SURABAYAPAGI.com, Jombang - Pemilik penambangan pasir mekanik ilegal di aliran sungai Konto Desa Bugasur Kedaleman, Kecamatan Gudo, Jombang bisa diancam dengan pidana penjara selama 10 tahun.
Tidak hanya penjara maksimal 10 tahun, para cukong pemilik tambang pasir ilegal juga bakal dikenakan denda Rp 10 miliar. Hal ini diungkapkan aktivis lingkungan Ecoton (Ecological Observation and Wetlands Conservation), Amiruddin.
Baca juga: Kuota Capai 270 Siswa, Pemkab Jombang Terjun Langsung Verifikasi Door to Door Peserta Sekolah Rakyat
"Seharusnya pemerintah dan APH tidak ada alasan lagi untuk tidak melakukan penindakan (tambang pasir ilegal). Karena, di dalam Undang-undang (UU) Nomor 3 Tahun 2020 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, sudah jelas mengatur sanksi tersebut," katanya, Selasa (28/11/2023).
Sebabkan Kerusakan dan Tak Masuk Pendapatan Daerah
Baca juga: Jadi Magnet Studi Tiru, Produksi Cengkeh di Jombang Tembus 363 Ton per Tahun
Aktivitas penambangan pasir ilegal di sungai Konto, menurut pria yang akrab disapa Amir ini juga menyebabkan kerusakan lingkungan juga tidak ada pendapatan yang masuk ke daerah.
"Jadi apa untungnya, kalau tidak segera ditindak. Yang dirugikan nantinta juga masyarakat yang merasakan dampaknya, juga Pemda," tandas pria berambut gondrong ini.
Baca juga: Siap Beroperasi Juni 2026, Pemkab Jombang Targetkan Jaring Siswa SD Sekolah Rakyat
Diketahui, aktivitas penambangan pasir yang menggunakan mesin ponton di Desa Bugasur Kadaleman, Kecamatan Gudo, dikeluhkan warga sekitar. Selain mempertanyakan status izin, nereka juga resah dampak ke lingkungan. Terlebih, lokasi sedot pasir yang diduga ilegal ini berada di bibir Kali Konto Kediri, dan tidak jauh dari perkumiman warga. Sarep
Editor : Desy Ayu