Nissan Ogah Kembangkan Mesin ICE, Bakal Beralih ke Kendaraan Elektrik

surabayapagi.com
Mobil listrik Nissan Leaf bisa dicas dari rumah. SP/ JKT

SURABAYAPAGI.com, Jakarta - Nissan mengumumkan untuk tidak lagi berniat dan ogah mengembangkan mesin pembakaran dalam lagi. Berbeda dengan Toyota, Mazda, dan Subaru yang baru-baru ini mengumumkan akan bekerja sama untuk mengembangkan mesin pembakaran dalam atau ICE generasi berikutnya.

Ke depan sumber daya yang dimiliki Nissan bertujuan untuk mengembangkan kendaraan elektrik alias EV. "Masa depan kami adalah EV. Kami tidak berinvestasi pada powertrain baru untuk ICE, itu sudah pasti,” ujar Senior Vice-President dan Chief Planning Officer Nissan untuk Afrika, Timur Tengah, India, Eropa, dan Oseania (AMIEO), Francois Bailly, Rabu (05/06/2024).

Baca juga: Tembus Belasan Ribu SPK, Jaecoo Minta Maaf Imbas Inden Panjang J5 EV

Lebih lanjut, Bailly menyebutkan peralihan dari mobil bertenaga konvensional ke mobil listrik akan dilakukan melalui mobil hybrid lewat teknologi e-Power milik Nissan. Namun hanya karena Nissan tidak lagi berencana untuk mengembangkan mesin ICE bukan berarti peralihan ke model listrik terjadi dalam semalam. 

Nissan akan mengikuti Tesla, dan beberapa produsen mobil lain seperti Toyota, Hyundai, dan Ford, dalam mengadopsi teknologi ini.

Baca juga: Resmi Meluncur, Morbidelli T502X dan Benda LFC 700 Pro Umumkan Harga Spesial

Merek ini bertujuan untuk mengurangi biaya suku cadang mobil listrik sebesar 10�n memangkas bobotnya hingga 20%, demikian dilaporkan Automotive News.

Mobil listrik Nissan yang menggunakan gigacasting diperkirakan akan memasuki pasar sekitar tahun 2027, dengan teknik produksi baru yang diproyeksikan dapat menurunkan biaya keseluruhan sebesar 30%, menghemat sekitar $1 miliar dalam biaya pengembangan untuk lima model masa depan.

Baca juga: Yamaha Luncurkan Skuter Listrik ‘EC-06’ yang Mampu Tempuh 169 Km

Transisi ke kendaraan listrik membutuhkan modal besar. Retooling pabrik, membangun pabrik baru, berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan, dan membeli baterai yang mahal berarti sebagian besar mobil listrik baru yang saat ini dijual tidak memiliki kesetaraan harga dengan mobil bensin.

Nissan juga menyelaraskan portofolionya dengan persyaratan di tiap regional sehingga penghentian model ICE terjadi secara bertahap, sambil memperbarui mesin ICE agar memenuhi peraturan gas buang yang lebih ketat. jk-05/dsy

Editor : Desy Ayu

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru