SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Selasa 17 Februari 2026 kemarin, Imlek di pecinan Kembang Jepun Surabaya, biasa biasa.
Tapi Kelenteng Boen Bio yang merupakan bangunan cagar budaya sejak 2012, ramai. Kelenteng ini dikenal karena perpaduan tiga budaya dalam ornamennya, yakni Belanda, China, dan Jawa. Gaya Belanda terlihat dari ubin kuno dengan ukiran Eropa. Unsur Jawa tampak pada gebyok di altar, sementara nuansa Tiongkok tercermin melalui kaligrafi.
Kelenteng ini didirikan pada 1883 dan direlokasi pada 1903 oleh reformis Kang You Wei ke kawasan Kapasan. Kelenteng Boen Bio, ramai saat perayaan Imlek kemarin.
Koresponden saya di Semarang, melaporkan Konsul Jenderal Tiongkok di Surabaya Mr Ye Su, malah ada di Semarang.
Ia membuat Huruf Fu, yang ditulisnya sendiri untuk dibagikan kepada pengunjung "Imlek Vaganza Harmoni Nusantara" di Kelenteng Sam Poo Kong, Semarang, Minggu (15/2/2026).
Konjen China di Surabaya saat di Semarang, memperhatikan betapa besarnya kecintaan masyarakat Indonesia terhadap perayaan tahun baru Imlek.
Menurut dia, kecintaan itu ditunjukkan dengan meriahnya perayaan Imlek di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Kelenteng Sam Poo Kong, Semarang.
Ia memuji saat ini perayaan Imlek di Indonesia juga sudah sampai pada level kenegaraan yang menunjukkan toleransi beragama yang tinggi. Ke depan ia berharap perayaan Imlek tersebut bisa menjadi simbol untuk terus mendorong hubungan bilateral di negara secara lebih baik.
Koresponden saya di Jakarta melaporkan Perayaan Imlek 2026 di Jakarta, khususnya pada 17 Februari, berpusat di kawasan Pecinan Glodok seperti Vihara Dharma Bhakti (Petak Sembilan) dan Toasebio, serta dimeriahkan festival di Bundaran HI. Pemkot DKI menyuguhkan atraksi barongsai dan laser show untuk merayakan keberagaman.
Sementara suasana Pecinan Glodok, Taman Sari, Jakarta Barat, mulai terasa berbeda sejak menjelang Tahun Baru Imlek 2026.
Rintik hujan yang turun perlahan menyatu dengan wangi dupa dan alunan musik khas Tionghoa, menciptakan atmosfer tenang dan magis di Vihara Dharma Jaya Toasebio, salah satu kelenteng tertua di kawasan tersebut.
Warna merah yang mendominasi ruangan terlihat semakin menyala, kontras dengan tembok-tembok tua yang menyimpan jejak sejarah panjang Glodok sebagai pusat komunitas Tionghoa di Jakarta.
Pantauan di lokasi Selasa, umat yang datang untuk beribadah terlihat hilir mudik memasuki area vihara.
***
Ada kabar mengejutkan dari China. Muncul tren mudik terbalik atau fǎnxiàng guònián, yang semakin populer. Apalagi pada perayaan Imlek 2026 di China. Menurut akun informasi.com, penjualan tiket perjalanan untuk mudik terbalik meningkat 84 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kota-kota besar seperti Beijing, Shanghai, dan Chengdu menjadi tujuan utama perjalanan selama libur Imlek.
Padahal, bertahun tahun, libur Tahun Baru China atau Imlek selalu identik dengan tradisi mudik masyarakat China ke kampung halaman. Anak muda yang bekerja di kota besar biasanya pulang untuk berkumpul dengan keluarga, mirip tradisi pulang kampung saat Idul Fitri di Indonesia.
Namun, perayaan Imlek 2026 menunjukkan perubahan pola perjalanan. Fenomena mudik terbalik menjadi pilihan baru di kalangan generasi muda. Alih-alih pulang ke kampung halaman, mereka justru mengajak orang tua datang ke kota tempat mereka bekerja.
Data dari platform perjalanan daring Meituan Travel menunjukkan penjualan tiket pesawat untuk mudik terbalik pada 2026 meningkat 84 persen dibandingkan 2025. Kota tujuan utama selama libur tahun baru China meliputi Beijing, Shanghai, dan Chengdu.
