tidak terjadi salah persepsi. Artinya, Gibran sebagai komunikator dan Prabowo, sebagai komunikan sama-sama memiliki pengertian yang sama tentang suatu pesan "tenang saja Pak. Saya sudah ada di sini...." Mengapa Gibran, mengawali kalimat dengan kata "tenang saja". Interpretasi saya, agar Prabowo, tak gelisah.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tenang bisa diartikan dengan tidak gelisah, tidak rusuh, tidak kacau, tidak ribut, aman, dan tenteram (tentang perasaan hati keadaan)? Nah, apa ada kegelisahan dari Prabowo? Hanya Prabowo yang tahu.
***
Lima Tahun lalu, Ketum Gerindra Prabowo Subianto sempat curhat ke Ketum Partai Demokrat (PD) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Prabowo, butuh sosok cawapres yang dekat dengan kaum muda. Saat itu Gerindra menyatakan kandidat cawapres sudah mengerucut ke dua nama. Dua-duanya tokoh muda?
Hingga saat itu, koalisi Prabowo masih berembuk.
Prabowo menyampaikan itu menanggapi kemungkinannya berpasangan dengan putra sulung SBY yang juga Ketua Kogasma PD, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Alasannya, Ia mencari sosok yang berkapasitas dan harus bisa berkomunikasi dengan baik kepada kelompok anak muda. Dan jika memang harus bersama AHY maju di Pilpres 2019, dia tidak akan menolak.
Hal senada disampaikan anggota Badan Komunikasi Gerindra Andre Rosiade. Dia menyebut sang ketum mencari sosok cawapres yang mampu menjembataninya dengan pemilih milenial demi menambah pemilih.
"Pak Prabowo menyatakan bahwa salah satu prasyarat cawapres beliau adalah orang yang bisa menjembatani komunikasi Pak Prabowo dengan pemilih milenial. Ini menunjukkan bahwa orang yang mampu ini (menggaet suara milenial) yang akan dipilih oleh Pak Prabowo menjadi cawapres," kata Andre di Mandailing Cafe, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Minggu (5/8/2018).
Bakal capres Prabowo Subianto disebut telah tujuh kali melamar Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka untuk maju sebagai cawapresnya. Namun, pinangan itu sempat terhalang restu orang tua Gibran Rakabuming.
Hal itu disampaikan Ketua Majelis Pertimbangan PPP M Romahurmuziy atau Rommy.
Elite PPP ini akhirnya memberi selamat, karena Prabowo resmi mengumumkan Gibran sebagai cawapresnya pada Minggu (22/10/2023). Itu catatan jurnalistik saya.
***
Juga ada analis menarik dari Politik Universitas Bakrie, Muhammad Tri Andika.
Andika melihat dipilihnya Gibran lebih terkait dengan kebutuhan mendasar Prabowo dalam Pilpres 2024.
"Ada perasaan insecure Prabowo berdasarkan pengalamannya di Pemilu 2014 dan 2019," ujar Andika dalam analisisnya, Selasa (24/10/2023).
Andika menjelaskan Prabowo telah mencatatkan diri sebagai salah satu tokoh politik yang memiliki karier yang panjang dan pernah dan akan maju sebagai cawapres dan capres sebanyak empat kali, 2009, 2014, 2019, dan 2024.
Meski memiliki tren elektabilitas yang meningkat dari pemilu ke pemilu, namun "takdir" sebagai presiden belum kunjung tiba.
Baca juga: Ramadhan, Puasa, Mohon Ampunan Hingga Bikin Event
Alumni Universitas Indonesia itu menilai, dua kali pemilu yang kerap diiringi dengan gugatan ke MK, sangat menandakan Prabowo memiliki catatan serius tentang penyelenggaraan pemilu, khususnya pilpres, yang diduga kental dengan praktik kecurangan.
"Inilah yang saya lihat menjadi faktor penting di alam bawah sadarnya seorang Prabowo. Dari premis ini, tidak heran jika keamanan dan kenyamanan proses pemilu, menjadi faktor kunci kemenangan Prabowo di Pilpres 2024. Dan itu hanya bisa diperoleh oleh Prabowo, jika dukungan Presiden Jokowi tidak terbelah kepada siapapun kecuali kepada dirinya," ujar Andika.
Sehingga, lanjut dia, menjadikan Gibran sebagai cawapres, meski berisiko, adalah opsi yang paling realistis dan taktis bagi Prabowo. Harapannya untuk mengatasi trauma kecurangan dan manipulasi di setiap Pemilu yang pernah diikutinya.
