SURABAYAPAGI.COM, Lamongan - Bukti Arkeologis mengungkap Flkakta Gajah Mada lahir di Gunung Ratu Ngimbang Lamongan Jawa Timur, dari Dewi Andogsari tidak terbantahkan, apalagi di Hunung Ratu merupakan situs yang memperlihatkan sintesis antara catatan sejarah resmi Majapahit, pakem cerita rakyat PB Wilwatikta Nusantara, dan bukti arkeologis lokal.
Catatan resmi seperti Nagarakretagama dan Pararaton menegaskan legitimasi politik Majapahit melalui pernikahan Raden Wijaya dengan putri Kertanegara (Raja Singosari), serta munculnya Gajah Mada sebagai Mahapatih besar.
Namun, legenda rakyat menambahkan dimensi emosional: Tribhuwaneswari, permaisuri utama, difitnah dan diasingkan ke Gunung Ratu saat sedang hamil dengan nama Dewi Andongsari. Kemudian ia melahirkan Gajah Mada.
"Narasi ini menjelaskan asal-usul Gajah Mada sebagai cucu Kertanegara, yang memberi legitimasi atas kiprahnya mendirikan catya untuk Kartanegara pada 1351," kata Rudi Hariono Pemerhati Budaya Nusantara asal Lamongan kepada surabayapagi.com, Kamis (19/2/2026).
Disebutkan olehnya, bukti fisik di Gunung Ratu, seperti makam purba, pecahan keramik, hamparan bata merah khas Majapahit, serta sumber Sendang Tujuh, memperkuat tradisi lisan masyarakat Lamongan.
Dengan demikian lanjutnya, Gunung Ratu bukan sekadar situs legenda, melainkan simpul sejarah yang memperlihatkan bagaimana prasasti, cerita rakyat, dan bukti arkeologis saling melengkapi.
Sintesis ini menjadikan narasi bahwa Gajah Mada adalah putra Tribhuwaneswari dan cucu Kertanegara semakin rasional dan masuk akal, sekaligus menegaskan Gunung Ratu sebagai Tunggak Wilwatikta dalam memahami kejayaan Majapahit.
Gunung Ratu bukan sekadar situs lokal yang dikaitkan dengan legenda rakyat. Ia adalah simpul sejarah yang memperlihatkan bagaimana catatan resmi Majapahit, pakem cerita rakyat PB Wilwatikta Nusantara, dan bukti arkeologis saling melengkapi. Dari sinilah muncul narasi yang lebih rasional tentang asal-usul Gajah Mada dan legitimasi politik Majapahit.
Catatan Resmi Majapahit
Dalam Nagarakretagama dan Pararaton, Raden Wijaya (1293–1309) disebut menikahi lima perempuan. Empat di antaranya adalah putri Raja Kertanegara dari Singhasari: Sri Tribhuwaneswari (permaisuri utama), Narendraduhita, Jayendradewi, dan Gayatri. Istri kelima adalah Dara Petak dari Dharmasraya, yang kemudian bergelar Indreswari setelah melahirkan Jayanegara (raja Majapahit 1309–1328).
Untuk tujuan legitimasi politik, Jayanegara disebut sebagai putra Tribhuwaneswari, meski secara biologis ia adalah putra Dara Petak. Gajah Mada kemudian muncul sebagai Mahapatih besar, mengucapkan Sumpah Palapa, dan pada tahun 1351 mendirikan catya untuk Kartanegara serta menorehkan prasasti mewakili tujuh Raja Majapahit.
"Fakta ini menimbulkan pertanyaan: mengapa seorang pejabat bisa melakukan tindakan yang biasanya hanya dilakukan oleh raja atau keturunan langsung?," bebernya.
Legenda Rakyat PB Wilwatikta Nusantara
Legenda rakyat memberi jawaban atas celah sejarah tersebut. Tribhuwaneswari dikisahkan difitnah dan diusir dari istana, lalu bersembunyi di Gunung Ratu dengan nama samaran Dewi Andongsari. Di sana ia melahirkan Gajah Mada, cucu Kartanegara dan putra Raden Wijaya, Raja Majapahit pertama.
Raden Wijaya dikisahkan menyesal, namun Tribhuwaneswari telah wafat di Gunung Ratu. Sejak itu, keluarga besar Singosari dan Majapahit yang tidak sepaham dengan Dara Petak menetap di Gunung Ratu, menjadikannya pemukiman bangsawan. Gajah Mada tumbuh besar, menjadi tokoh besar Majapahit, dan akhirnya kembali ke pangkuan ibunya di akhir hayatnya.
"Legenda ini memberi dimensi emosional sekaligus rasional: menjelaskan asal-usul Gajah Mada dan legitimasi darah bangsawan yang sulit dijelaskan hanya dengan catatan resmi," ungkapnya.
Bukti Fisik di Gunung Ratu Ngimbang
Tradisi lokal dan temuan arkeologis memperkuat narasi legenda:
Makam Ibunda Gajah Mada (Dewi Andongsari/Tribhuwaneswari)→ dipercaya sebagai tempat peristirahatan terakhir sang permaisuri.
Pecahan keramik dan gerabah → menunjukkan aktivitas pemukiman kuno.
Hamparan bata merah → ciri khas bangunan era Majapahit.
Sumber Sendang Tujuh → simbol kesakralan, memperkuat fungsi spiritual situs.
Makam umum purba seluas ±1,5 hektare → menandakan kawasan ini sebagai pusat pemukiman besar sejak masa awal Majapahit.
Sintesis Sejarah dan Legenda
Sejarah resmi memberi kerangka politik: legitimasi Jayanegara, peran Gajah Mada, dan catatan prasasti.
Legenda rakyat menjelaskan asal-usul Gajah Mada, hubungan darah dengan Kartanegara, serta drama intrik istana.
Bukti arkeologis di Gunung Ratu menjadi penghubung nyata antara narasi resmi dan tradisi lisan.
Kesimpulan
Gunung Ratu Ngimbang adalah tonggak sejarah Wilwatikta yang memperlihatkan bagaimana prasasti, cerita rakyat, dan bukti arkeologis saling melengkapi. Narasi bahwa Gajah Mada adalah putra Tribhuwaneswari (Dewi Andongsari) dan cucu Kartanegara menjadi masuk akal ketika dikaitkan dengan temuan fisik di Gunung Ratu.
Dengan demikian, Gunung Ratu bukan hanya situs legenda, melainkan simpul sejarah yang menegaskan identitas budaya Nusantara, sekaligus membuka ruang interpretasi baru tentang legitimasi politik Majapahit. jir
Editor : Redaksi