Peningkatan perjalanan juga terlihat pada kelompok usia lanjut. Data perjalanan udara menunjukkan jumlah penumpang berusia 60 tahun yang bepergian ke kota besar meningkat signifikan, antara lain ke Beijing sebesar 40 persen, Chengdu sebesar 31 persen, Tianjin sebesar 30 persen, dan Guangzhou sebesar 27 persen.
Sejumlah kota besar di China menyiapkan berbagai kegiatan untuk warga yang tidak mudik maupun keluarga yang melakukan mudik terbalik.
Di Shanghai, pemerintah kota menyelenggarakan lebih dari 2.000 kegiatan budaya dan wisata. Sementara itu, Beijing mengadakan festival lampion, pertunjukan budaya, serta bazar yang tersebar di 26 lokasi.
Topik mudik terbalik juga ramai dibahas di media sosial. Di platform Weibo, topik tersebut mencapai 2,2 juta tampilan sejak Senin (9/2). Pengguna Xiaohongshu turut membagikan pengalaman mereka mengajak orang tua berkunjung ke kota tempat bekerja.
Seorang pengguna Xiaohongshu dari Henan yang bekerja di Shenzhen menceritakan pengalamannya mengajak orang tua berkunjung ke kota perantauan sekaligus menghemat biaya perjalanan, akomodasi, dan konsumsi. Pengguna lain menyebut mudik terbalik lebih praktis karena tidak perlu berebut tiket, tidak kelelahan melakukan perjalanan jauh, dan dapat merayakan Imlek dengan lebih santai
Menurut siaran media pemerintah China, Wakil Direktur Pusat Penelitian Ekonomi di Central China Normal University, Hu Jiliang, tren mudik terbalik dapat mempererat hubungan antara orang tua dan anak yang tinggal di perantauan sekaligus meningkatkan aktivitas ekonomi di kota.
***
Mudik terbalik di Tiongkok adalah fenomena di mana generasi muda yang bekerja di kota-kota besar memilih untuk membawa orang tua mereka dari desa atau kota asal ke kota tempat mereka bekerja untuk merayakan Imlek (Tahun Baru Imlek) bersama.
Agenda ini menghindari kerumitan perjalanan Orang tua terutama kepadatan transportasi selama periode Chunyun.
Penjualan tiket untuk "mudik terbalik" selama Imlek 2026 dilaporkan meningkat signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, dengan kota-kota besar seperti Beijing, Shanghai, dan Chengdu menjadi tujuan utama.
Saat Tahun Baru Imlek 2026 dimulai pada tanggal 17 Februari, banyak komunitas di seluruh Asia dan luar negeri mempertahankan adat istiadat kuno yang diyakini membawa keberuntungan, keharmonisan, dan awal yang bermakna di tahun baru, mudik.
Data dari Meituan Travel mencatat penjualan tiket pesawat untuk mudik terbalik pada 2026 melonjak 84 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kota-kota besar seperti Beijing, Shanghai, dan Chengdu menjadi destinasi utama selama libur Imlek.
Sejumlah kota besar turut mengakomodasi tren ini dengan menggelar berbagai kegiatan. Shanghai menyiapkan lebih dari 2.000 agenda budaya dan wisata, sementara Beijing mengadakan festival lampion, pertunjukan budaya, hingga bazar di 26 lokasi.
Menurut Hu Jiliang dari Central China Normal University, mudik terbalik dapat mempererat hubungan orang tua dan anak di perantauan serta mendorong perputaran ekonomi di kota besar.
Meski tren mudik terbalik meningkat, tradisi mudik tetap menjadi bagian penting perayaan Imlek. Pada periode mudik Imlek 2026, diperkirakan terjadi 9,5 miliar perjalanan penumpang di China, termasuk 540 juta perjalanan kereta api dan 95 juta perjalanan udara.
Imlek di China, mudik terbalik ini fenomena global. Bisa jadi saat lebaran dua bulan lagi, anak anak muda di kota kota besar Indonesia tidak lagi mudik ke kampung. Tapi undang orang tua "mudik" ke kota, diajak rekreasi.
Selamat Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili. Sektor logam, energi, AI, telko, hingga CPO disebut paling prospektif pada tahun Kuda Api. Gong Ci Fat Cai. ([email protected])
Editor : Moch Ilham