Terlebih lagi, menurut Andika, peluang Prabowo untuk menang di Pilpres 2024 bisa dibilang lebih besar dibanding 2014 dan 2019.
Ini analisa seorang pengamat politik yang saya anggap reasonable.
***
Juga Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi mengatakan, Prabowo memiliki keunggulan yang tinggi pada basis pemilih generasi Z dan baby boomers.
Tak hanya itu, di kalangan milenial, Prabowo juga bersaing ketat dengan Ganjar Pranowo.
Burhanuddin mengatakan tingginya angka elektabilitas pada Prabowo memang tidak terlepas dari adanya isyarat dukungan yang diberikan Presiden Jokowi.
“Jadi, selama ini ada yang mengatakan Pak Prabowo elektabilitasnya meningkat karena Jokowi endorsement, kalau kita lihat memang ada buktinya,” ungkapnya.
Adanya isyarat dukungan dari Presiden Jokowi itu membuat elektabilitas Prabowo makin kokoh.
Hal itu terekam dalam survei teranyar yang dilakukan oleh Indikator Politik Indonesia dalam skema tiga nama di berbagai kelompok generasi.
Baca juga: Imlek di China, Mudik Terbalik, Fenomena Global
Pada simulasi pilihan tiga nama capres menurut kelompok generasi, Prabowo berhasil unggul dari Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan.
Temuan survei Indikator Politik Indonesia periode 20-24 Juni 2023 itu, kian mengukuhkan Prabowo sebagai capres yang paling banyak didukung oleh pemilih muda.
Di klaster usia kurang dari 26 tahun atau generasi z, Prabowo berhasil mendapatkan dukungan suara sebesar 40,5 persen. Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan dukungan kepada Ganjar yang hanya mencapai 35,5 persen serta Anies Baswedan yang mendapat suara sebesar 22,0 persen.
Kemudian, pada kelompok usia 27- 42 tahun atau milenial, Prabowo kembali menempati peringkat pertama dengan total elektabilitas 37,1 persen.
Diikuti oleh Ganjar yang mendapatkan suara sebesar 34,8 persen dan Anies Baswedan yang hanya meraup suara sebesar 21,9 persen.
Sementara itu, pada pemilih dengan kelompok usia 59-79 tahun atau baby boomers, Prabowo berhasil unggul dari Ganjar dan juga Anies. Prabowo berhasil mendapatkan suara sebesar 41,3 persen, lalu Ganjar yang menempati peringkat kedua dengan raihan suara mencapai 31,3 persen dan Anies yang hanya mampu meraup dukungan sebesar 14,2 persen.
Isyaratnya, Prabowo, unggul di semua generasi. Luar biasa!
Tentang kedekatan Prabowo dengan generasi z dan milenial juga tercermin dari transformasi sikapnya kepada semua kalangan. Kini Prabowo merupakan sosok yang santai dan memanfaatkan media sosial untuk lebih dekat dengan kalangan muda.
Pertanyaannya apakah indikator survei ini bisa dipegang sampai hari "H" pencoblosan? Saya pikir tak ada surveyor yang menggaransi.
Maklum, sampai tahun 2024, survei sudah menjadi sebuah ladang bisnis yang besar. Disinyalir pasar dari bisnis survei ini tidak lain karena ada ambisi dari politisi-politisi yang siap membayar mahal demi citra diri.
Tak sedikit akademisi yang berprasangka, surveyor itu pedagang, yang jual jasa konsultan sekaligus pengamat.
Akal sehat saya bilang hampir semua capres sadar kemenangannya akan ditentukan oleh suara rakyat, bukan banyaknya dukungan partai politik.
Demikian jugq pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Adi Prayitno. Ia menilai, banyaknya dukungan partai politik ke figur calon presiden (capres) tak menjamin kemenangan.
Menurut akal sehat saya, tidak ada korelasi banyaknya dukungan partai ke capres akan memenangkan pertarungan politik di pemilu. Ini karena yang memilih presiden itu bukan anggota dewan atau anggota partai yang jumlahnya sangat terbatas. Rakyat yang berdaulat. Disana ada rekam jejak, proses komunikasi, sosialisasikan program realistis, bangun klaster klaster tiap generasi sampai bagi-bagi angpau. (radityakhadaffi@gmail.com)
Editor : Moch Ilham